18. Rasa Bahagia

64 14 0
                                        

Seorang laki-laki menatapku dingin, namun ada kehangatan dalam tatapannya. Aku ... belum melihat tatapannya yang seperti ini.

"E ... Elvan," gumamku takjub.

"Kamu kenapa lari-larian kayak gitu?" tanyanya dingin.

Apa ... ia khawatir padaku? Meski sikapnya dingin, namun terdapat kehangatan dalam hatinya. Aku bisa merasakannya. Bahasanya juga tak seperti biasanya padaku. Pertama kali, aku menatapnya sedekat dan sehangat ini. Aku tak bisa berhenti menatapnya.

"Arabelle?" Aku tersentak.

Wajah takjubku berubah. Benar, ia menganggapku Arabelle. Bukan Erina. Jadi seperti ini rasanya, diperhatikan oleh seseorang. Apalagi orang itu adalah Elvan. Tak apa, saat ini aku adalah Arabelle. Harapanku ... menjadi nyata.

"Kamu kenapa? Kok diem?" Elvan mengernyit.

"Ah, gak apa-apa. Kok kamu ada di sini?" Aku mengubah gaya bahasaku.

"Kemarin aku sudah bilang ke kamu. Kamu lupa?" tukasnya.

Sial, karena aku berubah menjadi Arabelle mendadak, aku tak tahu apa-apa tentang kehidupannya. Sekarang aku menjadi bingung untuk berbicara dengan orang-orang terdekat Arabelle.

"Oh, a ... aku lupa," ujarku cengengesan.

"Ya sudah, ayo ke kampus! Nanti telat." Ia tersenyum tipis, membuatku terperangah sekali lagi. Meski tipis, itu sangat mempesona.

"I ... Iya." Aku berjalan beriringan dengan Elvan.

Jantungku berdebar kencang. Rasa bahagia dan berbunga muncul dalam hati. Aku tersenyum seraya menatap Elvan di samping kananku. Bahkan aku berjalan dengannya sedekat ini. Tanpa merasa risih dengan keberadaanku.

Tanpa sadar aku telah berada di halaman rumah. Luas sekali, halamannya saja luas, apalagi bagian dalamnya? Pantas saja tadi aku terus berputar-putar, seperti labirin rumahnya.

Regretted Hope [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang