Aku kembali sendirian di rumah. Seperti biasa, aku selalu melihat bintang di balkon rumah. Aku masih memikirkan hal tadi. Barra dan perempuan itu, situasi itu seperti pernah kulihat.
"Tapi perempuan itu sepertinya ... tubuh asliku," ujarku menyimpulkan setelah berdebat dengan pikiran dan batin.
"Aku memang benci Barra, karena ia telah mengecewakanku. Tapi, kenapa sekarang aku tak suka kalau dia dekat dengan perempuan lain? Apalagi perempuan itu adalah tubuh asliku." Gaya bahasaku berubah, karena terbiasa menjadi Arabelle yang berbicara sopan.
Aku beranjak, menutup pintu balkon untuk masuk ke dalam yang langsung terhubung dengan kamar. Aku menyapu pandangan ke segala arah. Luas, rapi, sejuk, dan nyaman. Namun, aku merasa kesepian.
Aku duduk di meja belajar Arabelle. Menatap semua benda yang ada. Aku mengernyit tatkala melihat buku yang menarik perhatianku. Aku mengambilnya.
"Ini ... buku harian Arabelle?" gumamku.
Anehnya buku ini persis seperti buku harianku yang dibeli di toko barang antik terpencil itu. Ternyata dia memilikinya juga. Sampulnya seorang wanita yang bercermin, dengan kaki yang terikat tali dari segala arah, seperti punyaku.
"Dibaca boleh kali, ya?" Aku membuka lembaran pertama, tulisannya sangat rapi.
"Monoton. Kata yang sesuai dengan hidupku. Setiap hari hidupku tak ada bedanya, semua sama. Aku kesepian di dalam rumah yang megah ini. Hanya ditemani para asisten rumah tangga, itu pun hanya siang hari. Andai aku memiliki keluarga, mungkin hidupku penuh warna. Ayah dan Ibu telah meninggal saat aku masih kecil. Aku dirawat oleh Bi Ina yang sekarang menjadi asisten rumah tangga. Sekarang, ia juga telah punya anak, tak bisa menemaniku lagi."
Tulisan di halaman pertama ini, aku merasakannya. Hidupku sangat monoton dan kesepian sejak menjadi Arabelle. Bi Ina, perempuan paruh baya itu, bukan? Ternyata dia yang merawat Arabelle sedari kecil. Aku membuka halaman berikutnya.
"Aku hanya hidup seorang diri, ditemani kesuraman tanpa keluarga. Aku berjuang untuk hidup dengan kerja keras sendiri, yaitu dengan ber-akting. Tetapi, aku merasa bosan hidup dengan kamera. Lelah dengan drama. Aku ingin berhenti menjadi aktris, tetapi tak akan bisa. Menjadi aktris merupakan jalan satu-satunya untuk bertahan hidup. Apalagi ... aku tak bisa selamanya menjadi aktris. Maka dari itu, aku akan menikah dengan Elvan. Aku hanya terpaksa melakukannya, sesungguhnya aku tak menyukainya. Pernikahan ini bukan dari cinta, melainkan kontrak belaka."
Benar, Arabelle merasa tertekan dengan hidupnya. Ia terpaksa menikah dengan orang yang tak ia cintai, sama sepertiku yang dijodohkan dengan Barra. Tetapi seperti yang kudengar pembicaraan orang tua Elvan, sebenarnya mereka kasihan dengan Arabelle. Elvan juga mencintai Arabelle, aku juga bisa merasakan cintanya. Aku membuka halaman berikutnya.
"Diam-diam, aku selalu melihat Erina bersama orang tuanya, juga ... dengan Barra. Aku melihat dia bersama keluarga yang lengkap, juga bersama laki-laki yang aku kagumi. Aku ... sangat iri padanya. Aku ... sangat ingin hidup sebagai Erina!"
Aku tercengang, menatap kalimat terakhir yang Arabelle tulis di buku harian ini. Aku menggeleng tak percaya, menutup mulut saking terkejutnya.
"Jadi, Arabelle iri denganku? Arabelle sangat ingin hidup sebagai diriku? Ada apa ini? Aku sangat ingin berada di posisi Arabelle, sedangkan Arabelle sangat ingin berada di posisiku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Regretted Hope [Tamat]
Teen Fiction"Andai aku hidup seperti dia." Erina Fara Falisha, gadis egois yang bisa dikatakan bodoh. Kelakuannya membuat semua orang menjauhinya. Ia selalu memaksa, meski pada orang tua sendiri. Hingga ia merasa sendirian, tak ada yang peduli. Berbanding terba...
![Regretted Hope [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/279075979-64-k795041.jpg)