24. Kesepian Saat Semua Terkabulkan

57 12 0
                                        

Aku kelelahan setelah berbelanja seharian. Saat memilih baju pengantin pun banyak yang meminta foto, pipiku sakit karena terlalu sering tersenyum. Aku bukanlah orang yang murah senyum, melainkan cuek dengan banyak hal.

"Aduh, capek banget! Dari pagi sampe malem belom rebahan! Pagi-pagi udah depresi gara-gara kuliah, siang ampe malem gue depresi gara-gara emak Elvan rempong. Plus, ada yang minta foto!" gerutuku seorang diri, seraya merebahkan diri.

"Tidur sebentar bisa, 'kan?" Aku memejamkan mata, menikmati nikmatnya hidup sebagai Arabelle.

Angin sejuk menerpa wajahku, angin ini berasal dari pendingin ruangan tentunya. Semasa hidup sebagai Erina, aku hanya mengandalkan kipas angin. Sekarang, aku bisa menikmati pendingin ruangan. Enaknya jadi Arabelle. Tentu saja enak, dia jadi aktris.

Aku membuka mata dan duduk mendadak. Menyadari sesuatu yang baru saja terlintas di pikiranku. "Arabelle 'kan aktris! Terus, otomatis gue jadi aktris dong. Sedangkan gue gak bisa akting! Gimana nih? Aaaaa!!"

Aku mondar-mandir penuh gelisah. Tugas membuat drama saja tak dikerjakan, apalagi akting? Duh, aku berada di situasi yang rumit. Apa aku harus belajar akting? Tapi aku itu baru sebentar belajar, langsung rebahan. Maklum, anak rebahan.

"Apa gue harus kembali jadi Erina? Gue udah merasakan hidup sebagai Arabelle selama satu hari. Ini lebih dari cukup. Tapi Elvan ... bagaimana?" Aku menatap hamparan bintang dari jendela.

Aku menggeleng. "Gak! Gue berharap hidup jadi Arabelle semenjak dulu, masa' disia-siakan? Perihal akting itu mah kecil! Gue pasti bisa! Gue harus belajar, karena dari belajar, gue pasti bisa!" Aku mengepal tangan kananku ke atas.

"Anj*y, gue anak rebahan gini 'ngambis'." Aku tertawa seorang diri seperti orang dalam gangguan jiwa.

"Btw, gue laper. Makan dulu lah!" lanjutku setelah puas tertawa.

Aku keluar kamar, menuruni tangga menuju ruang makan. Sudah tersedia makanan di meja, para asisten itu sangat tahu pekerjaan mereka. Aku duduk, mengambil makanan dan menyuapkan sesendok makanan.

"Sepi bet rumah. Ini rumah apa hotel mangkrak?" gerutuku. Kuburan sudah biasa, tetapi hotel mangkrak jarang disebutkan. Kini, rumah ini seperti hotel mangkrak.

"Hmm, mungkin para asisten pulang semua. Sudah malem soalnya," gumamku.

Tak ada suara yang memasuki telinga. Hanya ada dentingan alat makan. Tak ada siapa pun, hanya ada aku sendiri di rumah sebesar ini. Rasanya, aku kesepian. Saat masih menjadi Erina, aku selalu makan bersama Ayah dan Ibu, sekarang aku sendirian.

"Rasanya sepi banget. Hampa tanpa Ayah dan Ibu. Biasanya kita berselisih karena aku tak bisa diandalkan. Bahkan, aku ingin hidup sendirian tanpa ada Ayah dan Ibu di sisiku kala itu. Tapi kenapa saat terwujudkan, aku merasa kesepian?" ujarku lirih.

Regretted Hope [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang