"Rin, pulang...." Barra mengajakku pulang dengan nada rendah.
"Gak! Lo ngapain ke sini? Pergi!" Aku mendorongnya berkali-kali. Hatiku sudah lebih baik. Tapi mengapa aku harus berhadapan lagi dengannya? Lukaku ... terbuka lagi.
"Rin, tolong jangan begini. Gue tau lo terluka, tapi gue minta maaf. Please, itu cuma salah paham, dengerin gue!" Nadanya semakin meninggi.
"Luka, tetaplah luka! Masih membekas meski sudah diobati! Lo tau? Lo udah menciptakan luka di masa lalu, sekarang lo menambah luka gue lagi!" Aku menunjuknya dengan gemetar, sesak kembali kurasakan. Raut wajahnya tercengang, aku tak tahu di dalam hatinya seperti apa.
"Lo itu, menambal luka dengan luka! Sekali lagi, gue gak mau dijodohkan dengan lo!" Ratu tersentak, ia tak tahu mengenai ini. Karena tadi belum kuceritakan.
Ratu menggenggam tanganku, berdiri berhadapan langsung dengan Barra. Aku dibelakangnya. "Bar, lo gak henti-hentinya ngecewain Erin. Mau lo tuh apa, sih? Bisa gak, sih, lo memahami perempuan? Sekarang, lo pergi dari sini, gue berhak ngusir lo karena ini rumah gue!"
Aku menunduk, tak bisa menatap Barra lagi. Mengingat masa lalu sudah sesak, sekarang menatap Barra saja membuat hatiku perih. Cukup, aku tak mau terluka lagi karena laki-laki ini. Ini ... menyakitkan.
Meski menunduk, di sudut mataku Barra menatap lirih padaku. Mulutnya terbuka, ingin mengatakan sesuatu.
"Itu ... salah paham, Erina."
Aku terbelalak. Barra tak mengeluarkan suara apa pun. Namun, suaranya terdengar jelas di telinga dan hatiku. Aku seperti ... mendengar batin Barra?
Barra melangkahkan kakinya dari kami, langkahnya sangat pelan seolah berat untuk berjalan. Aku masih tak mau melihatnya, membuang muka dengan tangan di dada. Aku masih digenggam Ratu, ia tak akan melepaskannya sampai aku tenang. Hangat, itu yang kurasakan.
"Dia sudah pergi. Rin, jelasin ke gue. Lo mau dijodohin sama Barra?" tanyanya rendah.
Aku masih menunduk, seolah kehabisan suara setelah lelah berbicara. "Iya," lirihku.
Ratu menghela napas seraya tersenyum. Ia mengusap bahuku dengan lembut. "Ya sudah, sekarang kita masuk dulu."
Aku kembali ke ruang tamu. Meminum air yang disuguhkan Ratu tadi. Mengapa hidupku sesulit ini? Seberat ini?
"Jelasin pelan-pelan, kenapa bisa dijodohin begini?" tanyanya.
Aku menghela napas terlebih dahulu. "Lo tau 'kan kalo gue sama Barra sahabatan dari kecil?" Ia mengangguk.
"Kita selalu bersama dalam menghabiskan waktu, bahkan sampai tahun lalu. Akhirnya, kita sama-sama punya rasa dan memutuskan menjalin hubungan. Sampai suatu ketika Barra ngecewain gue, dia punya cewek lain." Aku menangis, Ratu mengusap punggungku.
"Gu--Gue kecewa banget sama dia, Ratu. Kata-kata dia cuma manis di mulut, akhirnya dia punya cewek lain." Aku menangis sesegukkan, mengingat hari di mana aku memergoki Barra dengan wanita lain.
Flashback
Aku menjatuhkan dua es krim yang kubawa. Terbelalak dengan mulut menganga lebar. Air mata tergenang di pelupuk mata. Menetesi tanah yang kudengar tetesannya. Semua suara, tak terdengar lagi, hanya tangisan ... yang ada.
"Barra!" Tubuhku bergetar, diiringi detakkan jantung yang tak beraturan. Hati yang disinari cahaya, meredup, hatiku suram dan retak.
"E ... Erina! Ini salah paham, tolong dengerin gue. Di ... Dia cuma ...." Aku memotong penjelasan tak berartinya.
"Cukup! Semuanya udah jelas, lo gak tulus sama gue!" Aku berlari menjauh dari mereka. Laki-laki yang kucintai, dengan wanitanya.
Sepanjang jalan, air mata terus mengalir. Air mata kekecewaan. Jadi begini rasanya? Jadi begini rasa dikecewakan? Untuk pertama kalinya, aku dikecewakan oleh seseorang. Orang itu adalah ... kekasihku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Regretted Hope [Tamat]
Teen Fiction"Andai aku hidup seperti dia." Erina Fara Falisha, gadis egois yang bisa dikatakan bodoh. Kelakuannya membuat semua orang menjauhinya. Ia selalu memaksa, meski pada orang tua sendiri. Hingga ia merasa sendirian, tak ada yang peduli. Berbanding terba...
![Regretted Hope [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/279075979-64-k795041.jpg)