5. Sahabat Penghibur

111 16 1
                                        

Aku berlari sepanjang jalan. Banyak orang memperhatikanku, aku tak peduli. Yang penting, aku harus lari dari Barra.

"Hosh, hosh, hosh!" Aku terengah kelelahan, menatap rumah putih berlantai dua.

Ting Tong

Aku menekan bel rumah, tak lama seorang perempuan keluar dari pintu. Segera membukakan pagar untukku.

"Lo kenapa, Rin?" tanyanya heran.

"Ratu!" Aku memeluknya dengan tangis. Ratu keheranan sekaligus cemas.

"Eh! Lo kenapa? Tenang, tenang, tenang. Ayo masuk!" Ratu menuntunku ke dalam, mengusap punggungku agar lebih tenang.

Aku sesegukkan, menyeka air mata yang terus berjatuhan. Di ruang tamu, Ratu memberi minuman padaku, namun tak lantas meminumnya.

"Kenapa?" tanyanya lembut.

"Gu ... Gue ... Di ...." Aku tak bisa mengontrol tangisan, jadi gagap mendadak.

"Di ... Ditampol musuh lo? Siapa dia? Biar gua tendang balik! Siapa, Rin?" Aku menatap sinis Ratu, aku belum selesaikan perkataanku dia malah menyerocos!

"Diem, g*blok! Gu ... Gue belom selesai!" Aku memukulnya pelan.

"Ya maap! Lagian elu mendadak jadi Aziz gagap!" Ingin kujambak rambutnya sampai botak!

"Dengerin dulu cerita gue! Huhuhu!" Seraya tersedu aku berusaha bercerita.

"Oke, silakan cerita Nona!" tukasnya kencang.

"Ja ... Jadi, 'kan si Ba ... Barra sama orang tuanya. Huhuhu." Aku tak bisa menceritakannya, rasa sesak menghalangiku.

Ratu menautkan alisnya, serius mendengarkan ceritaku. "Terus?"

"Gue kaget dong. Lu tau 'kan kalo gue be--benci sama dia?" Ratu mengangguk.

"Terus ... Huaaaaaaaaaaaa!!!" Aku tak bisa melanjutkannya!

"Astoge! Pohon toge! Mak toge dan Pak toge! Lu kalo teriak yang ngotak dong, Panjul!" Ia malah menoyor kepalaku kuat. Lagian siapa juga Mak toge? Emaknya? Setahuku nama emaknya Sukinah, deh.

"Mak toge saha, Markonah? Bukannya emak lu Sukinah?" Ratu langsung melotot, menaikkan kaki kanannya berpura-pura ingin menendangku. Padahal aku sudah tahu itu hanyalah ancaman saja, eh ... bukan ancaman, sih.

"Jangan sok-sok'an mau nendang gue, deh! Gue tahu ka ...." Aku tercengang, ketika Ratu betulan menendang kakiku.

"Rasakan tendangan maut Mpok Inem-ku!" pekikku seraya menatap tajam Ratu.

Buk!

"Akh, sakit!" gerutunya setelah kutimpuk bantal sofa.

"Sukurin lo! Mau gue timpuk palu? Oh, atau tang? Eh, jangan, deh. Harusnya pake balok kayu!" Aku memegang dagu berpura-pura berpikir.

"Lama-lama lu jadi psikolog, deh!" ujarnya.

"Psikotes, t*lol!" umpatku, membetulkan ucapannya. Harusnya 'kan psikotes, bukan psikolog.

"Psikopat, g*blok!" ucapnya, aku baru sadar jika aku pun salah. Dasar otak lelet!

"Oiya, psikopat, ya! Ngomong dong dari bulan lalu!" ujarku.

Ratu memiringkan senyum sinis, tak lupa dengan matanya yang jutek. "Dahlah, nyeblak aja, yok! Gue tantangin lo untuk makan seblak level 20! Berani? Alah, paling gak berani."

"Kata siapa gak berani, hah?" ucapku garang.

"Kata gue! Lo budeg? Ihh, masih muda dah budeg. Apa perlu gue beli alat pembantu pendengaran?" Orang ini membuatku kesal saja dari tadi. Berbicara tak berkesudahan, lebih baik menjadi komentator saja daripada jadi temanku.

"Dahlah, ayo nyeblak! Gua terima tantangan lo!" Ratu tersentak.

"Hah? Beneran lo? Jangan ngadi-ngadi, deh!" ujarnya.

"Lo gimana, sih? Katanya mau nyeblak, ayo!" Aku beranjak, berjalan menuju pintu.

Aku memegang pipiku, air mataku mengering. Aku tersenyum, karena Ratu aku berhenti menangis. Ia menjadi penghibur terbaikku dengan tingkah konyolnya.

Aku membuka pintu, sepasang kaki menyambutku. Aku mendongak ke atas untuk melihat siapa yang bertamu. Aku terkesiap.

"Ba ... Barra?" gumamku.

Regretted Hope [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang