Aku masih mematung, melihat keakraban Ratu dengan gadis yang merupakan tubuh asliku. Rasa yang aneh muncul, tepatnya ... rasa sedih. Sahabat terbaikku, akrab dengan orang lain. Apa aku harus beritahu Ratu jika aku yang ada di tubuh Arabelle? Pasti ia tak percaya.
Dengan menunduk aku keluar kelas, menatap lantai sepanjang kaki melangkah. Aku memasuki kelas Arabelle, yang saat ini merupakan kelasku. Aku terkejut, melihat siapa saja yang menempati kelas ini. Aku ... langsung meneguk liur.
"Ini ... kelas dewa-dewi kepintaran?" gumamku.
Semuanya menunduk, menatap fokus pada buku yang mereka baca. Bahkan mereka tak mempedulikan apa pun yang ada di sekeliling mereka. Ya, julukan ini sangat melekat di kelas ini. Kurasa, aku akan depresi dan tremor jantung setelah kelas berakhir.
"Sial, gue lupa kalo Arabelle pinter!" gerutuku pelan.
Aku hanya diam di kursiku. Melirik ke sekeliling, tak ada yang mengajak ngobrol? Aku tak terbiasa seperti ini, mulutku rasanya gatal jika tak mengobrol.
Ternyata tak ada yang bersuara sedikit pun. Lama-lama kelas ini angker karena terlalu sunyi, percaya padaku! Ah, sudahlah! Nikmati saja kehidupan sebagai Arabelle.
Lama, aku mulai mengantuk karena diam saja sedari tadi. Aku berpangku tangan, memainkan penghapus dan pulpen. Penghapus ini kutusuk dengan pulpen, kegabutan hakiki.
"Mulainya jam berapa, sih?" gerutuku.
Aku merasa bahuku ditepuk dari belakang. Kepalaku menoleh ke belakang. Seorang laki-laki tersenyum tipis padaku.
"Ah, ada apa?" tanyaku.
"Maaf, boleh saya minta bukunya?" ucapnya.
Aku mengernyit. "Buku? Buku apaan, sih?"
Giliran dia yang mengernyit. "Kemarin saya mau pinjam bukumu."
Aku gelagapan dalam diam. Tersenyum masam karena tak tahu menahu dalam hal ini. Arabelle ini menyusahkanku saja!
"Oh, gue lupa bawa," dalihku cengengesan.
Raut wajahnya sedikit sedih. Namun, kembali tersenyum. "Baiklah, tidak apa-apa. Maaf mengganggumu."
"Iya, santai aja. Akhirnya ada yang ngajak ngobrol," ucapku.
"Kenapa memangnya?" tanyanya.
"Gue gabut soalnya. Dari tadi diem," jawabku.
"Biasanya kamu juga baca buku, kok sekarang tidak?" ujarnya membuatku bingung kembali.
"Emm, lagi bosan baca buku," ucapku jujur. Hobiku memang bukan membaca, lebih baik rebahan.
"Loh, bukannya waktu itu kamu bilang kalau teman terbaikmu buku?" ujarnya.
Aku kembali gelagapan. Benar-benar merepotkan! Dia ini siapa, sih? Membuatku bingung saja!
"Ahahaha, kapan gue bilang begitu?" Aku tertawa canggung.
"Arabelle, kau tak seperti biasanya. Mengapa gaya bahasamu berubah? Juga tak setenang biasanya." Raut wajahnya seperti mencurigaiku.
Tidak, aku lupa dengan gaya bahasa sehari-hariku. Mungkinkah Arabelle menggunakan bahasa baku setiap berbicara? Sedangkan aku menggunakan bahasa gaul dan tak baku. Aku takut jika ada yang mengetahui jika aku bukanlah Arabelle yang sesungguhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Regretted Hope [Tamat]
Teen Fiction"Andai aku hidup seperti dia." Erina Fara Falisha, gadis egois yang bisa dikatakan bodoh. Kelakuannya membuat semua orang menjauhinya. Ia selalu memaksa, meski pada orang tua sendiri. Hingga ia merasa sendirian, tak ada yang peduli. Berbanding terba...
![Regretted Hope [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/279075979-64-k795041.jpg)