"Aku Arabelle, bukan Erina," lanjutnya.
Tanganku masih menggenggamnya. Ia semakin mengeratkan genggamanku. Ia membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu.
"Dulu aku tertekan dengan kehidupanku, Rin. Aku lelah hidup dengan kamera setiap waktu. Aku juga tidak punya tempat untuk bersandar dan bercerita, tak punya keluarga. Begitu aku lihat kamu, aku iri karena kamu memiliki keluarga yang lengkap, yang bisa jadi sandaran. Sedangkan aku, aku hanya sendirian meski memiliki semuanya." Ia menjeda perkataannya, menahan sesak yang menyelimuti hatinya.
"Aku ingin berhenti jadi aktris, tapi tak bisa. Karena itu satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Aku juga terpaksa menikah ...." Aku memotongnya.
"Cukup! Gue tau, Bel. Gue tau rasanya kayak gimana. Karena gue udah merasakannya semenjak ada di posisi lo," potongku.
"Sebelumnya gue sangat berharap ada di posisi lo, tapi sekarang gue tau rasanya. Sampai gue merenung dan menyadari kalo gue salah dalam menghadapi hidup gue. Apa ... lo mikir hal yang sama?" tanyaku.
"Iya," ujarnya sendu.
"Gue ... juga udah baca buku harian lo," ucapku.
"Benarkah? Sebenarnya, aku juga sudah baca buku harianmu. Tunggu, dari mana kamu mendapat buku harian itu? Buku harian kita sama," ujarnya.
"Di toko deket rumah, yang terpencil gitu," jawabku menunjuk letak toko tersebut secara tak langsung.
"Apakah tokonya masih ada? Sepertinya buku harian kita ajaib." Ia sepemikiran denganku.
"Entahlah," gumamku.
"Kurasa ... kita sama-sama merasa tertekan dengan kehidupan masing-masing. Apa kau tahu, orang tuamu itu sangat sayang padamu. Meski sering marah-marah dan membandingkan orang lain, mereka ingin kamu rajin dan jadi anak kebanggaan," ujar Arabelle.
"Erina, sebenarnya kamu itu dikelilingi orang yang baik dan menyayangimu. Ayah, Ibu, Ratu, termasuk Barra. Sebelumnya aku minta maaf, sepertinya aku merupakan penyebab putusnya hubungan kalian." Ia menunduk.
Aku mengernyit. Dua tahun lalu itu ... aku memang putus dengan Barra. Aku kecewa padanya. Lalu, Arabelle mengakui jika ia merupakan penyebab putusnya hubungan kami?
"Maksudnya apa?" tanyaku.
"Setahun lalu, aku ada di taman ini juga. Aku sedang sedih karena di situlah aku berencana untuk menikah dengan Elvan. Kau tahu 'kan jika aku memutuskan menikah dengan Elvan karena terpaksa? Secara tak sengaja aku memeluk Barra. Kumohon, maafkan aku. Ini salahku, bukan salah Barra. Barra sangat menyayangimu," lanjutnya panjang.
Aku terperangah. Jadi, ini salah paham. Barra sungguh menyayangiku, sedangkan aku kecewa padanya selama dua tahun. Maafkan aku, Barra.
"Semenjak aku ada di posisimu, aku menjalin hubungan baik dengan Barra. Jadi, kalian sudah menjadi sepasang kekasih lagi," lanjut Arabelle dengan senyuman.
Aku menangis, menatap perempuan baik di hadapanku. Ia tak egois, ia mengembalikan hubunganku dengan Barra. Aku memeluknya erat dengan tangisan.
"Erina, renungi hal-hal yang kamu benci. Mungkin hal yang kamu benci itu, sesungguhnya hal yang sangat berarti bagimu. Jadilah anak kebanggaan orang tuamu juga, ya. Jangan jadi anak rebahan," ujarnya menenangkanku.
Aku melepaskan pelukanku. "Arabelle, apa kamu tak menyukai Elvan?"
Matanya menyiratkan kesedihan. "Entahlah. Aku terpaksa akan menikah dengannya."
"Kurasa, Elvan betulan menyayangimu, loh. Walaupun dingin, aku bisa merasakan kehangatan darinya. Kedua orang tuanya juga terlihat baik, tapi ... memangnya pernikahan ini berdasarkan kontrak?" ujarku.
"Begitulah," ujarnya singkat.
"Dari yang kulihat, orang tua Elvan itu baik. Elvan juga mencintaimu. Orang tuanya tahu jika Elvan mencintaimu, maka dari itu mereka berdalih pernikahan ini merupakan kontrak. Sesungguhnya mereka ingin menjadikanmu menantu. He-he," ujarku menghiburnya.
Dari yang kulihat memang seperti itu kenyataannya. Kontrak ini hanya alasan untuk mempersatukan Arabelle dan Elvan. Mereka juga merasa kasihan dengan Arabelle karena hidup seorang diri.
"Begitu?" Ia menangis seraya tersenyum.
"Ya, ternyata ... kita menemukan kebenaran yang membahagiakan." Kami berpelukan penuh haru.
Ternyata, dalam kehidupan kami terdapat kebahagiaan yang tersembunyi, yang tak kami ketahui. Sekarang, kami menemukannya.
"Tunggu, bagaimana cara kita bertukar jiwa lagi?" tanyaku.
"Ya ampun, lupa! Bagaimana, ya?" Arabelle sama terkejutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Regretted Hope [Tamat]
Novela Juvenil"Andai aku hidup seperti dia." Erina Fara Falisha, gadis egois yang bisa dikatakan bodoh. Kelakuannya membuat semua orang menjauhinya. Ia selalu memaksa, meski pada orang tua sendiri. Hingga ia merasa sendirian, tak ada yang peduli. Berbanding terba...
![Regretted Hope [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/279075979-64-k795041.jpg)