"Oke, aku beli ini." Aku menyerahkan koin senilai seribu. Ia menerimanya ramah.
Aku kembali pulang ke rumah. Melupakan Barra yang kutinggalkan di taman. Bagaimana caranya aku menghindari perjodohan ini? Apa aku harus kabur? Tapi kabur ke mana? Tak punya uang, nanti ujung-ujungnya jadi gelandangan. Nanti kalau mati kelaparan bagaimana?
"Kamu udah pulang? Barra mana?" Aku langsung menatap malas Ibu.
Mengapa aku langsung dihadapkan dengan pertanyaan itu? Aku hanya menghela napas dan bersabar, ini semua harus kupendam sendiri.
"Udah pulang!" Aku melengos masuk ke dalam kamar. Tempat terbaik dalam hidup. Aku merasakan rasa damai hanya di kamar ini.
Aku melempar buku harian yang baru kubeli ke meja belajar. Merebahkan tubuh, kembali melihat sepasang cicak. Rasanya seperti dejavu. Aku melihat sepasang cicak ini sebelum perjodohan berlangsung.
Aku menghela napas berat, seberat kenyataan hidup yang sangat tak diinginkan. Aku ingin lari dari kenyataan ini, tetapi tak tahu bagaimana caranya. Terjerembab di ruangan sempit tak diterangi cahaya. Ya, perumpamaannya seperti itu.
"Ayah sudah pulang?" Ibu menyambut Ayah di depan pintu rumah. Aku hanya mendengarnya, tanpa keluar kamar.
"Iya, Ayah 'kan memang jam tiga sore pulang," sahut Ayah.
"Iya, ya. Ibu gak liat jam soalnya," ujar Ibu.
"Erin mana? Di kamar pasti," tanya Ayah, dan itu benar.
"Iya, dia di kamar. Abis Ibu suruh beresin rumah, terus jalan sama Barra," jawab Ibu.
"Ohh, bagus kalo gitu." Ayah terdengar riang.
Aku kembali menghela napas. Semuanya mendukung perjodohan ini, hanya hatiku yang menolaknya. Apa aku harus menerimanya? Terima dan hidup dalam tekanan selamanya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Regretted Hope [Tamat]
Novela Juvenil"Andai aku hidup seperti dia." Erina Fara Falisha, gadis egois yang bisa dikatakan bodoh. Kelakuannya membuat semua orang menjauhinya. Ia selalu memaksa, meski pada orang tua sendiri. Hingga ia merasa sendirian, tak ada yang peduli. Berbanding terba...
![Regretted Hope [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/279075979-64-k795041.jpg)