25. Pernah dilihat

50 12 0
                                        

Setiap hari aku kuliah, setiap hari pula aku depresi karena pelajarannya. Keadaanku sangat kacau. Ini membuatku menyesal menjadi Arabelle sesaat, kemudian rasa sesal itu hilang saat Elvan menemuiku. Akan tetapi, aku merasa hidupku monoton setiap waktu. Semuanya sama saja. Pagi, aku disambut para asisten rumah tangga. Lalu, pergi kuliah. Setelah kelas selesai, Elvan mengantarku pulang. Karena sikapnya yang dingin, ia tak banyak berbicara padaku. Malam, aku sendirian ditemani kesuraman.

Kurasa, hidupku sama saja seperti dulu. Lalu, bagaimana dengan kehidupan Erina saat ini? Apa aku harus bertemu tubuh asliku itu? Aku tak tahu jiwa siapa yang menempatinya.

Aku menghela napas sembari melihat langit yang mendung di balkon rumah. Aku berharap ada yang menemaniku. Aku sangat kesepian dalam satu bulan ini. Ratu ... aku merindukanmu.

"Besok gue syuting. Apa gue bisa?" gumamku meragu.

***

"Oke, action!" Sutradara berteriak.

Seorang laki-laki yang merupakan lawan mainku melancarkan aktingnya. "Putri, gue suka sama lo. Apa ... lo mau jadi pacar gue?"

Aku bergeming canggung. Mataku tak menatap laki-laki ini karena terlalu malu. Ia sangat menghayati perannya, hingga membuatku malu setengah mati.

"A ... Apa?" gugupku.

Apa ini? Seketika pikiranku kosong. Semua dialog dan peran yang kuhafalkan hilang bak tersiram air. Aku ... harus jawab apa? Ayo ingatlah Erina! Apa yang kau lakukan?

"Cut! Ck, gimana ini? Arabelle, ada apa? Kenapa kamu jadi orang kebingungan?" Sutradara memekik.

"Ma ... Maaf. Aku tak fokus hari ini," dalihku.

"Oke, kita ulang lagi! Action!" Sutradara terlihat kesal.

Lawan mainku kembali berdialog. Saat giliranku, aku kembali gugup hingga terbata-bata. Kami mengambil video berkali-kali, hingga aku kelelahan. Setelah belasan kali, akhirnya aku bisa melakukannya. Meski tak maksimal.

"Sebenarnya ada apa, Arabelle? Kenapa bisa gini? Kamu kelelahan?" tanya lawan mainku.

"Sepertinya begitu," jawabku tak berbohong.

Hampir seharian aku syuting. Aku sangat kelelahan. Malam hari, aku pulang dengan mobilku, maksudku mobil Arabelle. Sopirnya yang mengemudikannya.

Saat melintasi taman, membuatku ingat dengan Barra. Sudah lama aku tak melihatnya setelah ia bersama dengan tubuh asliku.

Mobil berpapasan dengan laki-laki dan perempuan yang berpelukan. Aku terbelalak, menatap lekat mereka yang menjauh karena mobil terus berjalan. Perempuan itu sedang menangis, juga lelaki itu menenangkannya.

"Barra? Bersama tubuh asliku? Tetapi mengapa aku pernah melihat ini? Di mana?" gumamku lirih.

Hati terdalaku terasa panas. Rasa kecewa yang pernah kurasakan kembali menghampiri. Ya, aku ... pernah melihat keadaan ini.

"Saat Barra ... berpelukan dengan perempuan yang tak kukenal. Dejavu?"

Regretted Hope [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang