Pandanganku teralihkan dengan cermin yang ada di kananku. Wajah panikku berubah menjadi datar. Ti ... Tidak, wajahku berubah pucat.
"AAAAAAAAAAA!!!"
Aku terduduk, melihat diriku sendiri dari cermin. Mulutku terbuka lebar dan tanganku selalu menunjuk cermin dengan gemetaran.
Tok ... Tok ... Tok
"Non, Abel! Ada apa di dalam? Non, Abel?" Seseorang berteriak dari balik pintu. Aku hanya terperangah dengan pantulan diriku dalam cermin.
"Ke ... Kenapa muka gue jadi Arabelle? Kenapa bisa kayak gini?" Aku menyentuh wajahku.
"Abel? Tolong jawab, Non!" Aku yang masih terkejut merasa panik dengan semuanya.
Abel? Apakah maksudnya Arabelle? Kenapa wajahku berubah menjadi Arabelle? Mengapa aku bisa ada di kamar ini? Oke, tenang Erina. Tarik napas, dan buang perlahan.
"Si ... Siapa di luar?" Aku memberanikan diri untuk bersuara.
"Non, kenapa? Kok teriak? Non Abel terluka?" Ia terdengar panik, aku juga sama halnya. Aku harus jawab apa? Aku bingung.
"A ... Aku tak apa-apa. Ta ... Tadi ada cicak pake wig!" jawabku asal saking panik dan bingungnya.
"Pake wig? Yang bener, Non?" tanyanya bingung.
Aku meringis, memukul pelan mulutku yang sedikit bar-bar ini. Mungkin karena terlalu sering melihat cicak di atap kamarku, makanya selalu mengingat cicak.
"Itu ... maksudnya ada cicak lagi main ayunan! Eh ... Maksudnya ada cicak lagi nemplok di tembok sambil keramas!" Aku kembali tersentak karena jawaban ini. "G*blok!" gumamku pelan.
"Non, beneran gak apa-apa? Bibi khawatir jadinya. Coba buka kamarnya, Non!" ujarnya terdengar cemas.
Bagaimana ini? Sepertinya aku di kamar Arabelle. Juga mengapa wajahku berubah seperti Arabelle? Apa ini mimpi? Apa aku harus menampar wajahku dulu?
Plak!
"A*jir! Sakit!" ringisku.
Jadi, ini bukan mimpi? Aku semakin bingung, mengapa bisa menjadi seperti ini. Apa sebaiknya kubuka pintunya dulu?
Aku beranjak dari lantai, membuka perlahan pintu namun tak memperlihatkan wajahku terlebih dahulu. Aku harus mengintip orang di luar, jika dia orang jahat bagaimana?
Seorang wanita paruh baya menatapku cemas. "Non, gak apa-apa?" Aku menggeleng, masih tak berani untuk berbicara.
"Syukurlah. Oh iya, sekarang Non Abel kuliah, 'kan? Kok baru bangun? Gak biasanya." Ia makin membuatku bingung.
"Emm, Ibu ... siapa, ya?" tanyaku, membuatnya mengernyit.
"Loh, Non Abel gak kenal saya? Apa tadi Non Abel teriak karena jatuh? Terus kenapa Non Abel ngumpet-ngumpet gitu? Non Abel terluka sampai gak mau liatin ke Bibi? Coba Bibi liat, Non!" ujarnya.
Ia mendekatiku, pintu terbuka lebar secara tak sengaja hingga membuat seluruh tubuhku terlihat. Wanita ini melihatku dari atas sampai bawah, raut wajahnya terlihat lega setelahnya.
"Bibi kira Non Abel terluka," ujarnya.
Raut wajahku masih bingung. "Ini ... di rumah siapa? Saya siapa?"
Ia kembali mengernyit. "Ini rumah Non Abel. Kenapa tanya seperti itu?"
"O ... Oh, aku tadi belum sadar sepenuhnya dari tidur. Makanya masih bingung. Aku Arabelle, ya?" ujarku berdalih agar tak dicurigai.
"I ... Iya, Non," jawabnya.
"Ibu siapa?" tanyaku.
"Bi ... Ina," jawabnya terlihat bingung.
Aku mengangguk. Berarti sekarang aku ada di rumah Arabelle. Wanita ini ... asisten rumah tangga sepertinya. Dia juga memanggilku 'Abel'. Wajahku juga berubah menjadi Arabelle. Jadi, apa jiwaku ... berada di tubuh Arabelle? Lalu, bagaimana dengan tubuh asliku? Apakah aku ... berpindah jiwa?
KAMU SEDANG MEMBACA
Regretted Hope [Tamat]
Novela Juvenil"Andai aku hidup seperti dia." Erina Fara Falisha, gadis egois yang bisa dikatakan bodoh. Kelakuannya membuat semua orang menjauhinya. Ia selalu memaksa, meski pada orang tua sendiri. Hingga ia merasa sendirian, tak ada yang peduli. Berbanding terba...
![Regretted Hope [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/279075979-64-k795041.jpg)