22. Pernikahan?

70 13 0
                                        

"Arabelle? Kamu sudah selesai kelas?" Bahuku ditepuk.

"Oh, iya aku sudah selesai," jawabku pada Elvan.

"Kamu mau makan dulu? Atau langsung pulang? Aku antarkan," ujar Elvan dibarengi senyuman.

Sungguh, itu mampu meluluhkan hatiku. Senyum manis yang tak pernah kulihat di hari-hari sebelumnya. Aku bergeming, melihat wajahnya yang seputih susu.

"Arabelle?" Ia mengibaskan tangannya di depan wajahku. Membuatku tersentak dari lamunan.

"Ah! Lebih baik pulang," ujarku spontan.

"Oke, ayo pulang!" ajaknya seraya menarikku.

Aku menatap genggamannya padaku. Rasanya senang sekali, rasa depresi sebelumnya hilang seketika. Aku tersenyum, mendongak ke arah Elvan yang menatap lurus ke depan.

***

"Hari ini kamu berbeda, ada apa?" tanya Elvan seraya menyetir mobil.

"Berbeda apanya?" tanyaku balik.

"Sering senyum," jawabnya.

Aku mengernyit. Hari ini aku memang senang berada di dekat Elvan, karena aku mencintainya. Tetapi, apakah Arabelle selalu murung setiap bersama Elvan sebelumnya? Apakah itu sebabnya Elvan berkata hari ini aku berbeda?

"Bel, kamu tahu kalau pernikahan kita sudah dekat, 'kan?" Aku terbelalak mendengar perkataan Elvan.

"Apa? Pernikahan kita?" sentakku.

"Iya, kamu lupa?" ujarnya mengernyit.

"Oh, aku inget kok," dalihku.

Pernikahan? Apakah Elvan dan Arabelle akan menikah? Jika ini terjadi padaku, apa tidak apa-apa? Aku Erina, bukan Arabelle. Tunggu, apa aku bisa kembali ke tubuh asliku? Bagaimana jika tidak bisa? Tetapi, aku memang mencintai Elvan, kurasa ini tak apa-apa.

"Baiklah, kita sampai," ujar Elvan.

Aku memasuki rumah Arabelle yang menjadi rumahku untuk saat ini. Elvan juga masuk bersamaku. Di ruang tamu, aku melihat dua orang yang duduk di sofa. Mereka tersenyum saat menyadari kehadiran kami.

"Arabelle, Elvan." Mereka beranjak.

"Maaf, Bapak dan Ibu siapa?" tanyaku heran.

Mereka berdua mengernyit, begitu pula dengan Elvan. Seolah merasa aneh saat aku melemparkan pertanyaan tadi.

"Arabelle? Kamu tak mengenal kami?" tanya mereka berdua.

Aku mengernyit dalam. Sungguh aku tak mengenal mereka berdua. Aku menatap mereka berdua dan Elvan bergantian setelah menyadari sesuatu. Wajah Bapak ini mirip dengan Elvan. Apa jangan-jangan mereka ....

"Kami orang tua Elvan, Arabelle." Aku terkejut.

Regretted Hope [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang