14. Tulis

60 15 0
                                        

Aku bermain ponsel di ruang keluarga. Duduk di sofa dengan camilan. Televisi tetap menyala meski tak kutonton, kebiasaan burukku.

Ayah duduk di sofa, tak jauh dariku. Disusul Ibu dari dapur. Mereka menonton televisi yang menampilkan berita-berita tentang selebriti. Berita yang sangat disukai para Ibu-Ibu. Ayah hanya ikut menonton. Pasti ia takut jika saluran televisinya diganti, Ibu akan marah. Inilah Ibu, penguasa remot televisi.

"Arabelle Citriani, siapa yang tak kenal aktris muda berbakat ini? Selain cantik, ia pandai dalam ber-akting dan juga berprestasi." Acara itu memberitakan seseorang yang sangat membuatku iri.

"Duh, masih muda udah jadi orang, ya. Pasti bangga banget orang tuanya, tapi orang tua dia udah meninggal." Ibu mengomentari acaranya. Arabelle sudah jadi orang? Lah, memangnya dia masih menjadi monyet? Bahasa Ibu agak unik, ya.

"Tuh, Rin! Dia selalu kerja keras, padahal masih muda. Masa depannya cerah, bisa buat bangga. Kamu, tiap hari main hape aja. Contoh Arabelle dong." Wajahku mendatar, sudah kuduga arah pembicaraannya akan seperti ini. Membandingkan anak sendiri dengan orang lain.

"Kampus kamu barengan sama Arabelle, 'kan?" tanya Ayah.

"He'em," jawabku tanpa membuka mulut.

"Contohin cara belajar dan sikap dia, Rin," lanjut Ayah.

Aku menyingkirkan ponselku di paha sementara. Menatap Ayah dan Ibu sengit. Mengapa ... tiada hari selain tekanan?

"Setiap anak itu beda-beda, setiap anak punya potensi yang berbeda-beda. Kenapa Ayah dan Ibu menuntut Erin untuk selalu bisa segalanya? Erin gak bisa jadi dia! Arabelle biarlah Arabelle! Erin tetaplah Erin!" ujarku, seraya menunjuk wanita itu di televisi.

"Kami gak nuntut kamu jadi dia, tapi kami mau kamu jadi pekerja keras! Gak males-malesan. Biar kamu gak bergantung sama orang tua. Gimana kalo Ayah dan Ibu sudah gak ada? Pernahkah kamu berpikir kayak gitu?" Aku merekatkan gigiku. Selalu saja begini, tak ada yang memahamiku. Aku ... semakin benci pada Arabelle!

"Memang, gak ada yang memahami Erin!" Aku memekik, berlari ke dalam kamar dan mengunci diri.

Hatiku seperti dipenuhi kebencian. Mengepalkan tangan dan memejamkan mata. Bahuku turun naik, berusaha mengendalikan emosi agar tak meledak-ledak.

Tes ... Tes ... Tes

Selalu seperti ini. Aku selalu menangis setelah dibentak. Aku selalu menangis setelah merasakan tekanan. Aku selalu menangis, ketika dikelilingi orang yang menekanku.

"Akh!" Aku memekik. Menangis di sudut kamar, membenamkan wajah di atas tangan.

Biarlah setiap malam seperti ini. Monoton. Dipenuhi air mata. Tunggu, aku memiliki buku harian. Apa aku akan menuliskan seluruh perasaanku di sana? Mungkin akan melegakan setelah mencurahkannya.

Aku mengambil buku harian di atas meja. Duduk di kursi, menatap kertas kecokelatan buku ini. Aku mencari pulpen, di mana pulpenku? Aku selalu meletakkan pulpen di meja, namun mengapa tidak ada?

Tuk!

Sebuah pulpen terjatuh di lantai. Ternyata di sini pulpennya. Aku mengambil dan menulis semua hidupku. Sederet cerita yang memenuhi lembaran kertas.

Regretted Hope [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang