30. Pesan

72 11 1
                                        

"Es krimnya udah aku beli." Barra membawa dua cone es krim.

Kami menatapnya, ia juga menatap kami heran. "Arabelle? Ka .... Kamu yang setahun lalu ...."

"Maaf, aku mengganggu kalian, sebaiknya aku pergi. Barra, maafkan aku," ucapku. Permintaan maafku ini untuk kesalahpahamanku pada Barra.

Aku berjalan menjauh dari mereka. Tak memedulikan apa pun yang ada di sekelilingku. Perasaan bersalah akan kebodohan diri sendiri. Aku terlalu cepat untuk mengambil simpulan hingga membuat hubungan kami menjadi renggang, bahkan aku membenci dirinya. Mengapa aku tak mendengarkan penjelasannya waktu itu?

"Erina, awas!!!"

"Arabelle, awas!!!"

Arabelle dan Barra memekik bersamaan dengan memanggil namaku yang berbeda. Aku tersentak, melihat sekelebat mereka berdua. Pandanganku teralihkan pada mobil yang melaju kencang.

"AAAA!!!"

Bruk!

Arabelle mendorongku untuk menghindar dari mobil yang melaju kencang. Barra ingin melindungi Arabelle, namun ... terlambat. Es krim yang baru saja ia beli berceceran di tanah, seperti darah Arabelle yang masih basah.

"Erina! Erina! Bangun!" Barra memekik dengan deraian air mata. Menatap lekat seorang perempuan yang tak sadarkan diri di tengah jalan. Aku menatap mereka dengan menganga.

"Arabelle! Arabelle! Tidak!" Aku menggenggam tangan Arabelle dengan erat, berharap ia membuka pelupuk matanya.

"Maksud lu apa? Arabelle, hah?" Barra terlihat marah padaku.

"Barra, kamu gak tau apa pun yang terjadi kepada kami. Kamu gak bakal percaya sama ceritaku." Aku menangis ketika melihat Arabelle menutup matanya dengan ceceran darah di kepalanya.

Sopir yang menabrak Arabelle menghampiri kami. "Maaf, saya ngantuk tadi. Mbak-nya dibawa ke rumah sakit sama saya aja. Kita harus cepat!"

Dengan cepat Barra membawa Arabelle ke dalam mobil. Begitu pula aku. Sepanjang perjalanan aku melihat Barra sangat panik dan cemas. Aku tak berhenti menangis karena darah yang keluar dari kepala Arabelle sangat banyak.

"Pak, cepetan!" pekik Barra.

"Iya, saya sudah berusaha ini, Mas!" Sopir memekik.

***

Aku duduk dalam kegelisahan. Terus menengok ke pintu yang terdapat Arabelle di dalamnya. Barra mondar-mandir seraya menggigit jari jempolnya, ia sangat cemas.

"Barra! Di mana Erina?" Ayah dan Ibu datang dengan raut cemas. Aku beranjak dari kursi.

"Erina masih ada di dalam. Kita berdo'a aja untuk Erina, semoga baik-baik saja," jawab Barra tenang, namun aku tahu jika ia sangat khawatir.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ayah, Barra hanya terdiam.

"Ini semua salahku. Maafkan aku." Aku menunduk, merasa sangat bersalah akan kecelakaan ini.

"Arabelle? Kamu ... aktris itu, 'kan?" Aku mengangguk.

Aku hanya bisa mengiyakannya. Mereka semua tak tahu jika aku adalah Erina, aku baik-baik saja. Yang ada di tubuh asliku merupakan Arabelle.

Pintu terbuka, menampilkan dokter yang menangani Arabelle. Kami semua mendekatkan diri kepadanya.

"Bagaimana dengan Erina?" tanya Ibu.

"Iya, gimana keadaannya?" sambung Ayah.

"Erina baik-baik aja, 'kan?" lanjut Barra.

Dokter langsung dihadapkan dengan pertanyaan bertubi dari kami. Ia hanya menghela napas untuk menenangkan diri.

"Saat ini keadaannya koma. Kepalanya terbentur agak keras, jadi saat terbangun jangan membebaninya dengan segala hal terlebih dahulu." Dokter menjawab.

"Koma?" gumam Barra.

Barra berada di sampingku, aku melihat kerutan cemas di dahinya. Andai kau tahu Barra, gadis yang bernama Erina itu ada di sampingmu. Aku sangat ingin memelukmu, namun bukan saatnya.

Aku tersentak, merasakan sesak napas pada kerongkonganku. Kakiku melemas seiring jatuhnya diriku ke lantai. Pandanganku memudar, segala benda yang kulihat terlihat berbayang. Kepalaku sangat sakit, sakit sekali. Apa yang terjadi padaku?

"Argh!" Aku mengerang, merasakan sakit di kepala yang tak tertahankan.

Semua orang menatap khawatir kepadaku. Suara mereka samar, wajah mereka berbayang, seiring waktu ... pandanganku gelap.

"Aku ... Erina. Arabelle, kau perempuan baik, bertahanlah ...." Di kesadaranku yang mulai melemah, aku ingin menyampaikan pesan. Itu pesanku.

Regretted Hope [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang