28. Mengakui

61 11 0
                                        

"Hosh! Hosh! Hosh! Hosh! Mimpi?" Aku terduduk dari tidurku.

Menatap sekeliling yang masih sama, kamar Arabelle. Aku menutup wajah, mengatur napas yang terdengar bergemuruh. Aku menatap buku harian Arabelle yang masih tergeletak di meja. Tadi aku mimpi apa?

"Tadi malam, aku memang membaca seluruh isi buku harian Arabelle. Lalu, aku menulis harapanku untuk kembali jadi Erina di buku itu. Setelah itu ... aku ketiduran dan mimpi seperti itu. Apa benar jiwa yang ada di tubuh asliku itu jiwa Arabelle? Dia juga ingin kembali jadi Arabelle?" gumamku.

Aku rasa pikiran dan hidupku dengan Arabelle itu sama. Sama-sama merasa tertekan dengan kehidupan masing-masing, merasa iri dengan kehidupan orang lain, dan memiliki harapan untuk berada di posisi orang lain. Ternyata, harapan itu disesali oleh kami.

"Apa aku harus bertemu dengan dia?" tanyaku pada diri sendiri.

***

Aku menatap rumah yang sederhana dari kejauhan. Ingin memasuki dan memeluk semua orang yang ada di sana. Aku rindu kepada Ayah dan Ibu.

Sepasang kekasih keluar dari sana dengan kebahagiaan. Membuat raut wajahku semakin murung. Ayah dan Ibu keluar dari rumah juga, mereka terlihat sangat bahagia karena sepasang kekasih itu selalu bersama. Aku tak pernah melihat senyuman selebar itu dari mereka. Mereka semua tak menyadari kehadiranku. Arabelle dan Barra berjalan menuju taman.

"Mengapa selalu ke taman itu?" gumamku lirih.

Diam-diam aku mengikuti mereka. Mereka berpegangan tangan. Aku hanya bergeming menahan gejolak cemburu.

Arabelle duduk di kursi taman, sementara Barra pergi entah ke mana. Aku mengambil kesempatan ini untuk bertemu Arabelle. Aku berjalan mantap ke hadapannya.

"Arabelle," panggilku tepat di hadapannya.

Ia menatapku. "A ... Arabelle?"

"Aku Erina. Arabelle, ini kamu, 'kan? Kamu bukan Erina, 'kan? Iya, 'kan?" desakku seraya menggenggam tangannya.

"Apa maksudmu? Aku Erina." Matanya tersirat keraguan, aku bisa melihatnya.

"Jangan bohong lagi, Arabelle! Erina itu gaya bahasanya gak kayak gitu! Mata lo juga tersirat keraguan," desakku dengan gaya bahasa asliku.

Ia meneguk liurnya, terlihat gundah. "Ma ... Maksud lo apa?"

"Lo gak bisa meniru gaya bahasa gue. Gue Erina, lo Arabelle. Gue tau itu!" Aku mengulum bibir, menahan kesedihan yang dialami.

Kami terdiam dengan kepala menunduk. Aku tak bisa menahan tangis, akhirnya ... tangisan ini mengalir. Aku yakin perempuan di hadapanku ini Arabelle, bukan Erina. Aku Erina, tak ada yang bisa menggantikanku, meski orang itu aktris sekali pun.

"Itu ... benar," ucapnya parau.

Aku membuka mata, menatap lekat perempuan yang menangis ini. Ia beranjak dari kursi, menatapku dengan senyum tipis.

"Aku Arabelle, bukan Erina," lanjutnya.

Regretted Hope [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang