Aku sedang sarapan di ruang makan. Aku tak fokus sarapan karena terlalu sibuk menatap seluruh isi rumah Arabelle. Luas dan nyaman. Ish, dia aktris, tentu saja rumahnya seperti ini. Bagaimana, sih, Rin?
"Wah, ini makanannya enak banget. Beda sama buatan Ibu." Para asisten rumah tangga tampak mengernyit, membuatku tersentak karena salah berbicara.
"Maksud Erin, makanannya enak! Eh, Abel!" ucapku salah.
Aku belum terbiasa menjadi Arabelle. Bagaimana tidak? Semalam aku ada di kamar, tetapi saat terbangun sudah berada di kamar Arabelle, sekarang aku jadi Arabelle pula. Ah, tak apa! Ini harapanku, sekarang menjadi nyata! Kira-kira ... apa penyebabnya, ya?
"Emm, asisten rumah tangga di sini ada berapa, ya?" tanyaku.
Mereka mengernyit seraya saling berpandangan satu dengan lainnya. Tunggu, apa perkataanku salah?
"Kami ... ada sepuluh," ujar mereka.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Aku tersedak makananku. Aku menoleh kanan dan kiri secara cepat, mencari sesuatu yang dapat kuminum.
Mereka panik, segera mengambil air putih dari teko besi. Langsung saja aku merampasnya meski belum penuh. Tak tahan lagi!
"Se ... Sepuluh? Banyak banget!" celetukku seusai meminumnya hingga habis.
Sepuluh asisten rumah tangga? Banyak sekali! Bagaimana caranya aku menggaji mereka?
"Me ... Memangnya Non Abel lupa? Setahu kami, Non Abel gak pernah lupa sama asisten di sini. Non Abel kenapa? Kok tiba-tiba jadi pelupa?" Seorang dari mereka mengkhawatirkanku.
Aku gelagapan, tersenyum canggung padanya. Aduh, aku harus berdalih apa? Tak mungkin aku beri tahu jika aku Erina, bukan?
"Ah! Aku sudah selesai sarapan, sekarang aku pergi ke kampus dulu, ya!" ujarku panik.
Aku beranjak dari kursi, berjalan cepat meninggalkan mereka. Lebih baik aku lari daripada ditanya segala macam hal. Aku Erina, tentu saja tak tahu kehidupan Arabelle.
"Tapi ini makanannya, Non! Masih ada sisanya!" Mereka berteriak memanggilku, namun aku bergeming.
Aku berputar-putar, mengelilingi rumah yang luas ini. Sepanjang jalan aku hanya melihat kamar, kamar, dan kamar. Aku membuka pintu ke ... lima sepertinya. Isinya, toilet yang megah.
"AAAAAA! PINTU KELUARNYA DI MANA, N*IR! INI RUMAH APA LABIRIN?" Aku mengacak-acak rambutku.
Bahuku ditepuk, aku terperanjat dan spontan mendorong seseorang yang memenepukku.
"AAAAA!!! SIAPA LO?" pekikku.
"Eh? Kamu gak kenal aku?" Aku tersentak, melihat laki-laki yang menatap dingin padaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Regretted Hope [Tamat]
Novela Juvenil"Andai aku hidup seperti dia." Erina Fara Falisha, gadis egois yang bisa dikatakan bodoh. Kelakuannya membuat semua orang menjauhinya. Ia selalu memaksa, meski pada orang tua sendiri. Hingga ia merasa sendirian, tak ada yang peduli. Berbanding terba...
![Regretted Hope [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/279075979-64-k795041.jpg)