9. Kipas Angin

76 14 0
                                        

Aku mengipasi diriku yang berkeringat, lelah setelah membersihkan rumah. Aku duduk di sembarang tempat, di lantai tepatnya. Raut tak bersemangat terpancar dariku. Aku lelah!

Setelah merasa energiku kembali. Aku menyalakan kipas angin yang ada di kamar. Aku menikmatinya meski hanya sebuah kipas angin, sampai menerbangkan rambutku. Aku berdiri karena kipas angin ini tinggi. Hingga ...

Srrrtttt!

Aku melotot. "AAAAAAA!!"

Kepalaku tertunduk, memegangi rambut yang terlilit baling-baling kipas yang masih berputar kencang.

"Argh! Rambut gue! Tolooong!!! Sakit!! Huaaaa!!!" Aku meringis kesakitan.

Rambutku tertarik kencang, kipas masih berputar, semakin kencang. Argh! Bagaimana ini? Rambutku semakin terlilit. Siapa pun tolong aku! Nanti kalau botak bagaimana?

"AAAAAA!!! GUE GAK MAU BOTAAK!!!" Aku langsung membayangkan jika kepalaku botak. Tidak! Jelek sekali!

Aku tersentak, mengapa aku tak mematikan kipas anginnya? Aku meraba kipas angin, mencari tombol untuk mematikannya. Aku tak bisa melihatnya karena tertunduk. Jika aku mendongak, maka rambutku tertarik lebih kuat.

"Mana? Di mana, sih? Ini dia!" Aku menekan tombolnya, seketika baling-balingnya berhenti perlahan.

Aku mendongak sedikit. "Aw!"

Tetap saja sakit! Bagaimana ini? Aku tak bisa mendongak ataupun menggerakkan kepala. Agaknya rambutku sudah terlilit banyak, sangat banyak. Apalagi rambutku yang panjang ini sangat mudah terlilit bagi kipas la*nat ini! Ada masalah apa dia denganku? Menyebalkan!

"Hiks, gimana ini? Gue terjebak! Huhuhu! Emak, tolongin Erin, Mak! Erin kelilit!" Alhasil aku berteriak karena tak bisa apa-apa.

Ada yang memegang rambutku, berusaha melepaskan rambutku dari kipas ini. Siapa ini? Ibu? Kalau Ibu, pasti dia akan mengomel tidak karuan. Dia tak ada suaranya, siapa, ya?

Regretted Hope [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang