Aku mengerjap, melihat ruangan serba putih dengan bau yang sangat familiar. Aku di ruang rumah sakit. Aku menggerakkan bola mata ke sebelah kiri, karena terdapat sesuatu yang menarik perhatianku.
"Arabelle," gumamku.
Aku berusaha bangun dari ranjang, rasa pening menyambar kepala membuat semuanya berputar, namun hanya sesaat. Semuanya kembali normal, aku merasa tubuhku baik-baik saja meski tak sepenuhnya. Aku tak dipasangi alat medis apa pun, mungkin dokter mengira aku hanya kelelahan dan pingsan. Berbeda dengan Arabelle saat ini, ia terbaring lemah dengan infus di tangan kanannya.
Aku beranjak, mendekati Arabelle yang pucat pasi. Ia belum bangun dari koma, rasa sesak menyelimutiku saat melihat wajah diriku sendiri di dalam jiwa orang lain. Ia sangat cantik dengan tubuh itu, sama dengan sikapnya. Berbeda denganku, aku anak pembangkang yang berperilaku buruk.
Perlahan aku menggenggam tangannya yang diinfus. Menunduk berharap gadis baik ini membuka mata. Ia harus bangun dan menjalani harinya yang masih panjang, kau sangat dibutuhkan di dunia ini. Sedikit manusia yang berhati malaikat sepertimu.
Aku menangis tanpa dikehendaki, menggenggam erat tangannya yang terasa dingin. "Arabelle, ayo bangun! Bangun!"
Ceklek!
Kenop pintu bergerak, namun tak ada siapa pun yang masuk ke dalam ruangan ini. Aku mengernyit, menyeka air mata dan membuka pintu. Aku langsung di hadapkan dengan dua buku yang bersampul sama.
Aku menoleh ke segala arah, tak ada siapa pun yang ada di sini. Aku mengambil dua buku tersebut. Siapa yang mengantar dua buku ini? Mataku menangkap bayangan yang berjalan belok ke kanan, sehingga aku tak bisa melihat rupanya.
"Hei!" Aku berlari mengejar orang itu, seseorang bermantel cokelat yang semua bagian tubuhnya tertutup.
Aku berlari sekuat tenaga, dan berhasil menyekal tangannya. Dua buku yang kupegang terjatuh. Kutarik tubuhnya untuk menghadap kepadaku, untuk kulihat wajahnya.
"Kau?" Aku terkejut ketika melihat perempuan ini.
Ia tersenyum. "Sesuatu tak perlu dijelaskan, yang penting kalian berdua mengerti apa arti kehidupan. Tetaplah bersyukur menjadi diri sendiri, tak perlu berharap untuk menjadi orang lain. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, ingatlah itu!"
Aku tersentak ketika ia melepas cekalanku dan berlari menjauh. Aku hanya mematung, ternyata dia ... perempuan penjaga toko terpencil itu.
Aku mengambil dan menatap lekat kedua buku harian yang terjatuh. Semakin lekat, sampulnya berubah. Tali yang mengikat kaki perempuan itu menghilang, membuatku tersenyum karena tahu makna dari tali tersebut.
"Tekanan hidup gadis itu, hilang," gumamku.
Aku kembali ke ruangan Arabelle. Arabelle masih terbaring lemah di sana. Aku mengambil kursi dan duduk di sampingnya.
"Bangun, Bell. Kamu mau kembali ke tubuh aslimu, 'kan? Ayo bangun! Elvan dan kedua orangtuanya menunggumu, kamu akan menikah dan memiliki keluarga. Kamu gak akan kesepian lagi. Ayo bangun, Bell!" Aku kembali menitikkan air mata, terisak karena menyesal dengan perbuatanku.
"Tadi, kenapa kamu melindungi aku, Bell? Kamu jadi koma kayak gini, harusnya aku yang ada di posisi kamu." Aku menggenggam tangannya, menangis dalam kesunyian rumah sakit.
Ini salahku! Semua salahku! Arabelle melindungiku, ia gadis yang baik hingga mengorbankan dirinya. Mengapa bukan aku yang tertabrak?
"E ... Erina." Aku membuka mata, mendengar suara parau yang sangat ingin kudengar.
"Arabelle! Kamu bangun!" Arabelle membuka matanya perlahan, membuat penyesalanku hilang seketika.
"Erina, di mana ... buku harian kita?" Ia langsung bertanya tentang buku harian.
"Kenapa?" tanyaku spontan.
"Kita harus bertukar jiwa sekarang juga. Aku tahu caranya," jawabnya lemah.
Aku mengerjap beberapa kali. Mengambil dua buku harian kami yang kuletakkan di atas meja. Menyerahkan buku miliknya.
"Sekarang, kita tulis harapan kita di halaman selanjutnya. Lalu, kita berpegangan tangan jangan sampai terlepas," ucapnya.
"Dari mana kamu tahu?" tanyaku.
"Mimpiku barusan," jawabnya.
Aku mengambil dua pena yang ada di meja, menyerahkan satu pena pada Arabelle. Seperti yang dirinya katakan, aku menulis harapanku yang berisi keinginanku untuk kembali ke tubuh asliku sebagai Erina. Begitu pula dengan Arabelle, meski tangannya bergetar.
"Tutup mata, berpegangan tangan." Arabelle menggenggam tanganku dan menutup mata, aku mengikutinya.
Jantungku berdebar tiba-tiba. Peluh membasahi tubuhku. Rasa sesak memenuhi paru-paru, tak bisa bernapas normal. Aku merasakan tangan Arabelle mendingin, napasnya menderu, tubuhnya bergetar tak karuan. Aku ingin membuka mata untuk melihat keadaannya.
"Jangan buka mata!" pekiknya, aku tak membuka mataku.
Cahaya putih menyilaukan mata. Jiwaku berjalan ke arahnya, hingga sentakkan kuat membuat mataku terbuka lebar. Merasakan pening yang sangat menyakitkan.
Bruk!
"Arabelle!" Aku memekik, seraya memegang kepala yang sangat sakit.
Aku melihat Arabelle telah berada di tubuh aslinya. Aku juga telah berada di tubuh asliku. Tetapi, Arabelle tergeletak di lantai setelah sebelumnya duduk di kursi. Jiwa kami telah tertukar kembali.
Aku meraih tangan Arabelle, tak peduli rasa sakit yang memenuhi kepala. Tak peduli infus yang terpasang di tangan kananku. Tujuanku hanya satu, gadis bernama Arabelle.
Aku turun dari ranjang, meletakkan kepala Arabelle dalam pangkuanku. Menepuk pipinya agar membuka matanya.
"Arabelle, jiwa kita sudah bertukar. Ayo bangun, Bell!" ujarku.
Aku tersenyum gembira ketika jiwa kami telah bertukar kembali. Senyumku sirna ketika tubuhnya mendingin, wajahnya memucat, perutnya ... tak terlihat sedang bernapas.
"Bell? Arabelle, bangun! Bangun! Arabelle, bangun! Gak mungkin! Gak mungkin kamu sudah tiada! Arabelle, bangun! Bangun!" teriakku kencang.
Tidak, aku tak terima. Aku tak terima jika gadis sebaik dia harus hilang dari bumi. Arabelle hanya pingsan, pasti hanya pingsan. Tuhan, tolong jangan ambil gadis ini dari hidupku! Tolong aku!
"Arabelle!!!!"
Aku berteriak sekencang-kencangnya, dengan deraian air mata yang terus mengalir. Hingga dokter dan perawat memasuki ruangan dan memeriksa keadaan Arabelle.
"Arabelle masih hidup, 'kan? Iya, 'kan? Jawab!" desakku memekik.
"Arabelle, telah tiada," ujarnya lirih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Regretted Hope [Tamat]
Teen Fiction"Andai aku hidup seperti dia." Erina Fara Falisha, gadis egois yang bisa dikatakan bodoh. Kelakuannya membuat semua orang menjauhinya. Ia selalu memaksa, meski pada orang tua sendiri. Hingga ia merasa sendirian, tak ada yang peduli. Berbanding terba...
![Regretted Hope [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/279075979-64-k795041.jpg)