"Kita mau nonton jam berapa?" Aku mengambil tempat duduk di sebelah Kris lalu membuka aplikasi M-Tix yang ada di ponselku.
Kris mengalihkan pandangan dari Macbook. "Jam 7-an ada gak?" Tanyanya balik sambil menyesap americano-nya yang sudah dingin.
Sudah satu setengah jam kami berdua duduk di salah satu meja Coffebene, coffee shop dekat kampus PU yang sudah menjadi langganan kami, ditemani kopi dan dessert yang hampir habis. Kris juga sudah hampir satu jam berkutat dengan skripsinya. Aku hanya menemani saja. Sudah seminggu berlalu sejak Kris sembuh total dari sakitnya. Kini ia sudah kembali beraktivitas normal seperti semula. Seperti janjinya, Kris akan mengajakku nge-date setelah dia sembuh. So that's why we're here, killing some time after class before our movie-date.
"Ada sih. Tapi apa gak kemaleman nanti kamu nganter aku? Tahu sendiri kan film Marvel durasinya lama," Aku menatap jadwal film keluaran Marvel yang akan kami tonton itu.
"No problem. Aku gak punya jam malam kayak kamu," Ledeknya yang langsung dapat cibiran dariku. "Kalo di bawah jam 7 nanti kita gak bisa maghriban lho,"
Aku langsung terdiam karena argumen Kris barusan tak terbantahkan. Lelaki sholeh idaman banget kan pacarku ini.
"Ya udah, aku pesen sekarang ya tiketnya,"
Kris hanya mengangguk dan kembali fokus ke laptopnya.
Aku segera memesan tiket bioskop. Kami sudah sepakat untuk nonton di studio biasa karena kalau di studio XXI The Premiere euforia nonton film Marvel terasa kurang seru, orangnya lebih sedikit. Aku memilih tempat duduk di deretan C yang dekat dengan tangga. Tidak seperti orang lain, menurut kami berdua, deretan C atau ketiga dari atas inilah posisi terbaik di studio teater biasa.
"Jam berapa mau jalan ke PIM?" Tanyaku setelah pesananku berhasil.
"Sebentar lagi ya. Mungkin lima belas menit lagi," Kris melihat jam tangannya.
"Lama - lama juga gak apa. Masih lama juga jadwal nonton kita,"
"Aku mau makan dulu sebelum nonton. Laper. Lagian juga takut macet dari sini ke PIM nya. Kamu tahu lah jalanan Jakarta kalau sore," Katanya.
Kris dan perut karetnya. Padahal barusan dia menandaskan tiga croffle pesanannya sendiri dan setengah souffle pancake pesananku. Tapi mungkin wajar sih kalau dia lapar lagi, skripsian kan butuh energi yang besar. Jadi aku ikut saja apa kata Kris.
Lima belas menit kemudian, Kris membereskan semua barangnya. Lalu kami berdua pergi ke PIM untuk nge-date. Kris mengendarai Range Rover andalannya dengan santai. Jalanan juga padat merayap seperti biasa saat rush hour. Kami sampai di kawasan Pondok Indah Mall 35 menit kemudian. Kris membelokkan mobilnya ke PIM 2 karena kami akan nonton disana.
"Mau makan apa?" tanyaku sesaat setelah kami turun dari mobil di parkiran PIM 2.
Kris tampak berpikir. "Apa ya?" Tanyanya sambil meraih tanganku untuk digenggam.
Aku ikut melihat ke sekeliling. Bukannya restoran yang kudapat, malah menemukan beberapa pasang mata yang menatap kepo ke arahku dan Kris. Malah ada beberapa cewek yang terang - terangan menatap sambil saling berbisik ke arah kami berdua. Aku mengerutkan dahi dan mengecek apakah ada yang salah dari penampilanku atau Kris, tapi tidak menemukan apapun.
"Let them stare,"
Seperti tahu isi hatiku, Kris tiba - tiba berkata. Ia lalu mengalihkan tanganku yang awalnya berada dalam genggamannya menjadi melingkar di lengannya yang makin membuat banyak mata menatap ke arah kami. Kris akhirnya memutuskan untuk makan di Pancious. Kecintaannya dengan makanan Italia, terutama pasta, tak dapat diragukan lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
GEORGINA
RomansaIni cerita tentang Georgina. Nana, begitu panggilannya, adalah gadis ceria dengan 'resting bitch face'. Ekspresi garang menjadi ciri khasnya. Sehingga ia sering disangka berwatak dingin, jutek dan galak. Tapi dibalik senyum dingin dan tatapan tajam...
