BAB 19 : SIAPA PELAKUNYA? (3)

110 25 2
                                    

“Gue ngerasa kalau lu kenal sama Mahito. Dia siapa?” tanya Baji yang saat ini berada di dapur.

Draken tidak menyangka jika Baji menyadari sikapnya yang berubah, ketika melihat foto Mahito di ponsel Chifuyu.

“Emmi pernah cerita ke gue, kalau Mahito suka sama Emma tapi selalu ditolak,”

“Alasannya karena Mahito orang yang kasar, juga suka ‘main perempuan’, jadi itu yang ngebuat Emma gak suka.” jawab Draken.

“Dan juga...”

“Apa?”

“Mahito suka sama Emma dari sebelum Emma kenal dan suka sama gue.” Baji yang mendengar hal itu langsung kaget.

“Jujur, gue gak paham sama sekali. Jadi intinya, lu suka sama Emmi tapi Emma suka sama lu terus Mahito suka sama Emma?”

“Ribet bener anjir, tapi gue rasa si Mahito ini lebih ke terobsesi sama Emma sih.”

Kepala Baji tiba-tiba merasa pusing. Baginya, kisah cinta yang seperti ini belum pernah ia alami. Baji juga merasa beban hidupnya akan bertambah jika ia berada diposisi Draken.

***
Salah satu anak buah Hanma memberi kabar kalau Mahito memukul anak buahnya yang paling ia percaya, hal ini tentu membuatnya geram.

“Bangsat si Mahito!”

Beberapa orang kecuali Draken dan Baji, kaget mendengar Hanma yang tiba-tiba marah.

“Ngapa?” tanya Kazutora.

“Anak buah gue yang paling gue percaya, dipukulin sama Mahito!” tangan Hanma terkepal ketika sedang menjelaskan.

Buku-buku jarinya memutih saat tahu kalau orang yang paling ia percaya kini dipukuli oleh orang lain.

“Gue mau ke Moebius sekarang! Gue juga mau cari tau, siapa yang rekrut dan masukin dia ke divisi dua!!”

“Gue ikut!”

“Lu baru sembuh, Ken!”

“Tenang aja, pemulihan gue cepet kok. Hahaha.”

Bugh!

“ANJING!!!”

Helaan napas terdengar, jika sudah seperti ini. Draken sudah tidak bisa dicegah.

“Bilang ke Takemicchi, kalau kita ketemu Mahito sekarang. Takemicchi suruh di rumah, temenin Hinata sama Mikey!” yang diangguki oleh Mitsuya.

***
Draken, Hanma, Mitsuya, Chifuyu, Souta, Nahoya kini dalam perjalanan menuju Moebius.

Dua mobil mewah dengan garangnya melewati jalan raya, tetapi tidak meninggalkan kesan elegan. Walaupun yang membawanya adalah kumpulan preman pensiun.

“Woy, ada bos!”

“Akhirnya...”

“Bos! Selamat datang!!”

Berbagai macam sapaan terdengar bersahutan ketika Hanma memasuki markas bekas gengnya, terlihat tatapan bingung dari orang-orang sekitar yang melihat kedatangan para petinggi Touman.

“MANA YANG NAMANYA OGAWARA MAHITO?!”

“KELUAR LU BANGSAT!!”

Tap

Tap

Tap

“Gue, ada apa?”

Sebuah pukulan yang berasal dari Hanma, melayang ke arah Mahito. Dirinya yang tidak siap menerima pukulan, jatuh tersungkur ke lantai dengan hidung yang mengeluarkan darah.

“APA MAKSUD LU MUKUL ANAK BUAH GUE YANG PALING GUE PERCAYA?! LU SIAPA EMANGNYA?!” Beberapa orang mencoba untuk menghentikan Hanma, namun terlalu takut.

Draken segera menghentikan temannya yang saat ini tengah memukuli wajah Mahito dengan sangat brutal.

“Oi, Ma! Tahan dulu, kita masih butuh dia!!” ucap Draken yang tengah menenangkan Hanma.

“Samperin anak buah lu, terus liat kondisinya.” lanjutnya.

Sebelum pergi, Hanma mengatakan sesuatu kepada Draken yang mana membuat Draken menyetujui ucapannya.

“Bangun!” ujar Draken dengan nada yang mengintimidasi, namun tetap memberi bantuan agar Mahito dapat berdiri.

“Apa maksud lu nusuk gue pas malam festival?” tanyanya berusaha tenang.

Mahito menyeringai sekaligus memberikan tatapan seolah-olah sedang meremehkan Draken.

“Lu ngerebut orang yang gue suka, dan lu juga yang nyakitin dia! Brengsek lu ya, heh?!”

“Gue gak pernah ngerebut orang yang lu suka,” jawaban Draken tidak membuat Mahito puas. Baginya, jika ia dapat membunuh Draken maka Emma tidak akan merasa tersakiti lagi.

“Kenapa lu nyakitin Emma?!”

“Gue gak nyakitin Emma—”

“Kalau lu gak nyakitin, kenapa lu malah nikah sama kembarannya?! Lu tau 'kan kalau Emma suka bahkan cinta sama lu!!”

“Ya, gue tau. ”

“Lu tau tapi lu masih nyakitin dia!! Seharusnya Emma suka sama gue, bukan sama lu... Kenapa jadinya malah suka sama lu?!”

Draken masih berusaha sabar dan tenang ketika berbicara dengan Mahito. Menurutnya jika dirinya terpancing emosi, maka semuanya akan sia-sia.

“Lu mau tau, kenapa Emma gak milih lu?” netra Draken menatap dalam Mahito.

“Emmi pernah bilang ke gue, kalau lu orang yang kasar dan suka ‘ main perempuan’, itu yang buat Emma gak suka.” lanjutnya.

“Dan juga... Lu terobsesi, bukan bener-bener cinta.” perkataan Draken membuat Mahito tersulut, apalagi ketika mendengar bagian terobsesi.

Menurutnya, semua hal yang Emma miliki adalah candu baginya.

Baginya, Emma hanya miliknya seorang.

“Lu berubah, kalau lu mau Emma suka sama lu. Lu sahabat kecil gue, gue bisa bantu lu. Tapi gak gini caranya.”

Disisi lain, Hanma sedang bersama dengan anak buahnya sekaligus melihat kondisi dari orang kepercayaannya.

“Siapa yang rekrut Mahito?!” tanya Hanma pada salah satu anak buahnya.

“Kisaki.” jawab sang anak buah dengan perasaan takut.

Wajah Hanma kini berubah lebih menyeramkan dengan rahang yang mengeras, tangan terkepal, juga ekspresi yang menjadi datar.

“Bangsat!” gumamnya yang dapat didengar oleh seluruh anak buah.

PAPAH DORAKENGKUNG (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang