3. Tanda Lahir

408 26 0
                                        

.
.
.
.
.

Tanda Lahir

Menghembuskan nafas kasar , Jisoo segera menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi meja kerjanya "Maaf Nona , tetapi kami masih tidak menemukan nya"

Brakk

Jisoo menghentakkan tangannya keatas meja dan berdiri menunjuk kan jarinya kepada kedua pria yang berdiri didepannya "berapa tahun , berapa tahun pencarian yang kalian lakukan dan kalian masih belum menemukan apa apa ?!" Bentak nya , saat Jisoo berumur dua puluh satu tahun , dia sudah mengambil alih perusahaan appa nya yang berakhir ditangan Lee Ji Ah saat itu , semenjak hari pertama nya memimpin perusahaan sebagai CEO dia mulai memerintahkan orang orang terbaik untuk mencari keberadaan adiknya .

Mereka hanya berbekal dengan tanda lahir pada punggung adiknya tersebut untuk mencarinya , dia tidak memiliki foto atau identitas apapun saat hilang. Jadi tanda lahir tersebut adalah satu satunya cara . Memiliki tanda lahir dipunggung berbentuk bintang , menjadi pegangan mereka dalam pencarian anak bungsu keluarga Song itu. Tentu juga tindakan Jisoo saat ini untuk mencari adiknya , tidak ada yang mengetahui . Mereka saat ini hanya bisa terus memantau melalui rumah sakit atau di setiap club malam, hanya itulah salah satu cara yang mudah untuk memeriksa setiap gadis berumur sesuai dengan adiknya "kami hanya bisa melakukan pencarian saat ini melalu rumah sakit dan tempat hiburan malam Nona , tetapi jika diluar kami tidak mungkin melakukan nya , itu akan dianggap sebuah pelecahan" bahkan ketika dirumah sakit dan di club pun mereka punya cara tertentu untuk memeriksa nya , jelas jika diluar dari itu akan lebih sulit

Jisoo tidak perduli dengan keluhan itu , kembali berkata dengan nada tinggi "Apa yang membuat kalian tidak bisa ? Bayar mereka , bayar setiap orang yang kalian selidiki hanya untuk melihat tanda itu , apa yang sulit ketika kalian memiliki uang yang ku berikan?" Jisoo selalu meninggalkan beberapa uang agar mereka bisa menggunakan untuk apapun yang penting kelak , ternyata inilah tujuan Jisoo memberikan uang tersebut "tidak akan ada yang menolak jika kalian memberikan uang!" Jangan lupakan , semua akan menjadi mudah jika dibarengi dengan uang , tetapi apakah semua orang semudah itu ?

"Keluar dan teruskan pencarian!jika perlu tambahkan anggota kalian " Usir Jisoo

Kembali mehempaskan tubuhnya pada kursi berputar tersebut .

"Bisakah kau berhenti , bagaimana jika adik mu sudah meninggal?" Tiba tiba seorang perempuan masuk ke dalam ruangan Jisoo tanpa pemberitahuan , dari cara bicaranya yang cukup berani seperti nya dia tidak takut dengan posisi yang jisoo miliki

"Aku sedang tidak ingin bicara dengan mu Nayeon" jawab Jisoo memutar kursinya

"Daripada kau terus memikirkan adik mu yang hilang , bukankah lebih baik jika kau berusaha memperbaiki hubungan mu dengan kedua adik mu yang lain?" Tanya Nayeon sahabat dari Jisoo semasa kuliah "juga kau sudah berumur dua puluh tujuh tahun sudah seharusnya kau mulai memikirkan untuk memiliki kekasih . Apa kau ingin jadi perawan tua?"

"Berhenti mengajari ku , aku akan pergi" gerak Jisoo meraih tas dior miliknya tidak repot repot mendengarkan saran dari sahabatnya itu "jika aku tua dan aku masih sendiri hingga aku mati , itu urusan ku"

"Apa kau akan pergi untuk minum lagi Jisooya ?" Tanya Nayeon menatap punggung Jisoo yang menyentuh ganggang pintu "apa kau tidak kasihan dengan tubuh mu , menelan minuman jahat itu bertahun tahun ?" Tanya Nayeon lagi

"Nayeon , bisakah kau berhenti mengurusi ku dan cukup berfokus pada hidup mu sendiri ?" Tanya Jisoo tanpa berbalik , dia segera meninggalkan ruangan tersebut tak mendengar kan jawaban yang diucapkan Nayeon

Regrets Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang