Tuhan, terkadang aku ingin bertanya. Mengapa takdirku bisa sekejam ini? Tetesan air mata ini bukanlah jalan yang ingin aku lalui didunia yang kejam ini. Namun, kaulah yang merangkai takdirku menjadi seperti ini, kehidupan yang penuh dengan kesedihan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
RUANG Sunyi!
[ Sebuah tempat dimana kita termenung dan berpikir kritis tentang banyak hal ]
Written by Wullandary95 . . . . . . . . . . . . . . •
"Syukurlah, setidaknya ini jauh lebih baik" Suara dengan nada lembut kini masuk kedalam indera pendengarannya. Mendengar ucapan yang keluar dari mulut sahabatnya itu membuat zeenan tersenyum tipis seraya menjawab, "Semua ini karena bantuan darimu, Hanbin" balas zeenan.
"Oih! Semua ini karena kinerjamu tak pernah buruk dimata tuan boun, sebab itu dirinya menjadikanmu sebagai barista direstauran ini" Balas hanbin dengan senyum tulus kini terpatri diwajah tampannya.
"Yak! Zeenan! berhenti memujinya, dia nanti akan besar kepala" Teriak gulf dengan pura-pura terlihat kesal.
"Siapa yang kau maksud itu, bedebah sialan, kanawut!" Balas hanbin yang diakhiri dengan teriakan.
"Aish! jangan pernah ucapkan margaku!"
"Aish! persetan dengan kata-katamu, sialan!"
"KAU!...
Ting!
Namun, sedetik kemudian ketiganya dibuat bungkam dan langsung menolehkan pandangannya kearah pintu saat lonceng yang bertengger diatas sana berbunyiㅡdengan wajah bingung zeenan menatap seseorang yang muncul dari balik pintu itu; Pria dengan rambut sedikit panjang hingga menutupi sebelah matanya itu membuat zeenan teringat pada seseorang.
Pria itu, berjalan secara perlahan hingga tanpa zeenan sadari kini ia sudah berada di hadapannya. "Pagi semuanya" Suara itu, suara yang sangat zeenan kenali telah menodai telinganya, hingga beberapa detik kemudian zeenan baru menyadari jika orang yang kini ada dihadapannya itu adalah seseorang yang ingin dihindarinya; bahkan sudah 2 minggu belakangan ini dirinya berusaha untuk menjauh dari sosok yang dianggapnya penganggu.
"Oh, Nuren kau akhirnya sampai" Boun, pria tampan dengan surai blonde itu tiba-tiba bersuara, yang mana baru saja muncul dari balik pintu ruangannya lalu segera menghampiri mereka yang sedang berada dimeja bar.
"Pagi paman" Nuren membalas sapaan yang boun lontarkan, dengan senyum cerahnya nuren segera membungkukkan badannya 90° kearah boun.
Boun tersenyum penuh arti saat pandangannya tak sengaja melirik keraha zeenan, yang mana zeenan kini hanya terdiam ditempatnya seraya menatap kearah nuren. Dengan senyum ramahnya kini boun berkata, "Perkenalkan, dia adalah keponakanku. Zeenan ini Nuren Evaghint, dan nuren ini zeenan. Karyawan baru yang paman ceritakan kepadamu kemarin" Jelas boun sambil merangkul pundak kurus milik sang ponakan.