Tuhan, terkadang aku ingin bertanya. Mengapa takdirku bisa sekejam ini? Tetesan air mata ini bukanlah jalan yang ingin aku lalui didunia yang kejam ini. Namun, kaulah yang merangkai takdirku menjadi seperti ini, kehidupan yang penuh dengan kesedihan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
RUANG Sunyi
[ Sebuah tempat dimana kita termenung dan berpikir kritis tentang banyak hal ]
Written by Wullandary95 . . . . . . . . . . . . . .
Ferden Rodriguez, yang merupakan ayah dari Nuren evaghint rodriguez itu kini hanya bisa terdiam dikamarnya sejak tadi siang. Sebenarnya ada alasan mengapa ia memilih untuk mengurung dirinya didalam kamar, semua ini dikarenakan obrolannya sore tadi dengan salah satu CEO dari perusahaan yang terbilang cukup besar.
Jeordan Jeovarendㅡitulah nama yang dimiliki oleh CEO perusahaan Jeo.Corps; yang mana terus menawarkan investasi dengan total ratusan dollar, bagi perusahaan yang sedang diambang kebangkrutan seperti dirinya itu mungkin ratusan dollar adalah penolong untuk perusahaannya, tapi disisi lain ferden ragu dan bimbang, sebab tawaran itu tidaklah gratis, yang mana dirinya harus memenuhi syarat yang diminta oleh tuan jeordan.
Ya, walaupun hanya satu syarat namun ferden sungguh sulit untuk mengiyakannya. Bahkan, dirinya sudah memikirkannya berulang kali, tapi tak kunjung menemui jawabannya. "Mengapa aku harus seperti ini?" Tanyanya dengan nada pasrah.
"Aku harus bagaimana? apakah aku harus menerima Perjodohan itu?, tapi aku tidak ingin melibatkannya hanya karena bisnis" gumamnya, hati dan otaknya tak dapat berkutik apapun lagi; ini terlalu sulit hanya sekedar mengambil keputusan.
Karena terlalu lelah, akhirnya ferden menyenderkan punggungnya secara perlahan kekursi yang sedang ia dudukki. Mata setajam elang itu terus menyorot kearah luar jendela, dimana jendela kamarnya menyorot langsung pada pemandangan taman bunga yang selalu nuren rawat hingga menjadi cantik dan indahㅡBungapun selalu mekar disetiap musim yang berlalu, dan ketahuilah siapapun akan merasa bahagia jika berada ditaman bunga itu, karena nuren memang sengaja membuat taman bunga itu hanya untuk menghilangkan rasa kesepian dan sedih.
Memandang taman bunga itu entah mengapa tiba-tiba membuat ferden sedih dan merasa bersalah, "Maafkan daddy, nuren" lirihnya pelan.
•••••••
"Hiks...Hikss...Hikss...hiks"
Suara tangisannya meledak kesetiap ruangan, ini sudah 5 jam dimana dirinya menangis; Bahkan matanya kini sudah bengkak dan hidungnyapun sudah berubah warna menjadi merah. "Mengapa kau tega berkata seperti itu, zeenan! Hiks...Hikss!" Racaunya dengan nada kesal.
Tok...Tokk..Tok!
"Tuan muda nuren, bisakah buka pintunya dulu? bibi ingin mengantar makanan" Ucap seseorang dibalik pintu.