25 | Ending Scene

366 32 7
                                        

"Bunga sama Je balikan gak sih?"

Ben bertanya demikian pada anak kontrakan (minus Je) saat mereka sedang duduk bersantai di depan kontrakan. Hari itu mereka bercengkrama di bawah langit yang perlahan meredupkan sinarnya. Ben, Dhikta, Jo, dan Rasya ada disana bertemankan se-teko es teh yang dibuat Dhikta juga aneka gorengan yang dibeli Jo dalam perjalanan pulang ke kontrakan. Sebenarnya, tidak ada rencana nongkrong bersama sih tapi berhubung mereka baru free dan bisa kumpul bareng jadi Ben inisiatif menggiring anak kontrakan bersantai di depan kontrakan. Duduk bersama di dipan yang biasa digunakan tempat nongkrong.

"Gak tahu gue," Dhikta menjawab seraya mengingit telo goreng keduanya.

"Balikan gak mereka, Sya?"

"Meneketehe."

"Si anjir, gue seriusan nanya ini!"

"Gue juga serius, Bentala! Gue gak tahu mereka balikan apa kagak."

"Bohong lo ya?" Ben menuding Rasya dengan sebatang rokok menyala ditangannya, "Gak mungkin lo gak tahulah. Diantara kita semua aja lo yang pertama tahu Bunga sama Je mantanan, gak menutup kemungkinan lo tahu juga hubungan mereka gimana sekarang."

Rasya menghela nafasnya, "Gue serius gak tahu, Cuk. Lagian mereka mau balikan apa kagak ya bukan urusan lo jugakan?"

"Ya, bener sih. Gue cuma penasa----"

"Mereka baik-baik aja, setidaknya itu yang Lea bilang ke gue," Jo yang tadi diam menyimak tiba-tiba memotong perkataan Ben. Otomatis tiga pasang mata disana langsung tertuju pada Jo yang sedang memainkan sebatang rokok ditangannya. Sebelum menghisapnya dan mengalihkan pandangan matanya pada anak kontrakan yang lain.

Jo tahu, mereka semua pasti baru menyadari eksistensi dirinya. Atau setidaknya mereka baru menyadari bahwa tidak seharusnya Ben membicarakan hal ini dihadapan Jo yang notabene menyimpan rasa pada Lea. Apalagi perasaan Jo masih digantungkan oleh Lea sampai sekarang. Ya, Jo sudah tidak menghindari Lea sih. Mereka sudah baikan tapi tetaplah hati Jo pasti ada yang retak setelah tahu kalau Lea masih sepeduli itu pada Je. Sampai-sampai gadis itu rela menyusul Je ketika laki-laki itu sedang hancur-hancurnya.

"Gue gak tahu makna kata 'baik-baik aja' itu apa. Tapi mungkin itu bisa jawab rasa penasaran lo, Ben."

"Awakmu rapopo, Jo?" Dhikta bertanya dengan bahasa Jawa yang bernada halus. (lo gak papa, Jo?)

Jo terkekeh, "Gue gak papa."

"Gue gak bermaksud ikut campur atau apa. Tapi lo yakin gak papa?" giliran Rasya yang bertanya hati-hati. Mau bagaimanapun Rasya paham posisi Jo saat ini.

"Gue gak yakin," Jo menudukkan kepalanya, mengalah pada gravitasi yang menariknya, "Tapi gue juga gak bisa berbuat apapun. Gue gak bisa menyalahkan apa yang udah terjadi di masa lalu. Gue juga gak bisa menyalahkan Je sama Lea yang nyembunyiin hubungan mereka sebab mereka punya alasan tersendiri."

"Mau mereka balikan atau enggak, gue gak bisa menyalahkan. Perasaan Lea adalah sepenuhnya hak dia, gue gak bisa memaksakan perasaannya. Lea yang berhak milih mau sama siapa dia. Dan gue akan menerima apapun pilihannya. Asalkan dia bahagia bagi gue itu udah cukup. Karna balik lagi gue gak punya kuasa buat merubah perasaan Lea ke gue. Jujur, itu sakit sih tapi itu resiko yang harus gue tanggung karna berani sayang sama Lea."

Tidak ada yang merespon. Ketiganya merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Jo. Rasanya pasti menyakitkan untuk menerima semua fakta yang ada. Pada Lea –yang merupakan seseorang Jo sayang adalah mantan Je –teman karibnya sendiri. Juga kebohongan Je yang selalu menjadi tempatnya mencurahkan segala rasanya pada Lea ternyata mantan dari Lea. Semuanya rumit. Apalagi mengingat hubungan kedua orang itu yang sekarang membaik, pasti sulit bagi Jo buat melihatnya. Meksi Jo tidak pernah menunjukkan tapi ketiganya yakin, rasa sakit itu Jo simpan rapat dibalik wajah tenangnya.

Return ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang