Pagi itu, Lea terbangun dengan perasaan ringan seolah-olah tak ada beban yang harus dipikulnya lagi. Ada rasa kelegaan luar biasa yang menyusup dalam relung hatinya. Semua hal yang pernah menganggu dan dipertanyakannya telah menemui titik terangnya. Lea sudah mendapatkan jawaban sebenarnya. Mungkin memang sulit dipercaya pada awalnya tapi Lea memilih untuk mengalah, membiarkan akal sehatnya teredam sementara hanya untuk membuktikan bahwa apa yang terjadi antara diriya dan Je adalah sebuah kesalahpahaman.
Mungkin benar kata Lira jika pertemuannya dengan Je memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Bukan untuk membuka luka lamanya tetapi menyelesaikan apa yang belum selesai di masa lalu. Tuhan selalu punya alasan sendiri pada setiap takdir yang telah ditetapkan untuk manusia. Seperti halnya kata Mara juga kalau tidak ada kebetulan di dunia ini yang ada hanya takdir. Sebuah takdir yang sudah Tuhan rencanakan. Terkadang memang tidak sesuai ekspektasi atau rencana manusia pada awalnya tapi percayalah rencana Tuhan selalu jadi yang lebih baik.
Lea pernah berpikir kalau takdir memang bisa sebercanda itu karna mempertemukannya lagi dengan Je. Bahkan setelah semua usaha yang Lea lakukan untuk melupakan Je tapi ya takdir tetaplah menjadi takdir. Walau pada awalnya Lea selalu menyalahkan, kenapa takdir bisa sebercanda itu menghadirkan Je kembali di hidupnya. Membuat hidupnya yang tadi sudah membaik jadi berantakan, tembok-tembok yang dibangunnya runtuh, perasaan yang coba Lea teguhkan goyah, dan Lea kembali jatuh pada lubang yang sama.
Rasanya Lea ingin menyesali keputusannya untuk datang ke tempat ini tetapi melihat bagaimana Je melepaskan topeng dihadapannya seperti semalam. Lea malah bersyukur telah menuruti keinginan hatinya dibanding akal sehatnya. Hatinya tidak salah sebab ia membawa Lea mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Lea mengetahui sisi yang disembunyikan oleh Je selama ini dan alasan yang selalu menjadi tanya. Lea bisa memahami posisi Je.
Dan Lea memutuskan tidak menyesali apapun. Pada kedatangannya disini, menemani Je menghadapi kesedihannya, mempercayai Je sekali lagi, menerima sisi lain darinya, dan juga pada sentuhan yang Je berikan pada Lea. Sejauh ini Lea tidak menyesali apapun. Lea sudah jauh lebih lapang dan menerima semuanya. Pada poin terakhir, Lea merasakan pipinya memanas seketika.
"Udah gila," Lea merutuki dirinya sendiri sebab dengan lancang, memori otaknya memutar kembali pada kejadian semalam. Bagaimana Lea maupun Je menyalurkan seluruh rasa yang dipendamnya selama ini. Lea bahkan tidak menyangka bisa bermain sejauh itu, lebih tepatnya Je yang berhasil membuat Lea kehilangan kewarasannya sendiri. Untung saja, masih ada sisi kesadaran yang membangunkan Lea kalau tidak sepertinya semalam akan menjadi sesuatu yang lebih panas.
Tidak ingin berlarut pada memori semalam, Lea cepat-cepat turun dari tempat tidur. Membawa langkah kakinya memasuki kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Lea berharap dengan itu menghilangkan memori dan rasa panas yang menjalari kedua pipinya. Kemudian, Lea berjalan keluar seraya mencepol rambutnya asal-asalan. Langkah kakinya terhenti begitu pandangannya menemukan Je yang sedang duduk di stool bar di dapur, menghadap ke tempat dirinya berada. Sesaat Lea merasa canggung ketika Je juga membalas pandangannya. Sebelum Lea berdehem, melanjutkan langkah kakinya untuk mengambil air dingin dari kulkas yang berada disisi kanan dimana Je duduk saat ini.
Lea bergabung bersama Je seusai menuangkan air dingin ke gelas. Keduanya duduk berhadapan, namun tak ada satupun diantaranya yang mau membuka percakapan terlebih dahulu. Je menyibukkan diri pada kopi yang baru diseduhnya menggunakan french press. Sedangkan Lea memandangi titik-titik embun yang berada di tepi gelasnya. Mereka terlalu canggung untuk saling menyapa setelah kejadian semalam. Bukan pada Je yang menceritakan hal yang disembunyikannya tetapi pada hal yang hampir membuat keduanya kehilangan kontrol semalam.
"About last night...", Je membuka suara seraya menatap pada Lea, "I'm sorry, gak seharusnya------"
"Lo emang udah se-pro itu ya?" potong Lea cepat sebelum Je meneruskan kalimatnya lebih lanjut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Return ✔
Fiksi PenggemarKenapa Lea harus dihadapkan dengan masa lalu ketika ia bahkan ingin memulai lembaran baru? Nyatanya, takdir memang suka sebercanda itu.
