Jalan

2 1 0
                                        

  Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit akhirnya Kane memberentikan motornya disebuah tempat pemakaman, Voreta sedikit bingung mengapa lelaki itu justru membawanya kesini, siapa yang meninggal

Belum sempat ia bertanya, Kane sudah dulu memberitaunya untuk mengikuti pria itu dan Voreta pun mulai berjalan dibelakang Kane yang memimpin, langkah mereka terhenti disebuah makam dengan nisan bertuliskan 'Roseana Clifton'

Kane berjongkok disamping batu nisan itu sambil mengelusnya pelan "Hai mom, apa kabar? Hari ini aku bawa temen cewek mom nggak sama daddy lagi, dulu mom bilang aku ngga bakal punya temen cewek kan? Nah ini buktinya ada yang mau temenan sama aku"

Jadi ini makan ibunya

"Halo tante aku Voreta, dulu tante waktu ngandung Kane ngidam apa sih kenapa waktu keluar mukanya gada eskpresi" Kane menyipitkan matanya ke arah Voreta sedangkan gadis itu hanya menatapnya acuh "Tapi , Kane baik tan cuma mukanya aja yang nyeremin padahal ganteng" Kane yang mendengar itu berusaha menahan senyumnya

Setelah beberapa menit akhirnya mereka meninggalkan makam itu, sekarang Kane berencana untuk membawa Voreta mencari makan dan disinilah mereka disebuah Restorant yang terletak didalam sebuah mall besar

Bukan Voreta yang ingin makan disana, Kane yang bersikeras membawa gadis itu makan ditempat pilihannya

"Mom meninggal 3 tahun yang lalu" Voreta mengangkat wajahnya menatap ke arah Kane "dari tadi lo mau nanya itu kan?"

Voreta mengangguk "Lo punya bakat baca pikiran orang?"

Kane sedikit terkekeh "Ekspresi lo terlalu mudah dibaca Vo, masih ada pertanyaan lagi?"

"Eum ! Gue mau denger cerita tentang tante Rose"

"Kenapa lo mau tau"

Voreta mengangkat kedua bahu sambil terus mengunyah makanannya "Cuma mau tau, lagian gue suka denger orang cerita"

"Mom meninggal saat ngelahirin adek gue, waktu itu mom terpaksa melahirkan saat umur kandungannya masih 7 bulan, hari itu ngga ada yang jagain mom dirumah gue sekolah sementara Daddy punya urusan penting dikantor, Daddy hanya pergi sebentar lalu balik lagi dan saat balik

Daddy udah ngeliat mom pingsan didapur dengan kaki belumuran darah, dokter menyarankan untuk segera operasi dan Daddy menyetujuinya namun karna tubuh mom lemah sementara darah yang beliau keluarin sudah banyak di rumah mom ngga bisa bertahan, dokter menyimpulkan meninggalnya karena pendarahan" Voreta mendengarkan cerita Kane dengan serius tidak seperti anak lainnya yang akan menangis saat menceritakan tentang sang ibunda, Kane justru terlihat kuat

"Terus sekarang udah punya mom baru?"

"Belum, kenapa lo mau daftar?"

"Daddy lo sugar daddy ngga, kalau iya ayo ke kua"

Pletak

Voreta sedikit meringis saat merasakan jentikan pelan dari Kane dikeningnya padahal ia hanya bercanda, Voreta mengerucutkan bibirnya ia tidak terima mendapat bekas sentilan dari Kane dikeningnya

"Itu bibir minta di sosor?"

Voreta sontak menutup bibir dengan kedua tangannya "Enak aja"

"Habisin makanannya setelah ini kita beli eskrim" mendengar kata Eskrim langsung saja membuat kedua mata Voreta berbinar

Masih seperti anak kecil

Sementara itu, Al sedari tadi selalu memperhatikan jalan lewat balkon kamarnya, ia tengah menunggu kepulangan Voreta bahkan sedari gadis itu pergi

"Lama bener perginya"

"Dia bawa Reta kemana?"

"Reta kaga kecelakaan kan?"

Bukannya menelfon gadis itu untuk memastikan keadaannya Al justru lebih memilih terhanyut dalam pikirannya sendiri, ingin rasanya ia segera mengikat gadis itu dalam suatu status hubungan namun ia yakin alih-alih menjawab 'Ya' gadis itu akan kembali menganggapnya hanya candaan belaka

Huh Al mulai menyandarkan punggungnya ke arah pagar balkon, ia tidak sadar sudah berapa lama dirinya berdiri disana

Sampai akhirnya ia melihat sebuah motor yang ia yakini itu adalah milik Kane, dengan terburu-buru Al langsung berlari turun keluar dari rumahnya , saat sampai dipagar penghubung antara halamannya dengan halaman Voreta ia melihat gadis itu sedikit berbincang sengan Kane sampai akhirnya Kane pergi

Saat Voreta berbalik dengan cepat Al mencoba untuk seperti tidak sedang memperhatikan gadis itu, dengan cara berpura-pura tengah menyiram tanaman milik bundanya

Voreta yang melihat itu pun memilih untuk melangkah ke arah pagar itu dan berdiri disana sambil memperhatikan Al

"Tumben rajin, biasanya tunggu tante Lorria nyuruh dulu"

"Kasian gue ama nih tanaman"

Voreta menyipitkan matanya "Biasanya lo ngga pernah mikirin tanaman, mikirin orang aja ngga pernah"

"Kata siapa, orang gue selalu mikirin lo" Al tersadar dengna apa yang baru saja dia ucapkan dengan segera membungkam mulutnya, sedangkan
Voreta justru memiringkan kepalanya

Sial apa dia selalu setenang itu?

"Ngapain mikirin gue?"

"Ya mikirin aja sebenernya, lagi pula diantara kita berlima ya gue lebih mending milih mikirin lo"

"Tadi kemana ma dia?"

"Cuma jalan-jalan sambil makan Eskrim"

"Eskrim? Jangan-jangan lo di sogok es krim ya ma dia , biar lo mau ikut" Al menatap Voreta dengan tatapan menyelidiknya

"Sembarangan, emang dia lo minta maaf aja pakai sogokan"Al menaruh selang air itu dan berjalan menghampiri Voreta lalu berhenti tepat 1 langkah dihadapan gadis itu

"Lo masih dendam"

"Kaga, siapa juga yang dendam"

"Ngaku aja lo masih marah kan sama sifat gue waktu itu"

"Nggak, udahlah gue mau masuk" Voreta langsung berbalik meninggalkan Al yang masih tetap disana

"Kalau gue bilang kali ini gue beneran cemburu, lo percaya ngga re" gumam nya

Al menghela nafas berat lalu ikut kembali ke rumahnya, apa sesusah ini untuk hanya sekedar bilang suka cemburu rindu? Ah iya dia lupa statusnya yang membuat itu terasa susah diucapkan

Bukan Cool BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang