23. Untukmu

11 1 4
                                        

"Hello~Arga, it's been a while", ucap seseorang dengan bat besi bertengger di bahunya.

Arga mendongak, untuk melihat orang itu.

Jimmy Gabe.

Ia tersenyum miring ke Arga, berdiri dengan pose mengintimidasi. Jika Dirga akan menghajarnya, Arga akan diam ketakutan.

Ia takut akan dihajar orang sebesar itu. Ia memiliki kekuatan dan keberanian yang sama seperti Dirga, tapi sayangnya saat ini yang mengendalikan tubuh adalah Arga.

"J-Jimmy...", panggil Arga takut-takut.
"Ini buruk banget ya...", komentar Jimmy mengedarkan pandangan. Namun kemudian ia merogoh sesuatu di kantung, menyerahkan ke Arga

Sebuah masker hitam berlambang petir.

Arga terkejut dengan pemberian itu, kemudian mendongak ke Jimmy yang tersenyum ramah,

"Kita emang udah lama ga ketemu. Tapi saat ini kita lagi butuh Dirga. Switch dulu yuk", ucapnya ramah masih menyodorkan masker itu.

Meskipun ia sangat bingung...
Perlahan, Arga menerima masker itu. Memakainya.

Arga bisa mencium bau baru dari masker ini, tapi udara yang terhambat itu membangkitkan Dirga, membuatnya mengambil alih tubuh sekali lagi.

"Whatssup brother", panggil Jimmy, membuat Dirga menoleh. Mata ketakutan tadi sudah digantikan dengan mata penuh keberanian, dan mata itu sedang melihat tangan yang disodorkan hendak membantunya berdiri.

Kemarin ia menolak tapi kali ini...

Ia menerima tangan itu, menggunakannya untuk menarik tubuhnya sendiri.

"Thank you", ucap Dirga singkat, melihat ke sekuju jalan penuh kebakaran ini.

"...gimana lu tau gue ini satu badan sama Arga?", tanya Dirga agak segan, merasa sudah terbongkar. Jimmy terdiam sebentar.

"Hah? Ga ada yang tau?", Jimmy terbelalak dengan ekspresi menjengkelkan, membuat Dirga bergidik.

"Ga ada yang tau gue ini seorang sama Arga kecuali geng gue! Gimana lu bisa tau?!", seru Dirga mendesak Jimmy, mendekatinya sembari menyambar kerah bajunya.

"Gue gabisa ngebedain lu sama Arga jadi gue anggep lu kepribadian ganda! Ya kalo engga, 2 jiwa 1 badan. I'll keep your secret! I'm deeply sorry!", Jimmy buru-buru membela dirinya, mohon ampun ke Dirga.

"Oh ya! Tadi gue ketemu temen-temen lu, dan mereka minta sampein lu pesan", ucap Jimmy membenarkan posisi dan melepas diri dari Dirga, "Polisi bakal dateng dalam waktu 10 menit. Batalkan saja misi menumpas semua rantai hijau, fokus selamatkan Amanda, atau ringkus Liam Brandon",

"Hm...10 menit ya. Lokasinya udah ditemukan belum?", tanya Dirga, berharap Jimmy tau.

"Sorry bro, kalo yang itu gue gatau. Tapi kalo gue liat, ada setidaknya 100 orang di geng Rantai Hijau. Thunder udah dbantai", Jimmy memberi info lain yang membangkitkan ide Dirga,

"Kalau begitu kita gaboleh main bar-bar ya...", gumam Dirga mengurut dagu. Ia lalu berjongkok, menjambak rambut salah satu orang yang sudah dia hajar.

"Dimana Amanda?", tanya Dirga dengan rendah. Orang berkalung rantai itu hanya terkekeh, menertawakan Dirga yang berusaha mengorek informasi.

"Bangsat!", marah Dirga membanting kepala itu, membuatnya pingsan lagi.
"Jimmy! Bantu gue korek informasi, tanyain orang-orang dimana Amanda!", pinta Dirga ke Jimmy yang biasa netral.

"Tolong Jimmy, Amanda di dalam bahaya!", nadanya seolah memohon. Dari mata itu...Jimmy bisa merasakan kekhawatiran dan ketakutan terhadap kejadian yang bisa menimpan Amanda.

Rasa sayang, peduli, dan kasih.

"Ah...jadi begitu", respon Jimmy manggut-manggut paham. Ia mengangkat batnya, kemudian tersenyum, "Oke. Gue ada di pihak Thunder kali ini", setelah berkata demikian, ia kembali menghilang diantara api, mencari informasi keberadaan Amanda.

Di sisi lain...
Naisya menancap gasnya, memikirkan tempat-tempat yang mungkin ada Amanda.

Ia sampai nyaris berkeliling Jakarta Pusat, mencari tanda-tanda Amanda.

"Duh...man...lu kemana sih...", keluhnya menghela nafas, mengedarkan pandangan sambil menggenggam setir. Ia berbelok, dan melihat sebuah gedung kosong.

Entah mengapa dirinya mengatakan kalau Amanda ada di tempat itu.

Gedung kosong tidak terpakai diantara jalanan yang biasa dipakai untuk pasar...dan tidak jauh dibelakangnya api menyala-nyala, mengepulkan asap yang gelap diantara malam.

Naisya memutuskan untuk menelpon Dirga, mengambil handphone yang ia letakan di dekat tuas transmisi mobil.

Ia mengambil handphone tersebut, membuka kuncinya lalu mencari kontak Arga, karena ia tidak memiliki nomor Dirga. Gadis itu tidak tau mereka sebenarnya orang yang sama, terus percaya mereka berbeda.

Naisya menunggu nada dering di telinganya, menantikan suara pemuda yang rendah dan serat itu. Tapi nada dering itu tidak kunjung berhenti, membuat Naisya membatalkan panggilannya.

Ia tidak tau mengenai tawuran hari ini, ia merasa bahwa disana ada kebakaran biasa. Seharusnya ia curiga tidak ada pemadam kebakaran datang atau polisi, tapi pada akhirnya ia memilih untuk nekat, turun dari mobilnya.

Angin dingin malam ini terasa tidak ramah, membuat bulu kuduknya berdiri. Meskipun gila rasanya, Naisya melangkahkan kakinya menginjak tanah berlumpur, hendak memasuki gedung 2 lantai itu.

Sepertinya gedung ini sudah ditinggal puluhan tahun, terlihat dari tanaman yang merambat dan kerak yang ada di dinding, belum lagi bekas hujannya membuat lumut disana-sini. Selain itu, jendela dan akses masuknya ditutupi oleh triplek.

Sangat cocok untuk bersembunyi bukan?

Naisya mengelilingi bagian luar gedung itu, berusaha mencari celah masuk.

Barulah saat ia di bagian Selatan gedung, Naisya menemukan jendela terbuka yang muat dua orang. Tanpa pikir panjang ia segera masuk, melangkahi celah jendela itu dibantu dengan pencahayaan handphone.

Tidak perlu waktu lama bagi Naisya untuk menyadari bahwa tidak ada sinyal di gedung ini. Firasatnya jadi tidak enak.

Ia merasa ada yang tidak beres akan terjadi. Maka itu sekali lagi ia keluar ruangan untuk mencari sinyal, mengirimkan lokasinya pada Arga dan berkata,

"Arga, Amanda hilang. Gue lagi cari di lokasi ini. Kalo gue hilang, tolong ya"

Setelah berkata demikian ia kembali masuk, melangkah dalam diam. Ia berpikir bahwa ada orang di tempat ini, tapi ia tidak tau dimana.

Naisya menoleh kesana-sini, mematikan senter handphonenya agar tidak ketahuan.

Gadis itu mengendap-endap layaknya ninja, mencari gadis itu. Entah mengapa batinnya bilang ia ada disini.

Naisya menaiki tangga yang sudah rapuh dan ditutupi lumut, mencari tanda-tanda keberadaan gadis itu.

"Hah....hah...", Naisya mendengar suara lemah. Suara nafas.

Gadis itu mempercepat langkahnya, memasuki satu ruangan di sudut gedung lantai 2 ini.

Begitu ia berbelok, ia melihat Amanda.

Masih mengenakan pakaian rumah sakitnya, diikat kuat menggunakan tambang.

Wajahnya pucat, tapi tidak ada tanda-tanda kekerasan. Bibir gadis itu yang biasa berwarna merah sekarang kering pecah-pecah.

"Amanda!", bisik Naisya langsung mengeluarkan air minum di tasnya, kemudian berjongkok ke Amanda. Ia membantunya duduk terlebih dahulu, sebelum memberikannya minum.

Amanda langsung menenggaknya cepat-cepat, terlihat sangat haus. Bahkan ia menghabiskan air 250 ml itu.

Begitu habis, Amanda langsung menghirup nafas dalam-dalam, seperti sangat lega sudah mendapat pemasukan air.

"Sebentar man! Gue buka talinya!", bisik Naisya hendak mengeluarkan gunting dari tasnya. Namun Amanda melihat sosok lain sudah berdiri dibelakang Naisya, siap mengayunnya.

Mata gadis itu terbelalak

"NAISYA! AWAS!"

BRAK

DirgantaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang