Desiana meraih ponselnya yang berada di atas kasurnya dan berbaring disana masih dengan pakaian seragamnya yang belum ia ganti.Tanganya bergerak lincah dilayar ponsel membuka satu aplikasi belanja online untuk membeli barang. Sebenarnya Desiana sendiri tidak tahu akan membeli apa diaplikasi online itu. Tujuan nya ingin belanja online karna ia berharap yang akan mengantar paket ke rumahnya adalah Bang paket alis tebal itu.
Pilihannya jatuh pada sebuah kaos putih bergambar sepasang sepatu. Membeli itu saja sudah cukup kan? Jangan terlalu boros-boros, yang harganya murah saja.
Oke, sekarang Desiana tinggal menunggu paketnya datang dua hari dari sekarang. Dan harapannya semoga yang mengantar paketnya adalah Bang paket alis tebal.
****
Desiana sudah standby didekat jendela rumahnya guna memantau paketnya datang. Hari ini adalah hari dimana paketnya akan tiba, ponselnya pun sedari tadi ia pegang untuk terus mengecek lacak tukang paket yang akan mengantarkan kerumahnya.
Menunggu sedari tadi, sudah beberapa kali ia bolak balik ke kamar lalu kembali ke dekat jendela ruang tengah.
Desiana menscroll layar ponselnya sambil menyender ditembok jendela menunggu tukang paket datang dengan rasa bosan yang sudah mendominasi dirinya.
"Permisi, paket"
Tubuh Desiana siap siaga langsung berdiri tegak ketika mendengar suara mas-mas tukang paketnya.
Wajahnya langsung berbinar cerah berharap bang paket alis tebal lah yang datang mengantarnya. Desiana mencoba merapikan sebentar rambut dan bajunya sebelum ia menarik pintunya untuk ia keluar.
Berjalan diteras rumah dengan ponsel digenggaman tangan kirinya sambil menatap ke arah tukang paket yang sudah menunggu diluar pagar rumahnya.
Raut wajah Desiana berubah masam ketika mendapati tukang paket lain yang mengantarnya. Bahkan penampilan tukang paket saat ini terkesan tidak rapih.
Jaket bomber merah-hitam nya sangat kucel dan berdebu. Ditambah helm yang digunakannya terlihat kotor juga tubuh tukang paket ini gendut juga pendek.
"Paketnya mbak" Seru tukang paket itu memberikan pada Desiana.
Tangan Desiana terulur menerimanya dengan tangan kanannya memberikan sejumlah uang sesuai harga pada tukang paketnya.
"Makasih mbak" ucap Tukang paketnya dan Desiana hanya mengangguk sekali sebagai respons nya.
Desiana cepat-cepat berbalik berjalan kedalam rumah dengan decakan yang tak henti-hentinya karna merasa kecewa bukan Bang paket alis tebal yang mengantarkannya.
"Huh" Desiana melempar paketannya ke atas kasur dengan kesal "Percuma beli barang online kalo yang anternya ternyata tukang paket lain"
"Kan gue belanja online itu supaya bisa ketemu bang paket!!!!! Lah kenapa ini malah enggak?"
"Apes harapan gue" Desiana duduk ditepi kasurnya dengan lesu.
****
"Hahaha" tawa Intan pecah ketika Desiana sudah menceritakan kejadian sialnya kemarin.
"Makanya jangan berharap terlalu tinggi. Gini kan jadinya hahaha" Intan masih saja meledek Desiana yang sudah merasa dongkol.
"Kan tadinya itu niatnya biar Bang paket alis tebel yang anterin ke rumah guenya, bukan tukang paket gendut kucel!" Ucap Desiana kesal.
"Hahaha...kasian banget Lo cup, cup, cup jangan nangis ya"
"Apaan sih. Enggak nangis ya, cuma kesel doang" sahut Desiana.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bang Paket ∆END∆
Humor"Permisi, paket" Gak tahu kapan pertama kali gue liat tukang paket, tapi pas waktu mau berangkat sekolah, gak sengaja dijalan ketemu sama Abang paket yang punya sejuta pesona. Siapa sangka, Abang paket yang suka nganterin paket dengan penampilan cir...