∆Bang Paket 36∆ Prosesi lamaran

21 6 0
                                    


Diam duduk disatu kursi memperhatikan interior rumahnya yang sedikit diubah. Sofa-sofa diruang tengah dipindahkan dan diganti dengan karpet juga gorden rumah yang diganti dengan yang lebih baru. Tatanan dimeja panjang sudah disiapkan berbagai hidangan juga buah-buahan untuk cuci mulut nanti. Begitupun dengan mama juga Tante Dewi yang terlihat sangat antusias mempersiapkannya dan menyuruh orang-orang suruhan untuk sedikit menghias rumahnya.

Papa sudah pulang kerumah dan meninggalkan pekerjaan sebagai mandor diluar kota demi putri satu-satunya ini yang sebentar lagi akan melakukan prosesi lamaran.

Hembusan nafas keluar dari mulut Desiana, ntah apa ini sudah benar atau bagaimana tapi ia senang. Sebentar lagi dari pihak keluarga Yasaya akan segera datang. Dirinya sekarang juga sudah digiring ke kamar untuk didandani oleh juru hias yang sudah mamanya sewa.

Jantung Desiana bahkan sampai saat ini tak berhenti untuk berdetak normal. Keadaan jantungnya benar-benar membuat Desiana gelisah atau semacamnya. Desiana sudah memakai kebaya modern untuk acara lamarannya. Wajahnya juga sudah dipoles oleh makeup dan tentu saja rambutnya disanggul tak terlalu tinggi.

Intan bahkan sudah ada menemani dirinya dikamar dan akan menjadi pendamping dirinya keluar nanti. Dari keluarga besar Desiana sendiri sudah datang dari kemarin, ada sebagian yang menginap dan ada yang baru datang tadi pagi. Banyak yang tak menyangka apalagi dari pihak keluarganya sendiri, baru selesai SMA dan baru masuk kuliah sudah ingin lamaran. Memang tidak masalah hanya saja terkesan akan cepat menikah pikir Desiana jika sudah melakukan prosesi lamaran.

Tapi bukanya dari keluarga Yasaya sendiri tidak masalah jikalau nikahnya kapan saja? Dan Desiana juga dibiarkan untuk menganyam pendidikannya dahulu bukan? Jadi Desiana pikir semuanya akan baik-baik saja.

"Tan" panggil Desiana yang masih duduk dikursi meja riasnya sedangkan intan tengah memperbaiki riasannya juga diatas kasurnya.

"Hmm" sahut Intan.

"Gue deg-degan" ucap Desiana jujur pada apa yang dia rasakan sekarang.

"Bukan cuma Lo yang ngerasa deg-degan. Gue juga. Padahal Lo yang mau lamaran kenapa gue ikutan deg-degan ya?"

"Menurut Lo ini semua baik kan?" Tanya Desiana.

"Baik gimana maksudnya? Lamaran ini?" Desiana mengangguk atas pertanyaan Intan "menurut gue sih ini baik banget. Lagian juga kalo ini ada diposisi gue, gue gak masalah, justru bakal berasa seneng. Apalagi kan Lo lamaran sama pacar Lo, Bang Paket alis tebel lagi ini. Kalo mau tukeran ayo aja, gue siap gantiin Lo kalo gak siap"

Desiana terkekeh sedikit mendengar sahabatnya itu bicara. Apa katanya tadi? Tukeran? Tentu saja tidak mau.

Ceklek

Suara pintu kamar yang dibuka dari luar membuat Desiana maupun intan menoleh.

"Des" panggil mamanya berjalan masuk "Ayo keluar, keluarga Yasaya semuanya udah dateng" ucap mamanya memberi tahu.

Desiana menelan Salivanya, sedikit tegang juga gugup yang dirasa membuat jantungnya semakin berdebar tak karuan. Lalu tiba-tiba perutnya terasa bergolak tidak nyaman dan membuatnya semakin merasa aneh.

"Ayo Des" Intan berdiri dari duduknya dan segera berjalan mendekati Desiana untuk menggandengnya keluar dari kamar.

Keluarga Yasaya sudah duduk di karpet ruang tengah yang sudah dihamparkan sedari tadi. Semua orang-orang duduk berjajar dan ada beberapa hidangan dihadapan mereka seperti air dan makanan kecil sebagai jamuannya. Dari pihak keluarga Desiana juga sama, duduk berjajar berhadapan dengan keluarga dari Yasaya.

Yasaya sendiri sudah duduk dibarisan depan dengan diapit oleh kedua orang tuanya dengan memakai kemeja batik berwarna coklat tua dan celana bahan berwarna hitam. Menjadi orang pertama yang melihat turunnya Desiana dari tangga dengan memakai kebaya berwarna putih dan songketnya yang berwarna coklat berjalan dengan anggun  dengan dua pendamping dimasing-masing sampingnya yang tak lain mamanya juga sahabatnya. Melihat Desiana membuat Yasaya tersenyum seri dan membuat detak jantungnya berpacu lebih cepat.

Desiana ditempatkan untuk duduk dibarisan keluarganya dan berhadapan tepat dengan Yasaya. Keduanya saling melirik satu sama lain dan membuat yang lain bersiul juga menggoda keduanya hingga membuat keduanya tersipu malu.

"Kamu cantik Na" puji Yasaya membuat banyak godaan dari kedua belah keluarga, terutama Silvi adiknya Yasaya yang semakin gencar menggoda, dan menjadikan Desiana semakin tersipu malu bahkan sampai terus menunduk.

"Cek cek"

Itu suara papanya Desiana yang berdiri dengan satu mic ditangannya.

"Selamat datang untuk semua tamu dari pihak keluarga Yasaya. Pertama-tama mari kita ucapkan syukur pada Allah SWT karna telah diberi kesempatan untuk bisa berkumpul dan bertemu diacara prosesi lamaran ini. Untuk itu mari kita langsung saja membuka acaranya" Ucap Papanya Desiana.

Acara lamaran pun segera dimulai. Mula-mula dari bagian acara permintaan dari pihak keluarga Yasaya juga penerimaan dari pihak keluarga Desiana. Dilanjut dengan tukar cincin dimana berjalan dengan semestinya walau banyaknya godaan-godaan dari kedua belah pihak dan membuat keduanya tersipu malu. Sampai akhirnya para keluarga Yasaya dipersilahkan untuk mencicipi hidangan makanan yang sudah disiapkan untuk prasmanan nya.

"Makasih Na, aku ngerasa bahagia"

"Aku juga"

****

Beberapa bulan berjalan dengan lancar. Desiana disibukan dengan tugas-tugas kuliahnya, sementara Yasaya sedang mencari pekerjaan. Mencoba melamar pekerjaan diberbagai perusahan. Satu Minggu ini, Yasaya berhasil sudah mendapatkan pekerjaan sebagai manager disebuah perusahaan.

Saat ini, Yasaya dan Desiana sedang menikmati lontong sayur disebuah pedagang pinggir jalan yang memakai gerobaknya juga kursi-kursu plastik sebagai tempat duduknya. Memang sederhana namun itu selalu menjadi tempat favorit keduanya untuk menikmati makan.

Desiana juga lebih sering main kerumah Yasaya sekarang, atau begitupun sebaliknya. Yasaya maupun Desiana sudah sangat akrab dengan keluarga masing-masing. Desiana juga kerap membuat kue bersama Silvi juga Bundanya Yasaya. Atau bahkan hanya sekedar mengantarkan kue buatan mamanya untuk bundanya Yasaya.

Tapi semua itu tiba-tiba terasa gamang ketika Bunda meminta Desiana agar cepat menikah dengan Yasaya. Ntah itu hanya sekedar candaan atau gurauan biasa namun Desiana memasukan kalimat Bunda kedalam hatinya. Pada akhirnya kalimat itu malah menjadi beban sendiri untuk Desiana. Bukanya ia tidak mau, hanya saja ia belum siap. Apalagi ia juga masih belum lulus kuliah, bahkan masih lama.

Suatu hari itu ketika Desiana dan Bunda sedang membuat kue bersama untuk Yasaya juga ayahnya, Bunda sempat berkata.

"Des, Bunda seneng loh kalo bisa bikin kue bersama gini. Seneng Bunda kamu sering main kesini dan temenin Bunda"

Walau pada hari itu Desiana juga sedang sibuk-sibuknya dengan tugas kuliah namun ia selalu sempatkan untuk berkunjung atau bermain sebentar.

"Jika nanti kamu udah nikah sama Yasa, Bunda pengen banget cepet dapet cucu. Apalagi kan umur Yasa juga udah siap untuk menikah. Bunda harap kalian bisa cepet-cepet buat langsung ke jenjang yang lebih serius lagi"

Kala itu, Desiana hanya dapat tersenyum dan tidak berkata apapun. Lebih tepatnya ia tidak tahu harus berucap bagaimana.

"Apalagi sekarang Yasa udah kerja, udah bisa hasilin pendapatan sendiri, Bunda rasa kalian udah cocok untuk menikah. Kalo soal kuliahnya, itu kan masih tetap bisa dilanjut kan?"

Waktu itu Desiana hanya mengangguk. Tersenyum sebagai tanggapannya walau hatinya tak sesuai seperti itu.

****

13-Oktober-2021
1092 Words

∆AtnisDisGrace∆



Bang Paket ∆END∆Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang