Desiana didapur sendirian tengah membuatkan mie instan untuk Arta dan Yasaya. Jangan salahkan Desiana yang terlalu bersemangat untuk membuat mie buatannya spesial untuk Bang Yasa alis tebal.
Desiana bahkan tak habis pikir. Bisa-bisanya tukang Paket alis tebal yang ia kagumi ternyata adalah teman lama Bang Arta. Padahal seingat Desiana, dulu alis Yasaya tak setebal sekarang.
"Yang bilang dunia sempit cuma segede daun kelor, ternyata itu bener. Kita ketemu lagi sama orang yang sama diwaktu sekarang" gumam Desiana sebari menunggu Mie yang direbus.
"Bang Yasa, bang Yasa. Bisa-bisanya gue jadi suka sama Bang Yasa temen SMA nya bang Arta."
"Gak nyangka banget ya?"
"Padahal dulu..." sebenernya Desiana ingat tak ingat karena sudah lama "Padahal dulu, gue anggep Bang Yasa ya cuma sebatas Abang aja kan?"
"Kok sekarang malah jadi suka? Cinta lagi!"
"Udah beres Des?"
Tiba-tiba sosok Arta datang ke dapur membuat Desiana cukup terkejut akan kehadirannya.
"Oh, bentar lagi Bang" jawab Desiana yang sedang menuangkan mie kedalam mangkuk yang sudah berisi bumbunya.
"Langsung anter aja ke ruang tengah ya Des" titah Arta pada Desiana.
"Enak aja. Punya Bang Arta bawa sendiri lah. Nanti tangan aku kan susah bawanya kalo dua" balas Desiana.
"Kan sekalian" Ucap Arta.
"Ya sekalian bang Arta bawa sendiri. Enak banget jadi raja, ngebabuin aku" cibir Desiana.
"Kan nanti dikasih upah"
"Ya tetep bawa sendiri lah. Biar punya Bang Yasa aku yang bawa. Gak papa, ikhlas kalo bawa yang ini" Ucap Desiana dan melenggang pergi mendahului berjalan ke ruang tengah dengan semangkuk mie diatanganya.
Mau tak mau Arta pun mengalah membawa mangkuk mie nya sendiri mengikuti langkah Desiana yang berjalan ke arah ruang tengah.
Desiana sudah menampilkan senyumnya pada Yasaya yang sedang duduk dengan ponsel ditangannya.
"Ini mie nya Bang, silahkan dimakan" Ucap Desiana menaruh mangkuk mienya diatas meja.
"Makasih ya Na" ucap Yasaya menerimanya.
"Iya bang, sama-sama" balas Desiana tersenyum senang mendapat senyum yang terukir indah diwajah Yasaya.
Desiana beranjak dari sana saat Arta bergabung duduk bersama Yasaya.
"Mau kemana Des?" Tanya Arta memanggil kembali Desiana yang akan kembali ke meja makan.
"Lanjut makan"
"Disini aja. Gabung sama kita" Ajak Arta mengerti dengan keinginan hati Desiana.
"Oh iya. Disini aja Na, biar rame" Tambah Yasaya.
"Eh. Iya" Desiana mengangguk tersenyum. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan tawaran untuk bergabung makan bersama Bang Yasa.
Desiana berjalan untuk mengambil piring makannya yang masih tersisa. Pikirnya mengapa sekarang Bang Yasa terlihat akrab padanya. Seolah Bang Yasa dan dirinya sudah kenal lama dan begitu dekat.
Padahal kan, Desiana dulu hanya sebatas tahu Yasaya sebagai teman dari abangnya. Dan untuk sekarang pun begitu, bahkan Desiana lebih mengenalnya sebagai tukang paket sekarang.
Desiana memilih duduk disamping Arta saja. Ia lebih memilih posisi aman agar jantungnya tetap sehat dan ia bisa lanjut makan dengan tentram tanpa adanya suara pacu jantung yang berdebar kencang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bang Paket ∆END∆
Humor"Permisi, paket" Gak tahu kapan pertama kali gue liat tukang paket, tapi pas waktu mau berangkat sekolah, gak sengaja dijalan ketemu sama Abang paket yang punya sejuta pesona. Siapa sangka, Abang paket yang suka nganterin paket dengan penampilan cir...