Hari ini Intan tidak masuk sekolah karna sedang sakit. Alhasil Desiana berangkat dan pulang sekolah sendirian.Bell pulang sekolah berbunyi dan Desiana pun langsung mengemasi barang-barang nya kedalam tas bersiap untuk pulang.
Pandangannya mengarah pada jendela disampingnya yang memperlihatkan langit abu dengan awan tebal yang menghitam menandakan hujan akan segera turun.
"Des Lo pulang sendirian hari ini?" Tanya Riri disampingnya.
"Iya Ri" jawab Desiana.
"Mau bareng gue aja gak?" Tawar Riri.
"Gak usah ah. Arah rumah kita kan beda. Nanti Lo malah harus muter kalo gue nebeng" Ucap Desiana selesai mengemas barang-barangnya.
"Emang Lo bawa payung? Kayanya bakalan ujan sebentar lagi" Ucap Riri.
"Gak bawa sih. Tapi kan bisa naik angkot. Lo tenang aja" Ucap Desiana.
"Yaudah kalo gitu. Mau bareng ke gerbangnya?" Tawar Riri.
"Bareng dong" balas Desiana dan berjalan keluar bersama Riri.
****
Ternyata niatnya untuk pulang naik angkot tidak jadi. Tidak ada satupun angkot atau kendaraan umum yang lewat didepan sekolahnya. Padahal Langit sudah benar-benar mendung dan siap mengguyur bumi dengan hitungan detik saja.
Daripada diam didepan sekolahnya menunggu angkot yang belum pasti akan datang. Desiana lebih memilih untuk berjalan pulang sendirian, mungkin nanti ia akan menemukan kendaraan umum.
Harapannya masih belum terwujud. Tidak ada angkot yang lewat saat ini. Bahkan kini jalanan yang Desiana lewati nampak sepi dan gelap karna rindangnya pepohonan disepanjang jalan dan karna langit yang mendung tak ada sinar sedikitpun.
Rasa takut dan khawatir sudah muncul Sedari tadi pada diri Desiana. Ia takut hujan akan turun dan membuatnya basah kuyup.
Saat Desiana berjalan terburu-buru, satu motor berhenti tepat disamping Desiana dan membuat gadis itu menoleh kesampingnya.
Deg deg deg
Jantung Desiana kembali berdetak Abnormal setelah melihat motor siapa yang kini berhenti disampingnya.
"Kenapa sendirian?"
Desiana menoleh ke kanan-kiri, belakang dan sekitarnya memastikan bahwa kini Bang paket tengah bertanya padanya atau bukan.
"Mau saya anter pulang?" Tawarnya membuat hati Desiana langsung berdenyut kegirangan.
"Hmm..." Disaat seperti ini mulut Desiana malah kaku dan susah untuk bicara bahkan menjawab ucapan Bang paket.
"Sebentar lagi bakal hujan" Sambung Bang Paket.
Desiana masih diam melirik Bang Paket. Dibelakang jok motornya tidak ada barang paket satupun. Bang paket sendiri juga tidak memakai jaket bomber merah-hitam Citi khas tukang Paketnya.
Apa hari ini Bang Paket sedang tidak jadi tukang paket? Apa hari ini Bang Paket tidak bekerja?
"Gimana?" Tanya Bang Paket yang melihat Desiana hanya diam dengan pemikirannya.
"Hm iya" Desiana mengangguk cepat dan segera duduk dijok belakang motor metik hitam milik Bang Paket.
Motor segera melaju pergi dari sana. Angin berhembus semakin kencang saat motor metik hitam Bang Paket melaju dengan kecepatan lumayan tinggi. Desiana sendiri bahkan harus berpegangan pada belakang jok motor.
Rasa dingin semakin terasa menembus dikulit Desiana yang hanya memakai seragam sekolah saja.
Rintik hujan sudah terasa dipermukaan wajah Desiana. Sedikit lagi hujan akan segera turun dan memang benar. Hujan langsung turun dengan derasnya dan membuat motor metik Bang Paket terpaksa harus menepi di halte terdekat yang ada dipinggir jalan agar mereka berdua tak basah kuyup.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bang Paket ∆END∆
Comédie"Permisi, paket" Gak tahu kapan pertama kali gue liat tukang paket, tapi pas waktu mau berangkat sekolah, gak sengaja dijalan ketemu sama Abang paket yang punya sejuta pesona. Siapa sangka, Abang paket yang suka nganterin paket dengan penampilan cir...