∆Bang Paket 37∆ Bandara

17 8 0
                                    


Desiana menatap sendu ke arah Yasaya yang sedang membereskan baju-bajunya kedalam koper hitamnya. Sudah siap dengan pakaian jaketnya, topi hitam juga masker dan tas ransel dipunggungnya.

"Beneran harus pergi ya?" Tanya Desiana masih duduk ditepi ranjang kamar Yasaya.

Yasaya mengangguk singkat dan menutup kopernya yang sudah siap untuk ia bawa ke bandara.

"Satu tahun ya disana?" Tanya Desiana lagi dan lagi Yasaya mengangguk menjawabnya.

"Ini kan urusan pekerjaan Na, mau gak mau aku harus mau untuk dipindah tugaskan ke luar kota. Ini juga untuk kelancaran pekerjaan aku Na" jawab Yasaya.

"Kenapa ngedadak gini? Nanti satu tahun kita gak akan ketemu gitu?"

"Kan bisa telponan atau Vidio call Na" balas Yasaya.

"Tapi rasanya bakal beda" ucap Desiana, hatinya merasa sedih jika akan ditinggal Yasaya satu tahun.

"Na" Yasaya kini berdiri dihadapan Desiana "Aku kerja juga buat ngumpulin uang buat kita nanti Na. Jangan sedih ya, nanti aku ada sesuatu buat kamu"

"Gak bisa tolak aja tawaran buat pindah tugas nya sana atasan kamu?" Tanya Desiana.

"Gak bisa Na"

Melihat wajah murung Desiana, Yasaya jadi tidak tega. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus melakukannya.

"Jangan sedih Na. Kita jalan sekarang ya? Aku harus cepet berangkat. Jadwal penerbangannya sebentar lagi" ucap Yasaya membuat Desiana mengangguk dan berdiri keluar dari kamar Yasaya.

Mobil Ayah sudah disiapkan didepan rumah. Kali ini Ayah yang akan mengantar sekaligus yang menyetir mobilnya untuk mengantarkan Yasaya ke bandara. Bunda juga ikut duduk didepan bersama Ayah. Sedangkan Desiana dan Yasaya duduk dikursi penumpang.

Sepanjang jalan Desiana tak berhenti menatap Yasaya dari samping. Sempat melihat ke arah lain, namun tetap kembali menatap Yasaya.

"Jangan sedih Na, senyum dong" pinta Yasaya pada Desiana.

Desiana hanya menatap Yasaya dengan raut wajah sendu tak ada senyuman walau segaris tipis pun.

"Orang mana yang bisa senyum kalo mau pisah dan ditinggal pergi sama tunangannya, iya kan Des?" Ucap Bunda sempat melirik ke belakang.

Desiana hanya menunduk, menghembuskan nafasnya dan meratapi perpisahan yang akan terjadi.

Kini Mobil hitam milik ayahnya sudah berhenti didepan Bandara. Yasaya dan Desiana segera turun dari mobil. Berbeda dengan Ayah dan Bunda yang tinggal di mobil. Langkah kaki Desiana dan Yasaya beriringan menuju pintu masuk Bandara dengan koper yang diseret ditangan kiri Yasaya dan tangan kanannya yang digenggam Desiana.

Langkah Yasaya berhenti ketika sedikit lagi akan masuk pintu Bandara, ia berbalik untuk menghadap Desaiana masih dengan tangan yang digenggamannya.

"Jaga diri baik-baik ya Na, jangan sedih. Kalo kangen bisa Vidio call aku" Ucap Yasaya mengusapi rambut Desiana.

"Pengen lihat wajahnya" pinta Desiana dan Yasaya langsung menurunkan masker yang dipakainya dengan senyuman yang sudah terhias. "Bakalan kangen banget" lirihnya menatap Yasaya tepat dikedua bola matanya.

"Gak bakalan lama Na, nanti juga bakalan pulang" Ucap Yasaya.

Seketika air mata yang sudah dipelupuk matanya kini menetes perlahan membuat Yasaya segera mendekap Desiana kedalam pelukannya. Kini kedua tangan Yasaya digunakan untuk mengusapi rambut juga punggung Desiana agar membuat gadisnya merasa tenang. Pelukan terlepas dengan Desiana yang menarik dirinya terlebih dahulu dan kembali menatap wajah Yasaya.

"Jaga kesehatan disana, jangan lupa buat kabarin kalo udah sampe. Cepet pulang" Ucap Desiana membuat Yasaya terkekeh dan mengangguk.

"Iya, pasti cepet pulang kok. Tungguin aku ya Na" Desiana mengangguk dengan ucapan Yasaya "kalo gitu aku jalan, jangan sedih Na, senyum dong"

Desiana berusaha tersenyum untuk permintaan Yasaya. Dipikirannya kapan lagi ia akan tersenyum untuk Yasaya jika bukan untuk saat ini yang diberi kesempatan. Yasaya mulai menaikan kembali masker yang dipakainya lalu tangannya kini sudah memegang pegangan kopernya suap untuk masuk.

"Dah Na" Yasaya berjalan dengan tangan yang melambai pada Desiana. Begitupun Desiana juga melambaikan tangannya pada Yasaya.

Setelahnya, kini Yasaya sudah masuk kedalam Bandara dengan menggeret koper bawaannya. Desiana hanya diam mematung ditempat, hembusan nafasnya kembali keluar dengan gusar.

Dipikiran Desiana sekarang, apa jika memang dirinya dan Yasaya sudah menikah, mungkin Yasaya tidak akan meninggalkannya dan akan menuruti permintaannya untuk tetap disini. Dengan berfikir begitu saja berhasil membuat pikiran Desiana berkecamuk melanglang buana tak tentu arah. Memikirkan bagaimana Yasaya tinggal ditempat lain selama satu tahun penuh. Apa dirinya dan Yasaya siap untuk LDR dan membuat jarak yang jauh Anatar mereka. Apa nanti Yasaya masih akan mengingatnya, bagaikan jika nanti disana Yasaya punya...oh tidak-tidak. Seharusnya Desiana tidak berpikir sejauh itu bukan.

Tapi kini justru ia sendiri yang mati ketakutan akan pikiran-pikiran yang belum tentu terjadi.

"Des" Desiana menoleh ke belakang akan panggilan yang berasal dari Ayahnya Yasaya "ayo masuk. Kita pulang" ajaknya.

Dengan begitu, Desiana dan Yasaya benar-benar terpisah dibandara ini, tidak tahu sampai kapan.

****

Desiana membuka pintu rumahnya, ia baru saja diantarkan oleh mobil Ayah Yasaya pulang kerumah.

"Yasaya nya udah berangkat Des?" Tanya Sang Mama langsung ketika melihat putrinya sudah pulang.

Desiana mengangguk lesu, duduk disofa menatap layar televisi yang sedang menampilkan sebuah siaran.

"Gak usah sedih dong Des, nanti Yasaya juga pulang lagi" Ucap mamanya menghibur Desiana "Kamu baru beberapa menit pisah sama Yasaya loh, sedangkan mama? Mama itu udah sering ditinggal papa keluar kota buat urusan pekerjaan"

Desiana menoleh menatap mamanya "Pas mama pertama ditinggal papa buat kerja, Mama sedih gini juga gak?" Tanya Desiana.

"Sedih lah, siapa yang gak sedih kalo ditinggal pergi" jawab mamanya "Tapi kan, itu semua juga buat kita juga. Contohnya papa pergi dan tinggal diluar kota kan itu buat cari uang, dan uangnya itu kan untuk kita keluarganya. Sama halnya Yasaya yang pergi, itu kan juga buat kamu Des"

"Hmmm...Desi ke kamar dulu mah, mau tidur aja" Ucap Desiana.

"Yaudah, istirahat aja. Selamat malam" Ujar mamanya.

Desiana mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya. Dibaringkan tubuhnya diatas kasur dengan ponsel ditangannya. Sudah jam 19.55 malam. Desiana pikir Yasaya sudah tiba karna mengingat Yasaya berangkat tadi sekitar jam tiga sore. Desiana mencoba untuk menekan tombol Vidio call pada kontak Yasaya. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik hingga akhirnya sambungan langsung terhubung dan membuat Desiana terbangun untuk duduk.

"Hallo"

Mendengar suara sapaan dari Yasaya membuat Desiana tersenyum haru dengan menutupi setengah mulutnya.

"Udah sampe?" Tanya Desiana.

Terlihat Yasaya mengangguk lalu berjalan mengelilingi kamar hotel yang menjadi tempatnya disana.

"Kenapa gak telpon duluan, emang baru sampe banget ya?" Tanya Desiana.

"Lumayan, baru aja abis bersih-bersih. Maaf gak sempet telpon duluan"

"Gak papa. Aku seneng bisa lihat kamu" Ucap Desiana menatap layar ponselnya dimana terlihat wajah Yasaya disana.

"Kangen ya?" Tanya Yasaya dengar tersenyum jahil.

"Iya" Angguk Desiana jujur.

****

13-Oktober-2021
1044 Words



∆AtnisDisGrace∆


Bang Paket ∆END∆Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang