Apa jadinya jika pengabdi ketenangan berpacaran dengan pemuja keramaian?
Dua sisi yang saling bertentangan kini bertabrakan, hancur dan berantakan. Puing-puingnya masih ada, berserakan di mana-mana. Hampir saja melukai banyak orang yang melintas di...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"May you know the softness that comes from being well-loved."
~>')~~~
Wahiya, Helen, serta Mua yang baru saja menapakkan kaki di atas anak tangga pertama langsung melongo heran saat melihat seorang gadis berkucir dua tengah berlarian sembari membawa banyak sekali makanan yang memenuhi tangan. Zura, gadis berkerudung putih itu menoleh kepada Sharona, lalu menggeleng-gelengkan kepala seraya menerbitkan senyuman semanis gula.
"Punten (permisi) .... Geseran atuh, ih!" Sharona sengaja menabrak tubuh Wahiya semata-mata agar gadis itu mau menghindar dengan tujuan memberinya kesempatan untuk berdiri di atas anak tangga paling depan.
"Ogah!" Berbanding terbalik dengan pola wajahnya yang imut nan menggemaskan, terkadang Wahiya menyahut dengan nada ngegas, memang sudah menjadi ciri khas.
Mengangkat ujung bibir malas, Sharona pun menggigit donat cokelat yang baru ia ambil dari dalam mika hingga meluruhkan toping mesis di atasnya.
"Ron ... lamundaharteh baridiuk (kalau makan itu sambil duduk). Tong hilapmaca (jangan lupa baca) bismillah," tegur Zura yang dianggukki oleh Wahiya di sampingnya.
"Hehe ... enya." Sharona menyengir kuda, lalu terburu-buru menengadahkan kedua tangan dengan donat masih terapit di sela jemari. "Bismillahirahmanirrahim, aamiin."
"Bagi-bagilah, gak boleh serakah!" paksa Helen mengambil donat keju yang nyaris masuk ke dalam mulut sahabatnya.
Terlihat gadis dengan warna sepatu lain sebelah itu berkomat-kamit tanpa suara. Namun dapat terbaca jelas oleh mereka semua.
"Aing tuh menjunjung tinggi salah satu metodologi dalam ilmu ekonomi." Sharona menjilat jari telunjuk yang terkena cokelat. "Fallacy of composition, yang artinya apa yang terlihat baik dalam skala kecil,belum tentu terlihat baik dalam skala besar."
Helen mengerutkan dahi begitu dalam. Zura sebisa mungkin menahan senyuman. Wahiya memicingkan mata seraya menganga lebar. Sementara Mua masih tetap menampilkan wajah datar.
"Salaku conto (misalnya), hirup hemat eta memang baik untuk setiap jalma (orang), tapi teu salawasna (tidak selalu) baik untuk negara. Maraneh bayangkeun (kalian bayangin), lamun semua jalma di Indonesia hirup hemat, maka pertumbuhan ekonomi akan menurun. So, bisa dibilang aing ieu (gue ini) lagi ngabantu pertumbuhan ekonomi negara urang (kita) tercinta."
Mengerjapkan mata, Wahiya menoleh pada Helen di sampingnya. Sedangkan gadis berambut pirang dengan tubuh proporsial itu langsung men-scroll layar ponsel untuk bertanya kepada mpu google kesayangan.