Apa jadinya jika pengabdi ketenangan berpacaran dengan pemuja keramaian?
Dua sisi yang saling bertentangan kini bertabrakan, hancur dan berantakan. Puing-puingnya masih ada, berserakan di mana-mana. Hampir saja melukai banyak orang yang melintas di...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Whatever happened, I still love you."
✧\(>o<)ノ✧
Pagi tadi, Mua benar-benar meragukan rencana Sharona yang sudah tersusun rapi. Gadis itu bilang, ia akan berbicara empat mata dengan Sadam bahwa Mua beserta anak-anak olim lainnya telah mengadakan pertemuan guna menjalani bimbingan di Malang satu hari satu malam.
Awalnya Mua tidak terlalu berekspektasi tinggi kalau Sadam akan percaya begitu saja, bahkan ia sudah bersiap untuk mengirimi pesan kepada Rayyan guna membatalkan janji yang telah mereka rencanakan, namun Sharona menguatkan dengan selembar surat izin yang sudah ditandatangani oleh Pak Zholik serta cap stempel dari pihak sekolah.
Mua terperangah, perihal bagaimana cara Sharona mendapatkan itu semua dengan mudah masih menjadi tanda tanya. Ada rasa deg-degan kala Sadam mulai menggulirkan bola mata, mengeja kata demi kata, membaca dari atas sampai bawah. Mua kira Sadam akan menelisik lebih jauh lagi, namun ternyata malah anggukkan setuju yang ia suguhkan di depan kedua gadis itu.
"Kenapa lo gak bilang dari tadi malam?" tanya Sadam kepada sang adik yang sudah berpakaian kasual, siap berangkat beberapa menit ke depan.
Mua menunduk dalam guna menyembunyikan senyum kemenangan. "Kan surat izinnya ketinggalan, jadi gue takut kalau Abang gak percaya. Tapi untungnya ada Rona."
"Nya-enya, aing tehnyahopisan lamun ieupenting, makanaaingpagi-pagi udahdugi kadieu," tambah Sharona berupaya membuat Sadam percaya. "Kamu, sih ... lamunpulang tuhtongburu-buru."
"Ya maaf," sahut Mua mengikuti alur drama yang ada.
Puk!
"Awh!" Mua mengusap-usap kepala ketika Sadam memukul menggunakan gulungan kertas dalam genggaman.
"Ceroboh banget jadi orang," kesalnya kemudian. "Ya udah, sana, ntar telat loh. Bandung-Malang jaraknya lumayan. Apa mau gue antar sekarang?"
"JANGAN!!" pekik Mua dan Sharona bersamaan, sukses membuat Sadam melotot tajam penuh kecurigaan.
"Em ... maksud gue. Kan titik kumpul sama kendaraan udah diatur, jadi biar gak riweuh aja. Kalau Abang yang ngantar juga masa iya pake motor? Mendingan gak usah deh. Soalnya sayang biaya, hehehe ...," kekeh Mua di sana, persis seperti ODGJ yang asal dalam berbicara, namun masih terstruktur dalam konsep yang mereka bawa.
"Gue kan nawarin buat ngantar ke titik kumpul, bukan ke Malang. Gila aja gue hari ini gak ngojek, gak ada pemasukan ntar," desis Sadam membuat helaan lega mulai terdengar.
"Kirain ...," kata Sharona sembari mengusap-usap dada. "Alhamdulillah."
"Kalau mau ngajak gue juga gak papa. Asal semua biaya guru lo yang nanggung."