Apa jadinya jika pengabdi ketenangan berpacaran dengan pemuja keramaian?
Dua sisi yang saling bertentangan kini bertabrakan, hancur dan berantakan. Puing-puingnya masih ada, berserakan di mana-mana. Hampir saja melukai banyak orang yang melintas di...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"A listener needs a listener too."
▼・ᴥ・▼
Mua mengangkut beberapa piring bekas di atas nampan, lantas bergegas masuk menuju ke dalam untuk segera mencuci sebab keadaan kantin semakin ramai. Lima belas menit setelah bel istirahat berbunyi, kondisi sudah tidak dapat lagi terkendali. Suara bising dari masing-masing kepala mulai memenuhi setiap sudut ruang di bawah teriknya sinar mentari siang.
Tumpukan piring yang menjulang tinggi membuat Mua sedikit merasa kesulitan, namun tetap fokus memperhatikan jalan, takut-takut kalau kakinya tersandung lantas mengacaukan keadaan. Cukup menyengsarakan hanya dengan membayangkan.
"Saya mau beli apa?"
Seutas pertanyaan mengganjal berhasil menghentikan langkah Mua secara spontan, membuat gadis dengan cardigan hijau toska menolehkan kepala seraya mengerutkan dahinya, teramat heran dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah Rayyan. Lelaki itu sudah berdiri di depan meja pemesanan menghalangi banyak pelanggan yang baru saja datang.
"Manalah kutahu!" tegas seorang wanita bertubuh gempal dengan celemek menutupi pakaian bagian depan. Tampaknya ia merasa kewalahan hanya dengan mendengar helaan napas dari Rayyan. Lelaki itu memang selalu hadir membawa segala hal menyebalkan.
"Buset dah. Galak betul," goda Rayyan tak memedulikan perubahan wajah signifikan dari wanita paruh baya yang tengah menjadi lawan bicaranya sekarang. "Ya udah. Kalau gitu, ayam biasa atau ayam spesial?" tanyanya memberi pilihan, sedikit mengajak perang.
Rayyan menaik-turunkan alis dengan kedua tangan sudah bertumpu di atas meja membentang panjang. Sementara Mua yang menjadi target curi-curi pandang segera melanjutkan langkah guna menghindar. Malas sekali rasanya jika harus berurusan dengan laki-laki tukang gombal seperti Rayyan.
"Ayam spesial aja, enak kurasa," rekomendasi Mak Gansa, pemilik area kantin utama.
Rayyan mencebikkan bibir sembari berpikir. "Salah! Jawabannya adalah ayam biasa."
"Kok malah jadi kayak ujian lisan kutengok. Beli aja kau di sana, jangan di sini!" usir Mak Gansa sembari mengangkat wajan berukuran sedang, berupaya membuat mental Rayyan menyusut sebab lelaki itu selalu memancing keributan.
"Ayo! Yang di belakang majulah kalian ke depan!" pintanya dalam rangka habis kesabaran.
"Eiitts, gak bisa." Dengan sigap Rayyan merentangkan kedua tangan, berupaya menghalangi orang-orang yang hendak menggantikan posisinya di depan. "Layani saya dulu," angkuhnya sembari menepuk-nepuk dada yang sengaja dibusungkan.
Mak Gansa menggeram seperti banteng hendak menerjang, namun masih mampu ditahan. "Mau beli apa kau? Cepetan! Jangan buat naik pitam!"
Lelaki itu berdeham santai tanpa memikirkan emosi yang tengah memancar dari kedua mata mengintai. "Oke-oke, saya pesan ayam spesial dengan limpahan bumbu paling kental."