Apa jadinya jika pengabdi ketenangan berpacaran dengan pemuja keramaian?
Dua sisi yang saling bertentangan kini bertabrakan, hancur dan berantakan. Puing-puingnya masih ada, berserakan di mana-mana. Hampir saja melukai banyak orang yang melintas di...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"How empty everything is."
^_________^
Laki-laki dengan wide-leg jeans berwarna pudar serta jaket bomber polyester yang sudah siaga membaluti tubuh itu termangu di tempat favorit. Di halaman lengang depan kotak pos luar pagar, ia belum juga mengalihkan pandangan pada beberapa lembar surat dalam genggaman.
Bola matanya bergulir, menyorot sederet nama yang kini bahkan untuk sekadar mengetahui kabarnya saja lelaki itu tidak lagi sudi, entah mengapa. Rasa benci sepertinya sudah menguasai jiwa dan raga sejak pertama kali ia pergi tanpa permisi. Mengangkat kaki dari keharmonisan yang sempat terjadi, kemudian bersikap seolah-olah manusia paling memiliki rasa empati.
Sama seperti bulan-bulan sebelumnya, alih-alih membaca lembaran surat yang telah dikirim serapi mungkin dari seberang, lelaki itu malah mengambil korek lantas membakarnya begitu lancang menyebabkan abu-abu pekat beterbangan, menyatu dengan segala kerinduan, hingga hanya menyisakan satu amplop katalog di tangan kanan.
Lelaki itu tergesa memasukkan amplop tersebut ke dalam jaket tebal kala menyadari sang adik yang baru saja keluar dari rumah dengan seragam putih-abu terbalut classic cardigan toska yang tidak ditautkan kancingnya. Sadam tersenyum lebar, kemudian mengangkat sebelah tangan guna menyapa Mua yang lebih memilih terdiam di depan pintu sembari memperhatikan kebiasaan aneh laki-laki itu.
Setiap bulan, tanpa ada yang terlewatkan. Sadam selalu rutin mengecek surat-surat dari dalam kotak pos secara diam-diam. Membuat rasa penasaran semakin berlipat-lipat ganda menumpuk di dalam kekosongan diri Mua. Mengubah cara pandang gadis itu terhadap abangnya.
Setiap kali Mua bertanya, Sadam selalu mengaku bahwa itu hanyalah surat biasa yang dikirim dari kerabat lamanya. Namun ada satu yang membuat Mua sedikit merasa gelisah. Jika memang benar itu merupakan surat-surat dari teman lama pada umumnya, mengapa Sadam begitu tergesa-gesa dalam menghilangkan jejaknya? Lalu apa yang disembunyikan laki-laki itu di dalam jaket tebalnya?
"Adek gue cantik banget hari ini," puji Sadam seraya menyelipkan anak rambut Mua ke belakang daun telinga. "Udah siap berangkat?" tanyanya sedikit menundukkan kepala yang langsung mendapati anggukkan kecil dari wajah datar Mua.
"Oke ... caps pake motor!" serunya dengan semangat membara, membuat Mua tersenyum tipis di sana. "Nah, gitu dong, senyum. Kan cantiknya jadi plus-plus."
Gadis pemilik rambut hitam legamitu spontan memudarkan senyuman, memancing atensi Sadam untuk segera bertanya. Namun belum sempat laki-laki itu mengeluarkan suara, Mua sudah lebih dulu berkata, "Senyum itu capek, Bang."
"Senyum itu ibadah," koreksi Sadam semata-mata agar adiknya tidak salah kaprah. "Senyum itu indah."