Apa jadinya jika pengabdi ketenangan berpacaran dengan pemuja keramaian?
Dua sisi yang saling bertentangan kini bertabrakan, hancur dan berantakan. Puing-puingnya masih ada, berserakan di mana-mana. Hampir saja melukai banyak orang yang melintas di...
(Mari beri saya semangat berupa vote dan komentar kalian:)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"You shouldn't have to guess whether or not someone cares about you."
乁[ ◕ ᴥ ◕ ]ㄏ
Dari koridor kelas XI sampai melintasi anak tangga menuju ke bawah, rombongan laki-laki tampan sudah mendominasi sekolahan. Rayyan menggigit bibir sembari memasang kacamata hitam yang ia bawa, lantas mengangkat kedua tangan guna menyapa keramaian, menghebohkan banyak orang.
Di lehernya terlihat seutas tali melingkar dengan kertas karton putih bertuliskan; PACAR MUARA. Hal itu sontak memancing atensi mereka untuk segera tertawa. Namun bukannya malu, Rayyan malah ikut menanggapinya seolah mereka sedang memuji saat itu juga.
Sementara di satu sisi, bibir Mua terbuka lebar memperhatikan rombongan Rayyan yang mulai mengikis jarak, hingga beberapa detik kemudian sampai tepat di hadapannya sekarang. Mada yang berada di samping pun langsung mengerutkan dahi dalam-dalam, menelisik penampilan Rayyan yang terbilang berantakan.
Lelaki itu sedikit menurunkan frame kacamata hitam hingga tersangkut di ujung hidung runcing, lantas memandang Mada dengan tatapan sengit bercampur senyuman miring. Sedangkan Mua yang sudah menjadi pusat perhatian dari kebanyakan orang pun masih terdiam, semakin tertekan dengan keberadaan Rayyan.
"Entah kenapa kalau setiap lihat Muara, hati gue ikut berbunga-bunga," goda Pasha yang sudah melupakan Helen sebagai pacarnya.
"Awas riba," timpal Fabian membuat Daffa terbahak kencang mengabaikan keadaan. "Lagian, tipe Mua bukan lo, Bang."
"Nyes banget dengernya," sedih Pasha seolah tidak ada kesempatan lagi bagi dia. "Gue aduin Allah ntar lo pada."
"Kayak deket aja," celetuk Kalinggra yang langsung mendapat toyoran.
"Minimal kalau ngomong jangan langsung fakta!" Tirta ikut bersuara.
Satu sisi, napas Mua memburu tidak tenang. Bulir-bulir keringat sudah bertebaran. Ya Tuhan, sebenarnya apa lagi sih yang hendak laki-laki satu ini lakukan? Mua tersentak ketika Rayyan mengalungkan tali dengan gantungan kertas karton bertuliskan; PACAR RAYYAN. Mata gadis itu tunai membelalak lebar. Sementara Mada sebisa mungkin menahan kekehan.