24. Sudut-Sudut Keegoisan

127 19 5
                                        

(Jangan lupa vote dan komen)

(Jangan lupa vote dan komen)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"You will be okay. Maybe not today, but someday."

*⁠・⁠゜゚⁠(⁠^⁠O⁠^⁠)⁠↝

Rayyan menolehkan kepala secepat kilat, hampir saja melompat. Sekelebat guntur terdengar bergemuruh bertepatan dengan bayang hitam menghampiri gerbang. Cuaca memang sedang tidak stabil sejak tadi siang. Gemercik suara hujan disertai riuh angin kencang sukses membuatnya kelimpungan. Di sisi sofa ditemani segelas kopi pahit di atas meja, ia melongo memperhatikan dengan saksama perawakan seorang gadis berseragam putih biru dilengkapi raut wajah lusuh.

Degup jantung Rayyan semakin berpacu tak keruan melihat nyata bahwa adiknya tengah menangis di beranda rumah. Bibirnya masih menganga tanpa sepatah kata, bahkan untuk bertanya 'kenapa?' pun lidahnya terasa kelu seketika. Hatinya terusik kala mendengar isakan Diba. Deru napasnya sesak tiada terkira. Pikirannya melayang-layang terbawa udara, tumpul tiba-tiba.

"Kakak, TV-nya patiin, ada petir!" pekik Dania dari arah dapur, menyadarkan Rayyan bahwa sang adik sudah kabur.

Alih-alih menuruti perintah Dania, Rayyan malah mengejar Diba lantas menahan tangannya, membuat gadis itu sempat memberontak, namun tetap kalah telak.

"Lo kenapa nangis?" tanya Rayyan pelan-pelan, berupaya menenangkan Diba dalam kekacauan. "Bilang sama gue kenapa nangis?!" tegasnya ketika Diba belum juga mengeluarkan suara.

"Kenapa sih Kak teriak-teriak?" tanya Dania yang baru saja tiba, membuat mereka berdua menolehkan kepala. "Ya ampun Adek, kenapa nangis?"

Dania bergegas menghampiri kedua anaknya untuk menilik lebih jelas akan masalah yang ada. Sifat yang setara membuat mereka sama-sama keras dalam berbicara. Diba yang dikit-dikit mengeluarkan air mata serta Rayyan yang terlampau khawatir menyaksikan tangisan adiknya. Entah Diba yang terlalu manja atau Rayyan yang terlampau perhatian, pada nyatanya sikap mereka kerap membuat seisi rumah jadi salah paham. Belum juga mencapai lima langkah, Diba sudah berteriak meluapkan amarah.

"Lo yang kenapa?!" serunya kepada Rayyan, menjebak lelaki itu dalam kebingungan. "Gue telepon dipatiin! Gue kirim pesan gak dibalas! Gue tuh cuma mau minta jemput sama lo, Kak! Lo gak lihat hujannya deras dari tadi?! Gue nunggu berjam-jam! Gue kira lo bakalan datang! Tapi ternyata sampai sore pun lo gak ada nongol!"

Kedua bahu Rayyan luruh bersamaan. Deru napasnya sudah kembali normal. Sudut-sudut bibirnya mulai berkembang. "Ya elah, gue kira kenapa," tuturnya menyepelekan, kemudian menekan tombol off pada remot TV yang sejak tadi tergenggam. "Gue kira lo tuh udah kecelakaan atau habis berantem sama Hendry di tengah jalan, biasanya kan sering gitu. Ngagetin orang tahu gak."

"Terus? Lo gak merasa bersalah gitu?!" tanya Diba semakin geram, namun malah kekehan yang terdengar.

"Lo kan tahu gue lagi demam. Kemarin malam habis kehujanan, terus tadi kehujanan lagi. Kalau gue paksain buat jemput lo yang ada gue tambah sakit nanti."

MUA-RAYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang