23. Larangan yang Dilanggar

171 23 5
                                        

(Selamat membaca. Jangan lupa votmen, ya!)

"Ugh! Those feelings again

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ugh! Those feelings again."

(⁠´⁠∩⁠。⁠•⁠ ⁠ᵕ⁠ ⁠•⁠。⁠∩⁠'⁠)

Wahiya tersenyum hangat. Tangannya melambai-lambai kepada Zura yang sudah naik di atas motor sang umma. Gadis berkerudung putih menutupi dada itu membalas lambaiannya sesaat sebelum benar-benar menghilang di balik gerbang. Tak lama kemudian, terdengar suara klakson lain dari samping. Wahiya sedikit menyingkir, memberi jalan bagi Pasha dan Helen untuk melaju lebih dulu.

"Take care, Bestie!" pekik Wahiya yang kini tertinggal sendiri.

Cengiran Wahiya masih tersaji, memperlihatkan getir terbalut ceria kala melepas teman-temannya pergi. Rasanya kebersamaan itu singkat sekali, dan lagi-lagi kenyataan bahwa masing-masing manusia akan sibuk dengan urusan yang mereka cipta menamparnya. Menyadarkan betapa dunia tidak akan berorientasi hanya kepada satu orang saja.

"Enak banget jadi mereka. Zura yang bisa ke mana aja sama ibunya, Helen yang dicintai setulus itu sama Bang Pasha."

Wahiya menghela pelan. Setelah ini, ia akan kembali merasa kesepian. Mengendarai mobil sendirian, masuk ke dalam rumah tanpa ada orang, menghabiskan makanan namun pikiran tak pernah tenang, dan berakhir di atas ranjang diiringi tangisan. Ia sudah terbiasa, semestinya tidak apa-apa. Bola mata Wahiya kembali beredar, lantas berhenti ketika menangkap dua sosok yang ia kenal tengah berdiri di sisi parkiran.

Di seberang sana terdapat Mua yang tengah mematung disertai rasa bersalah. Ingin sekali ia menggenggam tangan Wahiya guna mengajaknya berbicara. Menikmati segarnya udara dan menghirup aroma secangkir teh hangat di beranda rumah mewah yang selalu terlihat tak bernyawa. Rumah Wahiya persis seperti rumah kosong tak berpenghuni. Padahal jika diulas, ia memiliki hampir semua fasilitas. Namun harta tetap tak menjamin bahagia.

"Ekhem!"

Dehaman dari belakang terdengar bertepatan dengan Rayyan menghampiri Mua usai mengeluarkan motornya. Wahiya menoleh, mendapati Lintang yang entah sejak kapan memiliki keberanian berdiri dengan jarak sedekat ini. Lelaki itu terdiam, mulai merangkai apa yang akan ia katakan. Sementara Wahiya langsung tersenyum lebar.

"Kenapa?" tanyanya memecah keheningan menjalar.

Lintang menggaruk tengkuk lumayan kikuk. Jika ia bilang sekarang, mungkinkah rasa sakit akan kembali menerjang? Jikapun selalu memendam, ia tidak akan pernah tahu kalau-kalau ada secuil harapan. Tapi ... bagaimana kalau akhir dari semuanya berupa penolakan?

Lintang menghela, memberi sedikit jeda sebelum berbicara. "Gue suka sama lo. Lo mau gak jadi pacar gue?"

Kalimatnya terlepas begitu saja, membuat Wahiya terkanjat di depan sana. Gadis itu berupaya menyelidik, kemudian menampik.

MUA-RAYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang