Apa jadinya jika pengabdi ketenangan berpacaran dengan pemuja keramaian?
Dua sisi yang saling bertentangan kini bertabrakan, hancur dan berantakan. Puing-puingnya masih ada, berserakan di mana-mana. Hampir saja melukai banyak orang yang melintas di...
(Tinggalkan bintang, dan mari spam di tiap-tiap komentar!)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"We're not from here, you and me."
♪~('ε` )
Lintang sibuk memutar-mutar sebuah ponsel di tangan. Sesekali bola matanya bergulir ke atas, menatap seorang gadis yang kini sudah menanti jawaban lugas. Lelaki itu menghela pelan, kemudian berdeham untuk mempertimbangkan.
"HP lo ini tipe lama. Kalau dijual juga gak akan tembus dua ratus."
"Yah ...," kecewa Mua di sana. "Beneran ini?" tanyanya masih tidak menyangka.
"Ngapain gue bohong?" judes Lintang mengeluarkan sifat aslinya. Pasalnya, Mua secara tidak langsung berpikir bahwa Lintang hanya mengada-ngada. Padahal demi apapun juga, ponsel Mua ini setara dengan peninggalan zaman purbakala. Kuno sekali rupanya.
"Dulu, HP ini memang nge-trend, sih. Gue juga suka sama modelnya. Tapi ya lo tahu sendiri kan sistematis penjualan itu gimana? Awal-awal launching memang mahal, tapi kalau udah ketinggalan zaman ya harga semakin kayak sampah."
"Gak bisa dinaikin lagi apa? Seratus ... aja," mohon Mua sembari bernegosiasi, kalau-kalau lelaki itu mau menurutinya kali ini.
Lintang spontan menyorot kesal. Sudah dijelaskan panjang lebar pun Mua masih tetap tidak mendengarkan. "Lagian, lo juga ngapain sih pake maksa ikut olim matematika? Susah sendiri kan jadinya!"
"Urgent," sahut Mua singkat.
Lintang melirik sinis kala gadis itu menundukkan kepala. Jika ditilik lebih lama, gelagat Mua semakin penuh akan gelisah. Tiada kata tenang terendap di dalam jiwa. Akankah gadis itu menemukan jalan keluarnya?
"Apa ini ada hubungannya sama poster lo yang diturunin tadi pagi?" tanya Lintang tidak begitu penasaran.
"Yes, that's the problem."
Alih-alih merasa iba, Lintang malah terkekeh remeh usai mendengar kemantapan kalimat yang dilontarkan Mua.
"Gue tahu kok kalau lo gak pernah mau kalah, apalagi mengalah. Tapi coba deh lo biasain hidup apa adanya, biar lo gak terlalu tertekan sama semuanya. Kalau memang poster lo udah diturunin ya itu berarti masanya udah habis, so simple. Setiap orang punya hak untuk mencapai puncak. Lo juga harus ingat, kalau hidup gak melulu tentang lo, dan semuanya gak harus sesuai dengan kemauan lo."
Mua menatap Lintang sedikit berbeda, ada rasa sesak dalam hatinya. "Gue tahu," sahut Mua yang hanya mampu meloloskan dua kata melalui bibir pucatnya.
"Paham kan sekarang?" tanya Lintang kemudian. "Ya udah, kalau gitu, lo batalin aja olim tadi."
"Tapi gue gak bisa."
Lintang memutar kedua bola mata amat kesal terhadap Mua. "Kenapa?" geramnya di sana. "Kalau tujuan lo sekolah cuma mau cari nama doang mah mending gak usah. Mending lo dropout aja dari sekarang. Daripada nantinya lo malah susah."