Bab 7

963 45 2
                                        

Pagi itu, jam pelajaran kedua. Ansel duduk di kelas sambil ngetuk-ngetuk ujung meja. Buku pelajaran terbuka, tapi otaknya nggak nyerap apa-apa. Pikirannya cuma satu: Damar Franz.

Dia melirik Agam yang duduk di bangku sebelah, lalu nyengir tipis.
"Gam, lo mau bolos nggak?"

Agam melotot kecil. "Bolos apaan? Kita kan ada ulangan fisika."

Ansel bersandar santai, bisikannya lirih tapi cukup bikin Agam penasaran.
"Ke SMA Pamore 1. Mau liat Damar. Gue pengen tau cowok yang nganter Olivia tuh kayak apa."

Agam cuma sempet menghela napas sebelum akhirnya ikut berdiri. "Ya udah, ayo. Sekalian gue pengen liat anak-anak Pamore 1. Katanya cakep-cakep."

Mereka keluar kelas pura-pura izin ke toilet, lalu langsung ngibrit ke parkiran. Motor Ansel melaju kencang menuju sekolah tetangga itu.

Begitu sampai di gerbang SMA Pamore 1, satpamnya udah ngeliatin curiga.
"Kalian dari mana?" tanya satpam.

"Pamore 2, Pak. Mau ketemu temen," jawab Ansel datar sambil ngeluarin senyum tipis yang nggak terlalu meyakinkan.

Satpamnya akhirnya nyuruh masuk, tapi dengan tatapan awas-aja-lo. Begitu masuk halaman sekolah, langsung kerasa bedanya—seragam sama, tapi atmosfernya lain. Murid-murid yang lagi duduk di taman dan kantin langsung bisik-bisik.

"Eh, itu kan anak Pamore 2..."


"Kok bisa nyasar ke sini?"


"Gila berani banget, kita kan rival..."

Agam mulai kikuk, tapi Ansel cuek. Matanya nyari-nyari target. Dan bener aja—di lapangan voli, ada seorang cowok tinggi, kulit sawo matang, postur atletis, lagi ngobrol sama temen-temennya. Damar Franz.

Ansel berhenti beberapa meter dari situ, ngamatin dari jauh.

Oke... posturnya lumayan. Tapi nggak berarti apa-apa.

Guru olahraga yang ngeliat mereka langsung melangkah mendekat. "Kalian berdua dari Pamore 2? Ngapain di sini?"

Ansel senyum tipis. "Cuma main, Pak."

Tatapan Ansel nggak lepas dari Damar. Dan ternyata, Damar nangkep itu. Dia berhenti ngobrol sama temen-temennya, lalu menoleh penuh. Alisnya sedikit terangkat, sudut bibirnya naik membentuk senyum miring.

Dia nggak langsung nyamperin, tapi sengaja lempar bola basket ke temennya, lalu jalan pelan ke arah Ansel—matanya nggak lepas dari tatapan Ansel.
Gerakannya santai, tapi jelas-jelas kayak mau bilang: "Gue tau lo liatin gue, mau apa?"

Begitu jaraknya cuma tinggal dua meter, Damar berdiri tegak, sedikit mendongak karena dia lebih tinggi setengah kepala dari Ansel. "Lo... dari Pamore 2, kan?" suaranya tenang tapi ada nada menantang.


Ansel cuma nyelipin tangan ke saku, pura-pura santai. "Iya. Kenapa?"

Damar nyengir lebih lebar. "Nggak. Cuma aneh aja, ada anak Pamore 2 nyasar ke sini. Biasanya kalau orang dateng ke kandang singa, dia punya alasan."

Agam yang di belakang Ansel udah melirik kiri-kanan, takut situasi makin panas.

Ansel nyengir tipis. "Ya... mungkin gue cuma pengen liat singanya kayak apa."

Tatapan mereka terkunci beberapa detik—saling ukur, saling tebak. Udara di sekitar seolah makin tegang, padahal belum ada yang nyentuh siapa-siapa. Temen-temen Damar mulai bisik-bisik sambil ngeliatin mereka. Situasi itu kayak duel diam-diam yang cuma mereka berdua ngerti maksudnya.

Tiba-tiba, dari arah pintu lapangan, Olivia muncul. Wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca, terlihat jelas ia bingung dan malu.

"Ansel! Kenapa kamu di sini?" suara Olivia terdengar agak panik.

Ansel dan Agam terkejut, sementara Damar menatap Olivia dengan bingung.

Olivia mendekat, lalu menatap Damar sejenak sebelum berbalik ke Ansel dan Agam dengan nada tegas. "Kalian harus pulang sekarang juga, ini sekolahku, bukan tempat kalian berantem."

Ansel mengernyit, mencoba bicara, tapi Olivia memotong, "Aku serius, kalian harus pergi."

Agam hanya mengangkat bahu, sementara Ansel menatap Olivia sejenak, kemudian mengangguk pelan. "Bye," ucap Ansel dengan senyum penuh arti.

Damar tersenyum tipis, tampak lega suasana mulai mereda. "Sebenarnya dia siapa sih? Kamu kenal dia?" tanya Damar, bingung.

"Teman," bohong Olivia.

"Keren juga temen kamu dari sekolah tetangga," ucap Damar terdengar skeptis.

"Damar, hari ini pulang bareng yuk?" ajak Olivia, jelas dia mengalihkan pembicaraan. Ia tak mau Damar tahu soal hubungan dia dengan Ansel, tidak sekarang saat kondisi masih rumit.

Dan Damar mudah terdistract. "Ayo! Tapi nanti mampir dulu ke Arcade ya?"

Olivia mengangguk antusias. "Ayo!"


**

Malam itu, udara di sekitar gang rumah Olivia terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu jalan yang berpendar temaram menambah kesan sunyi. Ansel menggenggam erat kotak kue yang dibungkus rapi, langkahnya terhenti sesaat di depan pagar rumah Olivia.

Dengan napas sedikit tertahan, ia mengetuk pintu kayu tua itu perlahan. Tak lama, pintu terbuka dan sosok mama Olivia muncul dengan senyum hangat tapi penuh keheranan.

"Ansel? Malam-malam bawa apa itu?" tanya mama Olivia sambil menatap kotak kue di tangan Ansel.

"Ini, Bu," jawab Ansel, berusaha terdengar santai walau dadanya masih berdebar. "Mama yang minta Ansel antar ini buat Ibu."

Mama Olivia menerima kotak itu dengan lembut, lalu mengajak masuk. "Ayo, kamu masuk dulu. Olivia lagi di kamarnya."

Ansel melangkah masuk ke ruang tamu, tempat aroma khas teh hangat dan wangi kue memenuhi udara. Ia duduk di sofa dan Mama Olivia duduk berhadapan, matanya penuh perhatian. "Kamu kelihatan agak berbeda, Ansel. Ada yang mengganggu pikiranmu?"

Ansel menatap lantai sejenak, lalu mengangkat wajahnya. "Sebenarnya, Bu, Ansel mau tanya... tentang Damar. Anak voli yang sering antar Olivia pulang."

Mama Olivia mengangguk pelan, matanya seakan mengerti. "Oh, Damar. Dia memang anak baik. Sudah lama suka sama Olivia, dari kelas 10."

Ansel menelan ludah, suaranya agak serak. "Apakah dia serius? Ansel... agak khawatir, Bu."

Mama Olivia tersenyum lembut. "Hati anak-anak seusia itu memang mudah berubah. Tapi Damar ini memang tulus. Kamu harus percaya pada Olivia, dan juga percaya pada dirimu sendiri."

Ansel menarik napas dalam, memandang ke jendela di sebelah, melihat langit malam yang gelap bertabur bintang. "Ansel cuma ingin yang terbaik buat Olivia, Bu. Tapi kadang Ansel merasa bingung dan... cemburu."

Mama Olivia meletakkan tangan di atas tangan Ansel, memberi kehangatan. "Cemburu itu wajar, Nak. Itu tanda kamu peduli. Tapi jangan sampai cemburu menguasai hatimu sampai lupa caramu menjaga hubungan."

Ansel tersenyum kecil, merasa sedikit lega. "Terima kasih, Bu. Ansel akan coba lebih sabar."

Setelah beberapa saat berbincang ringan, Ansel berpamitan. Langkahnya keluar dari rumah dengan pikiran yang semakin rumit, tapi hatinya sedikit lebih tenang. Di malam yang sunyi itu, dia sadar bahwa perjalanan ini akan jauh lebih rumit dari yang dia bayangkan.









TBC.

ANSELOVIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang