1;

78 7 0
                                    

 "Aku adalah Aku, dan Aku tetaplah Aku, Inilah Aku."


Gemercik air hujan masih terlihat dari balik jendela, gerimis yang membasahi dedaunan dan juga latar halaman rumah itu tidak kunjung berhenti. Hari ini adalah bulan Agustus, mengapa hujan tidak kunjung hilang sejak 3 hari yang lalu, apakah bulan ini sudah memasuki musim hujan? Ahh siapa peduli.

Aku segera bangkit dari tempat tidurku untuk melakukan rutinitasku seperti biasa. Iya, rutinitas membersihkan kamar, mandi, dan bersiap pergi ke kampus sudah menjadi rutinitasku setiap Pagi. Dan hari ini adalah hari dimana waktunya aku harus check up ke Rumah Sakit. Setelah beberapa minggu lalu aku terdiagnosis memiliki gangguan mental Bipolar Disorder oleh Dokter, kini aku harus melalukan check up rutin seminggu sekali selama 6 bulan.

Entahlah, yang jelas aku mempunyai trauma yang cukup mendalam terhadap suatu peristiwa. Itu menyakitkan, sangat menyakitkan. Aku berusaha mencari tahu apa kekurangan ku, dan aku masih mencari tahu mengapa mereka melakukan itu padaku. Itulah yang menyebakan aku terdiagnosis sebagai pasien gangguan mental Bipolar Disorder.

Alunan musik yang terdengar di kamarku membuat suasana semakin damai, alunan lagu berjudul Tenang yang dinyanyikan oleh Yura Yunita sungguh membuatku semakin tenang. Kalian yang menyukai musik pasti tidak asing dengan lagu tersebut. Musik segera ku matikan dan aku berlanjut untuk turun ke bawah menikmati sarapan pagiku sebelum berangkat ke kampus.

Di rumah minimalis dan sederhana ini aku tinggal dengan mamahku, dia wanita terhebat yang aku kenal. Dia cantik dan dia sangat baik. Orangtua ku memutuskan untuk berpisah setelah Ayahku ketahuan berselingkuh dengan wanita lain, mereka memutuskan bercerai pada 6 bulan lalu. Ayahku adalah pria yang baik, bahkan sangat baik. Entah apa yang membuatnya melakukan perbuatan seperti itu pada mamahku, namun bagaimanapun juga keputusan mereka tetap harus dihargai. Dan aku merupakan anak kedua dari dua bersaudara, kakak ku sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di Surabaya.

"Masak apa mah?" Tanyaku saat mendapati mamahku yang sedang menata masakannya di meja makan.

"Sop Ayam, kesukaan kamu!" Sahutnya.

Hampir lupa, Perkenalkan namaku Alecia Halinka, atau bisa kalian panggil dengan nama Cia. Bagus bukan? Aku juga sangat menyukai namaku. Saat ini aku merupakan seorang mahasiswa semester 6 prodi Ilmu Komunikasi di salah satu Universitas Swasta di Jakarta. Jujur saja aku merupakan tipe orang yang cuek, dingin, dan tertutup.

"Hari ini waktunya kamu untuk kontrol loh Ci!" Ucap Nina, Mamahku.

"Mau mamah antar ?" Tawarnya padaku.

Aku meneguk segelas air putih yang berada dihadapanku, "Cia bisa sendiri kok mah!" Ucapku.

"Hari ini Cia mau langsung check up, Cia gak ke kampus dulu ya mah?"Ucapku lagi.

Hari ini tiba-tiba saja aku berubah pikiran, aku mengurungkan niatku untuk pergi ke kampus, jujur saja mata kuliah hari ini cukup membosankan. Jadi aku memutuskan untuk langsung pergi ke di Rumah Sakit.

Mamahku terdiam sejenak, "Kamu baik-baik aja kan Ci?" Tanyanya khawatir.

Aku menganggukan kepalaku, "Im Fine, mah!" Ucapku.

Mamahku menganggukan kepalanya, "Iyasudah, habiskan dulu makanannya!" Ucapnya yang juga melanjutkan sarapan paginya.

Nina, iya itu nama mamahku. Cantik bukan? Sama seperti wajahnya yang cantik dan penuh rasa sabar. Sejak bercerai dengan Ayahku, mamahku tidak pernah lagi melarangku untuk melakukan sesuatu, kecuali memang beliau menganggap hal yang kulakukan adalah hal yang negatif. Tetapi, pada suatu moment, mamahku bisa saja marah dan membentakku dengan ucapan yang membuatku merasa sedih dan sakit hati. Tapi, aku cukup memaklumi jika memang sebelumnya aku membuat kesalahan yang fatal.

BIPOLAR DISORDERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang