BAB 24

8.9K 1.1K 63
                                        

Happy reading 😊

~||~

            Selain sedikit nyeri pada bagian perutnya yang terdapat jahitan, Shafira juga merasa sedikit pening pada hari pertama dan kedua saat masuk kerja namun masih bisa diatasi dengan pain killer yang diminumnya satu jam sebelum makan siang dan jam istirahat dia pakai untuk tidur karena pain killer miliknya menyebabkan kantuk. Mungkin salah satu alasannya adalah karena Shafira tidak mendapatkan duduk selama perjalanan dari rumahnya ke kantor.

Well, dia bisa saja mendapat duduk kalau dia berniat datang ke stasiun satu jam lebih awal, tetapi Shafira tidak seniat itu. Apalagi kalau ternyata ditengah jalan dia harus memberikan kursinya pada lansia atau wanita hamil, sia-sia saja di stasiun satu jam lebih awal.

Sampai saat ini Sarah belum bisa mendapatkan kamar kost untuknya dan Shafira berfikir untuk tidak jadi menyewa kamar kost, karena dua hari kemarin dia berhasil naik kereta tanpa masalah.

Hari ke enam pasca kecelakaan atau hari ketiganya masuk kerja, Shafira sudah memiliki strategi agar perutnya tidak terlalu tertekan selama di dalam kereta sehingga dia tidak perlu merasakan nyeri yang masih juga terasa hingga kini.

Yaitu, Shafira memutuskan untuk pulang agak malam agar bisa lebih nyaman selama didalam kereta dan Papanya akan menunggu di stasiun setengah jam lebih awal. Walaupun Shafira dilarang untuk keluar stasiun dan akan dijemput didalam stasiun itu tidak masalah untuknya karena dia pun masih agak trauma dengan kejadian itu walaupun dia tidak begitu ingat detailnya.

"Fir hari ini ada meeting besar buat Annual report, ikut ya," pinta Anjani saat dia hendak ke mejanya dan memutuskan untuk mampir ke meja Shafira.

"Ikut bu soalnya bu Ita gak bisa ikut, ada meeting sama vendor. Sesuai agenda kemarin kan?"

"Iya jam setengah 2 sampai jam 5 sore. Semoga aja gak ngaret ya. Aku mau diner sama suami," ujarnya membuat Shafira tertawa. "Anyway, gimana keadaan kamu? udah enakan?"

Shafira langsung melotot pada Anjani karena dia sudah meminta Anjani untuk merahasiakan hal memalukan yang dialaminya minggu kemarin.

"Oops," seru Anjani tidak terlihat bersalah.

"Aku baik-baik aja, bu. Makasih udah ingetin," ucap Shafira sedikit kesal namun perempuan itu tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat melihat wajah Anjani.

"Makan siang dimana?"

"Grand Indonesia yuk? Udah lama nih gak nge mall sama lo," celetuk Dinar masuk ke dalam percakapan.

"Yuk refreshing sebelum meeting," sahut Anjani. "Ta, ikut gak lo?" Anjani menatap Ita -atasan Shafira yang sedang fokus menatap layar laptopnya.

"Skip dulu, gue lunch diluar aja sama Amelia. meetingnya di Jakarta timur, takut telat." Ucapnya tanpa menatap Anjani.

"Yowes lah, kita-kita aja," seru Anjani. "Dinar, kalau Cindi balik ajakin ya biar rame." Pesan Anjani kemudian perempuan itu berjalan menuju mejanya.

Shafira memandang Atasannya itu sebentar kemudian menatap Amelia yang duduknya tepat didekat Ita. Sejak Amelia bekerja di kantor, Shafira merasa perempuan itu selalu menempel kemanapun atasan mereka pergi. Bahkan Amelia sempat meminta Bu Ita agar dia yang menggantikan Shafira pergi dan langsung disetujui begitu saja. Entahlah, Shafira merasa Amelia seperti sedang ingin mengambil pekerjaannya.

His PromisesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang