Ada papan kayu terukir besar bertuliskamn MJ Law Firm, saat akhirnya Kim Jiho sampai di lantai tiga sebuah gedung tengah kota Seoul itu. Tercengang beberapa saat ketika menyadari kantor tersebut sungguh melebihi ekspetasinya; perempuan ini ingat bagaimana saat kemarin bertemu dengan CEO tempat kerja barunya, orang itu selalu merendah dengan mengatakan bagaimana kantor mereka terlihat berantakan dengan pegawai yang agak sembrono.
Namun kenyataannya ketika akhirnya Jiho sampai di sini; ia tak habis-habisnya dibuat takjub.
Dari luar saja sudah terlihat memanjakan mata dan semuanya jadi lebih menakjubkan lagi saat masuk.
"Ada yang bisa aku bantu, Nona?"
Sapaan dengan suara manis yang masuk ke telinga, mengalihkan perhatian Jiho dari papan nama mewah kantor barunya. Menoleh ke sumber suara, seorang wanita cantik bertubuh mungil terlihat tersenyum ramah padanya, mengundang langkah Jiho mendekat, ada sebuah papan hitam dengan nama 'Choi Hyojung' yang ditulis dengan warna perak serta keterangan resepsionis di sana.
"Aku ingin menemui Tuan CEO Kim Myungjun," ia menjeda kalimatnya. "Tapi kalau tidak membuat janji, apakah bisa bertemu?"
Dia yang jadi lawan bicara terkekeh. "Untuk Nona Kim Jiho, CEO Kim Myungjun sudah meluangkan waktu khusus..."
Untuk sejenak, Jiho dibuat terkejut dengan Hyojung yang bisa mengetahui namanya. Tapi ketika ingat jika ia sengaja memakai name tag untuk memperjelas identitasnya, dalam hati wanita itu berbalik merutuki diri sendiri.
"Jadi Anda tidak perlu janji-- Oh! CEO!"
Lagi, atensi Jiho dipaksa dialihkan saat melihat perempuan itu tiba-tiba saja melambai pada satu sosok lelaki yang baru saja keluar dari lift. Tersenyum sampai memperlihatkan 'pipi apel' yang menggemaskan, walau yang muncul adalah pemilik dari firma hukum tersebut, tapi nampaknya tak ada kecanggungan antara pegawai dan atasan --seperti yang dirinya rasakan-- di sana.
"Hyojung-ssi~" ia memanggil nama itu dengan nada flamboyan. "Kau masih sangat cantik seperti biasa," katanya sembari meraih jemari perempuan itu. "Terimakasih masih tetap bekerja keras walau di cuaca panas seperti ini," dan tanpa peringatan apapun, langsung mengecup punggung tangan si resepsionis.
Kemudian tak seperti Hyojung yang nampaknya sudah biasa diperlakukan demikian, Jiho terlihat menahan nafasnya. ia ingat apa yang Eunwoo katakan padanya saat makan malam penyambutan kala itu; Kim Myungjun sama sekali tak bermaksud melecehkan para pegawainya, dia hanya orang yang sangat ramah sampai terkesan memperlakukan semua orang dengan berlebihan.
"Ohahaha, maaf Jiho-ssi," tanpa diperingatkan ia menyapa Jiho yang jelas memaksa senyumnya, tapi Myungjun sepertinya tak masalah dengan itu. "Aku sampai tak menyadari keberadaanmu..."
Kali ini tertawa hambar; mau bagaimana pun rasanya agak sedikit sulit melihat kelakuan berlebihan ini sebagai keramahannya.
"Dan kau sangat cantik sekali hari ini..." dia memperhatikan gadis itu dari bawah hingga atas. "Blouse coklat yang senada dengan celana kainmu sangat pas dipadukan dengan sepatu hitam dan ponytail rendahnya...."
Sungguh, komentar detailnya tentang penampilan Jiho dihari itu membuatnya merasa seperti bertemu dengan seseorang yang bekerja di bidang fashion ketimbang mengelola firma hukum seperti ini.
"Oh, jangan salah paham Jiho-ssi. Aku hanya bermaksud mengingatkanmu jika penampilan juga sangat penting bagi seorang pengacara dan kau sepertinya sudah memenuhi itu."
"Bu-bukan begitu Tuan CEO..." Myungjun yang nyatanya sadar dengan tatapan yang tak bisa memaklumi sikap CEO-nya itu jelas membuat Jiho merasa tak enak. "Aku sangat berterimakasih atas pujianmu..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Uri Appa✔
FanfictionJaemin dan Jeno pikir keluarga yang mereka miliki sekarang sudah lebih dari cukup; keduanya sama sekali tak memerlukan sosok 'Ayah' dihidupnya. Sampai ketika Kota Seoul mempertemukan mereka dengan sosok yang bahkan tak pernah ada sejak sepasang kemb...
