Suara yang terdengar memasuki telinga beserta dengan guncangan kuat pada tempat tidurnya membuat lelap Jaemin terganggu.
Suara berat yang terus-terusan memanggil namanya tanpa henti itu jugalah yang mau tak mau memaksa mata berat itu òmembuka. Membiarkan cahaya yang cukup menyakiti mata masuk, sebelum tubuh kemudian dipaksa melawan gravitasi kasurnya; sesuai dugaan, memang Jeno-lah orang yang menganggu tidur Jaemin.
"Sarapan."
Satu kata singkat yang diucapkan nyaris tanpa intonasi itu membuat kening Jaemin berkerut dalam. Memandangi saudara kembarnya bingung, kesadaran jelas belum sepenuhnya kembali.
"Lupa kalau hari ini kita harus beberes barang?"
Pertanyaan itu, entah bagaimana bisa dengan sekejap mengumpulkan sadar Jaemin yang beberapa saat lalu seperti enggan kembali. Tanpa merubah posisi, ia memandang sekitar; Kamar dengan cat biru denim itu harusnya memang terasa asing baginya yang baru menghuni kemarin.
"Ah, benar," Jaemin menjawab. Segera ia menggeser diri ke ujung kasur tingkat mereka. "Ibu minta kita bangun lebih pagi... " Sembari menjeda kalimatnya, ia menuruni tangga kecil ranjang tingkatnya. "Untuk menata barang yang akan datang hari ini."
Jeno merespon dengan mengangkat alisnya. "Maka segeralah cuci wajahmu. Kami akan menunggu di meja makan."
Berbaliknya si saudara kembar tanpa sempat Jaemin cegah, membungkam mulutnya. Mengurungkan niat untuk bertanya tentang satu hal begitu kata 'kami' memasuki telinga, ia yang melihat punggung Jeno menghilang dibalik pintu kamar kemudian menghela nafas. Alisnya naik, sebelum kemudian mengikuti apa yang Jeno lakukan; melangkah keluar dan ketika kakinya menapak ruang tengah, seketika bau omelet buatan sang ibu menguar memenuhi ruangan.
"Kau pasti bekerja sangat keras kemarin sampai perutmu sudah berbunyi begitu keras sepagi ini."
Teguran Kim Jiho dengan penampilan dan wajah yang lebih terlihat dewasa menandakan jika yang terdengar barusan bukanlah sekedar 'suara kecil perut' biasa; Jaemin sepertinya memang benar-benar sangat lapar.
"Pagi, Eomma..." tak menanggapi teguran ibunya, Jaemin justru melemparkan sapaan selamat pagi. Volume suaranya mengecil seiring dengan mata yang bergulir menuju meja makan; Jeno terlihat duduk sendirian dan raut wajah lelaki itu jadi kecewa karenanya.
"Ayah mana?"
"Dia bilang akan datang kesini bersama dengan truk barang, jadi minta kita makan saja dulu."
Alis kembali terangkat, niatnya untuk mencuci wajah sirna. Langsung berjalan menuju meja makan, kursi di samping Jeno Jaemin duduki.
"Sudah kubilang, cuci mukamu dulu!" Jeno tiba-tiba saja berseru, wajah yang semula fokus pada ponselnya kini memandangi Jaemin yang justru cengengesan melihat kekesalan si kakak kembar; sengaja ia menguap lebar dengan kepala dihadapkan ke Jeno, membuatnya jengkel merupakan suatu kesenangan sendiri bagi si adik.
"Habis makan juga akan sikat gigi, jadi nanti saja, sekalian" Jaemin menyahut setelah uapannya selesai. Sama sekali tak merasa bersalah dengan ekspresi kesal Jeno, kepalanya beralih pada sang ibu yang sepertinya masih belum akan selesai dengan kegiatannya. "Apa ada yang bisa kubantu, Eomma?"
Wanita itu mengalihkan atensi, Jaemin yang lebih aktif daripada Jeno itu jelas tak betah jika hanya harus diam menunggu makanan siap. "Bagaimana dengan membuang sampah?"
Pandangannya mengikuti kemana arah sang ibu menatap; tepat di samping kulkas, ada sebuah plastik hitam yang cukup besar.
"Aku tak mau menemani, ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Uri Appa✔
FanfictionJaemin dan Jeno pikir keluarga yang mereka miliki sekarang sudah lebih dari cukup; keduanya sama sekali tak memerlukan sosok 'Ayah' dihidupnya. Sampai ketika Kota Seoul mempertemukan mereka dengan sosok yang bahkan tak pernah ada sejak sepasang kemb...
