"Happy birthday to me ... Fuhh."
Sebelum meniup lilinnya, Valerie Rowena mengucapkan suatu permohonan di hari ia berulang tahun ke-19 ini. Walau tidak terlalu berharap bakal terkabul, tidak ia sangka keinginannya untuk bisa hidup nyaman ala orang ka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
≪•◦ Happyreading ◦•≫
Fiona telah berada di dalam mansion, melihat Clara dan Yolanda diikuti tiga asisten rumah tangga yang menarik 3 koper dari belakang sedang berjalan menuju pintu keluar. Dia simpulkan Clara sudah akan pergi ke apartemen, dan Yolanda mau mengantarkannya.
"Ibu," panggil Fiona membuat Clara menoleh. "Kuharap Ibu nyaman di sana," lanjutnya menyeringai tipis.
Fiona melewati Clara dengan santai, tidak peduli saat sekilas melihat wajah Clara yang seolah menahan diri mencakarnya. Yolanda sendiri hanya diam, sejujurnya dia heran atas sifat Fiona akhir-akhir ini. Fiona biasanya jarang peduli pada sekitarnya, hanya ekspresi datar dan dingin yang sering ditunjukkannya. Tapi sekarang Fiona lebih aktif berekspresi, terutama saat menyeringai dan berkata panjang, ini membuat Yolanda lumayan takut dan harus memasang sikap waspadanya.
Kini Fiona menaiki tangga dan sudah sampai di depan kamarnya. Saat dia berniat memutar gagang pintu, tiba-tiba pintu kamar Olivia yang berada tepat di sebelah kamarnya terbuka dan menampilkan si pemilik kamar. Tiba-tiba dia ingat sebelumnya mau menanyakan sesuatu kepada Olivia.
"Mau ke mana?" tanya Fiona berbasa-basi dahulu.
"Ke dapur, mau ambil snack," jawab Olivia.
"Oh." Fiona menggeser tubuh sedikit untuk menghadap Olivia. "Aku mau nanya sesuatu. Kamu manggil papa 'ayah', kan? Kenapa gak 'papa' aja?"
"Ah itu, Kakak pasti ingat waktu mama dan ayah masih sama-sama ya?" Olivia menunduk dengan senyuman sendu. "Dulu aku manggil ayah 'papa', sama seperti Kakak. Tapi setelah mama dan ayah cerai terus aku kembali ke sini, rasanya canggung banget. Apalagi pas lihat ayah makin dingin, aku selalu tegang kalo mikir mau manggil dia 'papa' lagi."
"Hm ... bener juga. Karena setiap aku manggil dia papa dan lihat wajah dinginnya itu, bulu kudukku pasti berdiri," ujar Fiona berpose serius.
Olivia tertawa pelan. "Tapi aku yakin, meski ayah kelihatan dingin, diam-diam dia pasti perhatian. Dia kayak serigala dengan pita merah muda."
"Ah aku bisa bayangin," gumam Fiona mengangguk setuju.
Percakapan Fiona dan Olivia berhenti ketika mendengar suara langkah kaki. Keduanya spontan menoleh, terdiam tegang melihat Narendra mendekat. Dalam hati, mereka sangat berharap Narendra tidak mendengar obrolan, lebih tepatnya ghibahan mereka tadi.
Narendra berhenti di dekat Fiona dan Olivia. "Ada apa?" tanyanya heran melihat ketegangan kedua putrinya.
Fiona dan Olivia saling berpandangan sesaat kemudian menghela nafas lega karena nampaknya Narendra tidak tahu isi pembicaraan mereka tadi. Narendra sendiri semakin heran saat melihat reaksi kedua gadis tersebut.
"Bukan apa-apa," jawab Fiona sambil membuka pintu kamarnya. Sebelum masuk, dia melirik Olivia. "Liv, bisa temenin aku ke mall sekarang?" Fiona tidak berniat membatalkan rencana belanjanya hari ini, untunglah kerja kelompok tadi selesai dengan cepat.