"Happy birthday to me ... Fuhh."
Sebelum meniup lilinnya, Valerie Rowena mengucapkan suatu permohonan di hari ia berulang tahun ke-19 ini. Walau tidak terlalu berharap bakal terkabul, tidak ia sangka keinginannya untuk bisa hidup nyaman ala orang ka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
≪•◦ Happyreading ◦•≫
Esoknya, di sekolah. Setelah menaruh tasnya ke bangkunya sendiri, Fiona keluar kelas dan berkeliling sekolah untuk menghapal letak-letak bagian wilayah Xavier HighSchool. Sesudah itu, barulah ia kembali ke kelas XII-1 MIPA tepat saat bel masuk tinggal 5 menit lagi berbunyi. Dapat dia lihat, kelas sudah ramai sekarang, berbeda dengan tadi pagi saat baru hanya ada dirinya dan lima orang siswi saja.
Fiona duduk di bangkunya, melirik ke luar jendela sambil menopang dagu. Sama seperti biasanya, sekarang pun dia tidak pernah terlihat seperti gadis cupu kesepian tetapi malah nampak keren dengan aura dinginnya. Inilah yang membuat beberapa orang diam-diam mengaguminya, meski ada juga yang membenci karena menganggap dirinya sombong, tapi baik Fiona asli atau Valerie tidak memedulikannya.
Sikap dingin Fiona ini juga membuat orang lain ragu mendekatinya duluan. Setidaknya sampai sekarang karena hari ini Chiara tiba-tiba sudah berdiri di samping kirinya dan menyapanya. Orang-orang di kelas tentu terkejut melihat kejadian ini, terlebih ketika Fiona mau membalas sapaan itu.
"Fiona, pagi!" sapa Chiara. "Dari mana? Sejak pagi gue lihat cuma ada tas lo di sini."
"Pagi." Fiona menyenderi bangkunya seraya menurunkan tangan kanannya dari posisi menopang dagu. "Tadi gue kecepetan datengnya, jadi keliling sekolah."
Bisikan-bisikan mulai terdengar dari seluruh penjuru kelas XII-1 MIPA, isi topik membicarakan Fiona akhirnya terbebas dari kutukan es Elsa, absurd sekali menurut Fiona. Gosip lainnya membicarakan Chiara yang berhasil melelehkan 'es batu' lagi, Fiona pun penasaran karena kata 'lagi' itu, siapa 'es batu lain' yang mereka maksud? Daripada penasaran, ia langsung menanyakannya kepada Chiara.
"Apa maksudnya lo ngelelehin es batu lain juga?" tanya Fiona.
"Pacar gue kan tipe-tipe kulkas kayak lo," jawab Chiara kemudian duduk di atas meja Fiona.
"Lo punya pacar? Siapa?" tanya Fiona.
Chiara mengerutkan dahi. "Gue tahu lo jarang peduli sama sekitar, tapi masa lo gak tahu couple utama kelas kita? Gue sama Evan! Pacar ter-sweet, ter-uwu, ter-romantis, ter-ter lah~."
Evan? Serigala berbulu domba itu? pikir Fiona tertegun sesaat.
"Yee bucin alay!" celetuk Yolanda yang duduk di barisan belakang, pojok kiri.
"Dih iri bilang! Lo kan ngejar-ngejar Ethan mulu sejak kelas 10 tapi gak pernah dapet, kasihan dicuekin mulu," ejek Chiara.
Fiona menatap datar saja kedua gadis itu yang sedang beradu tatapan tajam. Tatapannya lalu jatuh pada Ethan yang duduk paling belakang, samping Yolanda. Meja dan bangku di kelas itu memang milik masing-masing, tidak disatukan menjadi memanjang. Bisa ia lihat, Ethan memijit dahinya kesal sebab disangkutpautkan dalam topik perdebatan kedua gadis tersebut.