11 - Kesehatan Mental

21K 2.6K 28
                                        

≪•◦ Happy reading ◦•≫

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

≪•◦ Happy reading ◦•≫

Beberapa menit sebelumnya, setelah keluar dari ruang UKS, Ethan sampai di suatu bagian taman sekolah yang sepi dan berjongkok di sana selama sekitar kurang lebih 30 menit. Kalau dilihat dari dekat, keadaannya sangat kacau. Kedua bahunya bergetar, dan keringat dingin mengalir pada wajah dan telapak tangannya yang pucat.

Jantung Ethan berdetak sangat cepat saat sekilas ingatan muncul di pikirannya. Ingatan yang selalu saja muncul ketika ia melukai fisik orang lain, entah secara sengaja atau tidak. Dengan kuat, ia menarik rambutnya, berharap dapat menepis ingatan itu dan meredakan rasa pusingnya. Tapi tidak berhasil, kejadian 6 tahun lalu itu terputar jelas tanpa bisa dicegah.

6 tahun lalu, di sebuah ruangan kerja dalam mansion utama Madison, ada tiga orang di sana, salah satunya pria paruh baya berusia 35 tahun sedang meremas kertas rapot putranya, di dekatnya dua anak laki-laki berlutut.

"Memalukan," gumam si pria dewasa, Gavin Ferench Madison. Dia menatap kecewa putranya, Ethan yang berlutut takut di hadapannya. "Kenapa selalu ke dua? Apa kamu gak bisa sekali saja dapat peringkat satu? Bagaimana Ayah membanggakanmu di hadapan omamu kalau kamu selalu berada di bawah 'parasit' itu?!"

"Ma-maaf, A--"

PLAK

Ethan yang berusia 12 tahun kala itu menahan isakan tangis, berusaha tidak memedulikan rasa sakit di pipi kirinya sehabis ditampar Gavin. Dia sudah biasa mendapatkan tamparan setiap rapotnya dibagikan, alasannya cuma satu, karena dia mendapatkan peringkat 2 dan tidak pernah bisa menyaingi 'parasit itu', Raymond.

"Kau parasit! Dasar rubah licik, sama saja seperti Kakakku!" Gavin beralih mencengkram dagu Raymond dengan kuat. "Selama ini kamu terus menarik perhatian omamu supaya mendapat perusahaan utama Madison, kan? Itu yang diajarkan kakakku, bukan? Tapi sekarang kau tidak boleh bertindak seperti itu lagi. Ayahmu sudah tiada, dia menyusul ibumu! Kalau kau mau hidup tenang, maka mulai sekarang berhenti menarik perhatian omamu!"

"Pa-paman, ini sakit," lirih Raymond.

Ethan hanya diam saat melihat Gavin menunjukkan ikat pinggang setelah melepas dagu Raymond. Dia tahu jelas apa tindakan ayahnya selanjutnya. Ia menunduk, menutup mata, berusaha menulikan telinga meski tidak bisa.

Suara cambukan ikat pinggang yang mengenai tubuh Raymond dan kata-kata mohon ampun disertai isakan tangis terdengar. Ethan menanamkan kata 'jangan peduli' dalam pikirannya, karena tahu dia bisa terlibat masalah dengan ayahnya kalau ikut campur.

"Hm ... bagaimana kalau aku buat aturan menarik?" ujar Gavin saat berhenti mencambuk Raymond.

Ethan sontak mendongak, membuka mata, melihat Gavin menyeringai ke arahnya dan Raymond yang sudah berlutut kesakitan di sampingnya.

"Aturannya begini. Kalau Ethan dapat peringkat 1, mengalahkan Raymond, maka kalian berdua tidak akan dihukum. Tapi kalau Raymond dapat peringkat 1, dan Ethan peringkat 2, maka kalian berdua akan dihukum." Gavin menatap Ethan sambil menyodorkan ikat pinggang. "Spesial untuk putraku. Kalau kamu dapat peringkat 2, tapi pengen lolos dari hukuman maka hanya ada satu cara, berikan hukumanmu ke Raymond menggunakan tanganmu sendiri."

Miss Scapegoat Changed Her Destiny ✔ EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang