17 - Terungkap

17.8K 2.5K 95
                                        

A/N :

AAAAA kaget banget dapat banyak notif kemaren. Tiba-tiba jumlah yang baca dan vote-nya naik. Dan sekarang peringkat 5 fantasi juga. Uwaaa, makasih banyak ♡(∩o∩)♡

Udah gitu lihat ada yang komen 'next', 'semangat' gitu. Duh berasa ditungguin. Otakku langsung mikirin alurnya dan tangan ini pengen cepat-cepat publish.

Sekian dulu deh curhatannya ฅ'ω'ฅ. Selamat membaca. Jangan lupa vote dan komen!

 Jangan lupa vote dan komen!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

≪•◦ Happy reading ◦•≫

"Ray!" panggil Fiona menarik wajah Raymond menghadapnya.

Seketika Raymond tertarik dari alam bawah sadarnya. Ia kaget saat melihat Fiona menatapnya khawatir, apalagi sambil menangkup wajahnya.

Suara Fiona memang tidak terdengar karena suara berisik akibat sorakan, namun tindakannya ini jelas menarik perhatian semua orang yang sontak terdiam kemudian menatap mereka penasaran. Fiona melirik kerumunan tamu sekilas, menyadari tindakannya.

"Selamat ulang tahun, Ray," ujar Fiona menurunkan tangannya.

Raymond melihat mata Fiona masih menunjukkan kekhawatiran. Dia sadar gadis itu sengaja mengucapkan selamat untuk menjelaskan situasinya kepada para tamu sebab tidak mungkin dia bertanya kenapa dirinya gemetaran tadi. Ternyata Fiona sangat peka dan tahu hal ini sebaiknya tidak diungkit di hadapan banyak orang.

"Makasih, Fiona." Raymond memeluk Fiona memunculkan siulan menggoda dari teman-teman sekolahnya. "Gue baik-baik aja," bisiknya.

Fiona yakin Raymond tadi mengingat trauma masa kecilnya, meski ia tidak tahu kenapa secara tiba-tiba karena jelas tidak ada pemicunya. Tangannya terangkat, ingin mengelus punggung Raymond untuk menenangkannya.

Tapi tiba-tiba terdengar ringisan pelan keluar dari mulut Raymond sehingga Fiona tersentak dan segera menurunkan tangannya yang sempat menyentuh punggung laki-laki itu.

"Duh, udah dulu romantis-romantisnya. Sekarang ayo potong cake-nya," ujar Zea.

Raymond melepas pelukannya sambil mengangguk. Ia kemudian memotong cake ulang tahunnya, menaruhnya ke piring kecil yang sudah disediakan. Ia beralih melirik Zea yang menjauh dan mengangkat smartphone seolah ingin memfoto, tidak lupa sebelumnya Zea mengedipkan mata, memberi kode kepadanya untuk menyuapi Fiona saja.

Raymond tersenyum melihat tingkah omanya. Dia kemudian menyodorkan sepotong cake ke arah Fiona. "Buka mulut lo, Fio."

Fiona yang tidak ingin mengacaukan suasana pun menuruti. Dia membuka mulut, menerima suapan Raymond. Seketika tepukan tangan terdengar kembali di seluruh penjuru aula.

Setelahnya pesta dilanjutkan dengan mempersilahkan seluruh tamu undangan memakan makanan yang sudah disediakan sambil menikmati hiburan berupa dance dan nyanyian dari artis papan atas yang diundang, hiburan itu berada di atas panggung yang sudah disiapkan di dalam aula.

Miss Scapegoat Changed Her Destiny ✔ EndCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang