"Happy birthday to me ... Fuhh."
Sebelum meniup lilinnya, Valerie Rowena mengucapkan suatu permohonan di hari ia berulang tahun ke-19 ini. Walau tidak terlalu berharap bakal terkabul, tidak ia sangka keinginannya untuk bisa hidup nyaman ala orang ka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
≪•◦ Happyreading ◦•≫
Beberapa menit yang lalu, di kamar Narendra. Si pemilik kamar tengah mengarungi dunia mimpi, yang memutar ingatan masa lalunya.
Di mimpinya, kala itu Narendra dan Fiona kecil yang berusia 12 tahun memasuki mansion Serenity. Suasana cukup canggung dan hening. Karena mulai hari ini hanya mereka berdua pemilik mansion itu, sebab sidang perceraian Narendra sudah selesai yang berarti Rossa dan Olivia sudah pergi dari tempat tersebut.
Narendra menghela nafas pelan dan menyibak rambut depannya, masih tidak percaya keluarganya terpecah seperti ini cuma karena keegoisannya dan Rossa. Dia kemudian melirik Fiona yang saat ini menatapnya polos.
Fiona mengangguk tenang sebagai jawaban. "Papa kayaknya yang gak baik-baik aja."
"Papa sedih aja, tapi ini pasti cuma sebentar. Karena Papa ingat kan masih ada Fiona di sini," balas Narendra mengelus rambut Fiona.
Narendra mengingat jelas. Hari itu, Fiona memeluknya dan mengatakan 'aku juga baik-baik aja karena Papa ada di sini'. Tapi anehnya sekarang Fiona hanya diam memandangnya.
"Fio--"
"Tapi aku juga bakal pergi, Pa," sela Fiona menatap datar.
Hembusan angin disertai air hujan mengenai Narendra dari samping membuatnya sontak menutup mata. Ketika membuka mata kembali, ia malah berada di tempat pemakaman, langitnya nampak mendung disertai angin kencang dan rintikan hujan.
Narendra menoleh saat mendengar suara tangisan dari sampingnya. Dia bisa melihat pemilik suara itu adalah Olivia. "Olivia?"
"Ini salah aku, Yah. Harusnya aku percaya sama Kakak," isak Olivia.
"Apa--"
"Kakak mati karena aku! Aku jahat! Aku adek yang jahat, Yah! Kak Fiona, maafin aku." Olivia memegang nisan gundukan tanah di depannya yang tertera nama Fiona Arsha Serenity.
Membaca nama di nisan itu, mata Narendra membulat. Tubuhnya lalu tersentak, dan seketika ia terbangun dari tidurnya. Dia segera bangkit duduk dengan nafas terengah-engah.
Narendra memandang sekitarnya, ini kamarnya. Ternyata cuma mimpi, pikirnya menghela nafas lega. Untuk menenangkan pikirannya, dia ingin melihat Fiona. Dia lalu menarik salah satu laci di nakasnya dan mengambil sebuah kunci dari sana yang adalah kunci cadangan kamar Fiona. Dia memang menyimpan kunci cadangan seluruh ruangan di mansionnya.