Sore hingga menjelang magribh mereka tidur bersama di mobil yang cukup sempit dengan gerak mereka yang terbatas. Setelah perdebatan yang cukup panjang dengan isi pikiran mereka masing-masing, tidur adalah cara terbaik untuk melupakannya sejenak.
Tesar adalah orang pertama yang bangun, melihat Shafira yang tertidur nyenyak membuatnya tidak tega untuk membangunkannya. Namun waktu magribh sebentar lagi tiba, dia harus ke Masjid untuk melaksanakan sholat magribh.
"Apa aku gendong saja?" Dia menggeleng
"Bagaimana kalau dia marah?" Cetusnya, namun dia tidak punya pilihan lain. Dia tidak tega membangunkan Shafira yang semalaman begadang dan mana mungkin dia tega meninggalkan istrinya sendirian di dalam mobil sedang dia naik ke apartemen mereka. Jika hal itu terjadi Arsen akan merajamnya, Shafira adalah harta yang paling berharga bagi laki-laki itu, dia tidak mau anaknya sampai diperlakukan dengan cara seperti ini, meninggalkannya sendirian di mobil.
Keputusan finalnya adalah Tesar harus menggendong Shafira, dengan algoritmanya dia menghitung kemungkinan sampai serta kecepatan yang harus dia tempuh agar mereka sampai dengan selamat dan Shafira tidak terganggu tidurnya.
"Sepuluh menit" ucapnya dia harus sampai dalam waktu sepuluh menit. Menggendong Shafira menuju lift memakan waktu tiga menit, apartemen mereka berada di lantai sepuluh maka membutuhkan waktu paling lama lima menit dengan waktu mengantrenya. Karena ini jam pulang kantor kemungkinan lift akan penuh, tangga darurat adalah pilihan yang sangat tidak mungkin, bisa-bisa dia tipes karena menggendong beban berat cukup lama.
Dengan algoritma serta kemungkinan yang dia pikirkan, akhirnya mereka sampai dengan selamat di apartemen dengan Shafira yang masih tertidur pulas. Ya Shafira memang seperti orang yang meninggal jika sudah tidur, sangat sulit dibangunkan. Setelah membaringkan Shafira di kamarnya, dia bersiap untuk ke Masjid yang tak jauh dari Apartemennya untuk melaksanakan sholat magribh.
"Sha, bangun sholat magribh." Tesar membangunkan Shafira yang masih pulas sepulangnya dari Masjid.
"Sha, ayo bangun dulu yuk." Shafira yang tidur meringkuk seperti bayi menggeliat.
"Emangnya sudah jam berapa Mas?" Tanyanya dengan mata yang masih tertutup.
"Setengah jam lagi pukul tujuh malam, Sha."
"Hah? Udah magribh emangnya?" Tanyanya.
"Iya Shafira.. makanya aku dari tadi bangunin kamu sholat magribh biar nggak kelewat waktunya." Shafira membuka matanya, baju yang dikenakannya masih sama dengan baju yang dikenakannya ke kampus tadi. Itu berarti dia?
"Kamu gendong aku dari basement sampai kamar?" Mata Shafira membulat, Tesar mengangguk.
"Memangnya Mas itu hulk apa? Kenapa nggak bangunin aja sih Mas? Tulang Mas nggak ada yang patah kan gendong beban lebih dari 40 kilo?" Tesar menggeleng, mengapa istrinya bisa semenggemaskan ini?
"Sha, masih lama ngomelnya? Waktu magribh sisa sebentar loh ini." Buru-buru perempuan itu beranjak dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Tesar tentu saja keluar dari kamar Shafira, seumur hidup dia baru pertama kali melihat rambut Shafira di Zurich, selebihnya Shafira selalu memakai jilbab di apartemen dan Tesar tidak pernah masuk sembarangan di kamar perempuan itu.
***
Satu minggu mengerjakan skripsi, waktu makan tidak teratur dan terkadang terlupakan, waktu tidur yang berantakan, serta terlalu memaksakan diri akhirnya membuat Shafira tumbang begitu saja. Dia langsung demam dan muntah-muntah, Tesar tidak tega meninggalkan perempuan itu sendirian di apartemen mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumah Ternyaman
Romantik🥇#1 menangis - 2 Februari 2022 Dokter Tesar, Dokter bedah umum dengan subspesialisasi dalam operasi hepatobilier & pankreas, lelaki cerdas yang sudah lama menaruh hati kepada Shafira yang bercita-cita menjadi Penerjemah dan Penulis. Namun, lelaki i...
